Peredaran Sofware Palsu Masih Marak, Kerugian Capai Triliunan Rupiah

Kamis, 12 Okt 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Studi malware terbaru berjudul ‘Cybersecurity Risks from Non-Genuine Software’ dari Fakultas Teknik National University of Singapore (NUS) mencatat 92 persen perangkat komputer dan laptop yang menggunakan software palsu terinfeksi malware.

Studi yang diprakarsai oleh Microsoft ini diselesaikan pada Juni 2017 dan mencakup wilayah Asia Pasifik, dengan fokus pada risiko infeksi malware pada perangkat lunak dari penggunaan perangkat lunak bajakan serta eksploitasi aktif oleh penjahat siber dari malware tersebut.

Keshav S. Dhakad, Assistant General Counsel, Digital Crime Unit, Microsoft Asia menyebutkan, malware yang menyerang komputer pengguna sofware ilegal itu berasal dari CD/DVD bajakan, produk sofware dan sistem operasi bajakan.

“Sebanyak 61% DVD/CD bajakan terinfeksi walware, produk sofware bajakan 42% terjangkit malware, sistem operasi ilegal 29 % terjangkit malware, game and apps 19%, dan bahkan sofware antivirus bajakan juga sudah terinfeksi malware 17%,” kata Keshav dalam sosialisasi kekayaan intelektual yang diadakan MIAP (Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan), di Jakarta, Selasa (10/10).

Keshav menjelaskan, saat ini interkoneksi melalui jaringan internet telah menjadi suatu kebiasaan. Bahkan sudah menjadi kebutuhan dan keharusan seperti transformasi digital dari bisnis, menjaga keterikatan dengan customer, pengembangan SDM, peningkatan sistem operasi. Tetapi semua itu butuh security.

Namun, lanjutnya, masih banyak yang belum paham dengan teknik serangan dari penjahat cyber baik melalui email, serangan trojan, pembentukan banckdoor, transaksi bitcoin, dan lain-lain.

Mencermati temuan tersebut, Ketua MIAP Justisiari P. Kusumah mengatakan, risiko besar bagi Indonesia yang notabene pengguna internet terbesar ke-4 di dunia, adalah serangan terhadap data nasabah, seperti yang saat ini tengah ditangani pihak Bareskrim Polri.

“Itu baru jual beli data nasabah, bagaimana kalau pelaksanaan transaksi juga bisa di-hack melalui infeksi malware? Ini bisa mengancam jaringan industri keuangan,” tegas Justisiari di kesempatan yang sama.

Dia menyebutkan, dari studi yang sama kerugian dan bahaya, baik di tingkat konsumen atau pada bisnis dan kantor pemerintah sangat besar dan fatal, terbukti dengan berbagai penelitian kasus pelanggaran data secara global.

“Studi juga menunjukkan biaya untuk berinvestasi pada program perangkat lunak asli dan terbaru jauh lebih rendah dibandingkan dengan kerugian aktual yang dialami karena pencurian data rahasia dan informasi pribadi,” katanya. (tety)