Laptop Baru dengan Perangkat Lunak Bajakan di Asia Pasifik 92% Terinfeksi Malware Berbahaya

Selasa, 10 Okt 2017

IMG_20171010_110054

JAKARTA (Pos Sore) — Sebanyak 92% komputer laptop baru dengan perangkat lunak bajakan di Asia Pasifik telah terinfeksi dengan malware berbahaya. Begitu hasil studi malware terbaru yang dirilis Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan (MIAP), Selasa (10/10).

Studi yang diprakasai Microsoft itu dilakukan oleh Fakultas Teknik Nasional University of Singapore (NUS). Penelitian diselesaikan pada Juni 2017 dan mencakup wilayah Asia Pasifik dengan fokus pada risiko infeksi malware pada perangkat lunak dari perangkat lunak bajakan.

Penelitian itu juga mengungkapkan bahwa 100% situs web yang menyediakan tautan instalasi pada perangkat lunak bajakan akan memaparkan pengguna pada beberapa risiko keamanan.

Ketua MIAP Justisiari P Kusumah, mengatakan, informasi tersebut menunjukkan pentingnya menggunakan perangkat lunak asli untuk keuntungan keamanan dan kepatuhan pelaku. Informasi ini juga penting untuk keamanan konsumen secara online.

“Kami percaya pentingnya kepatuhan dan perlindungan kekayaan intelektual khususnya pada merek dan hak cipta perangkat lunak komputer. Inilah alasan pentingnya berbagi hasil penelitian keamanan siber yang dilakukan oleh NUS kepada khalayak luas, termasuk kepada masyarakat Indonesia,” katanya, di Jakarta, Selasa (10/10).

Pihaknya sangat menyayangkan semakin banyak perangkat lunak bajakan yang telah menjadi sumber utama infeksi malware berbahaya. Utamanya yang dijual di online market atau yang tersedia untuk diunduh di internet.

Menurutnya, kerugian dan bahaya, baik di tingkat konsumen atau pada bisnis dan kantor pemerintah sangat besar dan fatal. Ini dibuktikan dengan berbagai penelitian kasus pelanggaran data secara global.

“Padahal studi menunjukkan biaya untuk berinvestasi pada program perangkat lunak asli dan terbaru jauh lebih rendah dibandingkan dengan kerugian aktual yang dialami karena pencurian data rahasia dan informasi pribadi,” ungkapnya.

Atas penelitian tersebut, Kamil Razak, Kepala Departemen Investigasi untuk Sektor Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta penyedia layanan keuangan, terutama sektor perbankan untuk menggunakan perangkat lunak asli demi keamanan kegiatan bisnis mereka.

“Ini untuk memastikan kerahasiaan serta keamanan operasi TI, rantai pasokan dan informasi bisnis mereka. Juga untuk melindungi data pelanggan saat melakukan transaksi melalui fasilitas online banking dan layanan terkait,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Menurutnya, kesadaran konsumen dan bisnis seputar keamanan dunia maya harus selalu terus kritis. Terutama dalam melindungi pengguna dan aset mereka dari eksploitasi kejahatan dunia maya, termasuk risiko kejahatan siber yang disebabkan oleh infeksi malware berbahaya.

Semuel Abrijani Pangerapan dari Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, menambahkan, pengondisian keamanan siber harus dimulai dengan penggunaan perangkat lunak asli. Tujuannya, agar terhindar dari permasalahan hukum dan serangan-serangan malware yang memanfaatkan kerentanan perangkat lunak bajakan.

“Saya mendorong sektor bisnis, termasuk lembaga keuangan, untuk lebih serius mengenai investasi keamanan siber mereka. Termasuk dengan memastikan pengguna perangkat lunak asli dan terus menjaga agar sistem mereka diperbarui secara efisien,” katanya.

Dia berpendapat, lingkungan bisnis yang lebih aman penting bagi reputasi bisnis Indonesia untuk menarik investasi, menumbuhkan ekonominya, dan meningkatkan lapangan kerja. (tety)