Pendidikan Karakter, Krusial di Era Globalisasi

Kamis, 5 Okt 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Bagaimana peran pendidikan dalam pembangunan karakter bangsa? Persoalan inilah yang dibahas dalam focus group discussion bertajuk ‘Strategi Kebudayaan Kontekstual dalam Pembangunan Karakter Bangsa’.

FGD seri ke-4 ini diadakan Persatuan Purnawirawan TNI-AD (PPAD), Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan TNI-Polri (FKPPI), dan Yayasan Suluh Nusantara Bhakti (YSNB), di Jakarta, Selasa (3/10).

Diskusi ini dalam rangkaian menjelang Simposium Nasional Kebudayaan bertema ‘Pembangunan Karakter Bangsa untuk Melestarikan dan Mensejahterakan NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945’ pada November 2017.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Komarudin Hidayat, yang menjadi narasumber diskusi dengan topik ‘Pendidikan sebagai Penjuru dalam Pembangunan Karakter Bangsa’, menegaskan, pendidikan karakter menjadi krusial di era globalisasi dewasa ini.

Menurutnya, para orangtua dan sekolah dihadapkan pada kondisi sosial yang selalu bergerak mengikuti logika dan selera pasar. Pola asuh anak yang sebelumnya masih dikontrol kuat oleh lingkungan keluarga, masyarakat, dan budaya homogen, kini telah bergeser.

“Masyarakat saat ini terpapar simbol-simbol yang tidak mewakili realitas sejati, tapi justru dianggap sebagai kenyataan. Gejala itu tampak terlihat dari kecenderungan memandang karakter seseorang berdasarkan status sosial dan konsumsi barang,” paparnya.

Kecenderungan itu, tegasnya, bisa berdampak buruk bagi pendidikan karakter karena identitas dibentuk mengikuti logika pasar. Seharusnya, pendidikan karakter membawa bangsa ini sebagai subyek. Karenanya, pilar pendidikan ini harus diformulasi ulang.

“Yang mesti diubah terlebih dahulu ialah mindset pimpinan sekolah dan guru. Pendekatan budaya bisa menjadi jalan keluarnya. Guru dan pimpinan sekolah perlu memiliki perspektif tentang budaya,” tandanya.

Ia menilai budaya harus dipandang sebagai cara pikir dan kemampuan mengolah nilai-nilai. Selama ini, budaya kerap dianggap hanya berbentuk lahiriah seperti tari-tarian. Karena itu, pendidikan karakter yang hendak diarahkan bangsa ini harus kembali pada nilai-nilai keadaan dalam Pancasila.

Dalam kesempatan yang sama, anggota dewan pakar Yayasan Jati Diri Bangsa (YJDB) Gede Raka, menyatakan, pendidikan adalah alat yang penting dalam membangun karakter. Karenanya, sistem pendidikan karakter perlu menyesuaikan dengan konteks sosial, budaya, sejarah, dan lingkungan lokal agar implementasinya tepat sasaran.

“Kebijakan di Jakarta tidak boleh sama dengan yang lain,” ujarnya seraya menambahkan, dalam memperbaiki pendidikan karakter di sekolah, peran guru, dan pemimpin lembaga pendidikan sangat penting dan bahkan sentral.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Inovasi dan Daya Saing Ananto Kusuma Seta menegaskan, model pendidikan karakter yang ditetapkan pemerintah yang tertuang dalam Perpres No. 87/2017 tidak bersifat menyeragamkan.

Ia mencontohkan pada tahun ajaran 2018/2019, akan ada dua bentuk rapor sekolah yaitu akademik dan kepribadian. Kegiatan-kegiatan peserta didik di luar sekolah terkait pendidikan karakter akan jadi objek penelitian.

“Misalnya anak pulang sekolah membantu orang tua di sawah atau pergi melaut mencari ikan. Itu akan masuk catatan. Anak-anak yang ke madrasah diniyah pun begitu. Itu bagian dari pendidikan karakter.”

Ia menambahkan, nilai-nilai religius, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas menjadi landasan pendidikan karakter siswa. Hal itu juga diperkuat dengan lima keterampilan seperti berpikir, kritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi, dan inovasi.

“Guru menjadi kunci utama. Mereka harus kreatif dalam menghadirkan pembelajaran yang beragam, menyenangkan, dan menggairahkan siswa,” ujarnya. (tety)