PATAKA: Kesejahteraan Peternak Sapi Terus Menurun

Senin, 9 Okt 2017
istimewa

JAKARTA (Pos Sore) —Kesejahteraan peternak sapi Indonesia terus menurun. Berdasarkan data, setiap tahunnya keuntungan yang didapatkan peternak sapi tidak terlalu besar bahkan ada yang mengalami kerugian.

Hasil riset yang dilakukan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) menyebutkan, tingkat kesejahteraan para peternak sapi, baik di bidang pembibitan, pembesaran dan penggemukan, semakin menurun.

Hal ini ditandai dengan kian meningkatkatnya biaya pemeliharaan peternakan sapi, sementara di sisi lain populasi sapi kian menurun, sehingga membuat harga sapi di pasaran makin naik.

“Bila menghitung seluruh biaya yang ada, maka kesejahteraan petani terus menurun. Untuk peternak pembesaran dan penggemukan mengalami kerugian. Mungkin kalau tidak menghitung tenaga kerja mungkin bisa untung,” tutur Ketua PATAKA Yeka Handra Fatika.

Dalam Konferensi Pers Tinjauan Kebijakan Peternakan Sapi Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu, Pataka melakukan riset di 4 provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Melibatkan 215 responden, sebanyak 148 di antaranya peternak sapi dengan berbagai kriteria.

“Kami membedakan peternak dengan tiga spesifikasi. Pertama adalah peternak breeder atau pembibitan, kedua peternak rearing atau pembesaran, dan ketiga peternak feedloter atau penggemukan,” sebutnya.

Dari riset tersebut didapatkan beberapa data yang menunjukkan, harga pembelian untuk sapi baik sapi indukan, sapi pedet, serta sapi bakalan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Untuk sapi indukan betina meningkat sebesar 4,65%, pedet jantan meningkat 8,62% per tahun, pedet betina meningkat sebesar 10,83%, Bakalan Jantan sebesar 3,74% dan bakalan betina sebesar 4,86%.

“Harga pembelian sapi terus meningkat. Khusus indukan betina bila bobotnya semakin besar, maka harganya relatif semakin kecil. Berbeda dengan pedet betina dan jantan, meski bobotnya kecil, harga per kilo hidupnya lebih tinggi. Ini sering kali tidak dilihat padahal ini merupakan modal pembelian peternak,” ujar Yeka.

Peningkatan harga ini ternyata diakibatkan menurunnya jumlah sapi yang dipasok ke pasar terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Dari riset yang dilakukan, jumlah sapi peternak pembibitan menurun sebesar 50%, sapi peternak pembesaran turun 10%, dan sapi peternak penggemukan turun 7,6%.

Di sisi lain, harga pakan baik hijauan dan konsentrat terus meningkat. Ditambah biaya pengobatan dan biaya tenaga kerja yang turut mengalami kenaikan.

Yeka menambahkan, dilihat dari sisi bobotnya, ada kekhawatiran bobot yang dibeli peternak terus menurun. Sementara itu, bibit sapi yang dipelihara peternak ini dari tahun ke tahun makin kecil, konsekuensinya umur pemeliharaan sapi menjadi lebih lama.

Untuk itu, Yeka meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada para peternak sapi. Ada empat langkah yang paling tepat dilakukan pemerintah. Pertama, pemerintah harus memberikan subsidi pakan bagi para peternak sapi.

Kedua, memberikan subsidi harga bakalan. Ketiga, pemerintah sebaiknya jangan mengatur harga daging sapi di pasaran. Keempat, rantai pasokan pasar dagang sapi yang harus terjaga dan terkendali. (tety)