Malas Bergerak Picu Penyakit Jantung dan Stroke

Minggu, 22 Okt 2017
salah satu cara menangkal kolesterol yaitu dengan rutin cek kolesterol.

IMG_20171021_130646

JAKARTA (Pos Sore) — Data dari Survey Sample Registration System (SRS) tahun 2014 di Indonesia  menunjukkan penyakit jantung kini menjadi penyebab kematian tertinggi. Sekitar 12,9% kematian di Indonesia, diakibatkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah. 

Faktanya, setiap 12 detik, penderita penyakit jantung di Indonesia bertambah 1 orang dan 3 detik kemudian, ada 1 penderita yang di vonis stroke. Dan, orang dengan kolesterol tinggi mempunyai 2x risiko terkena penyakit jantung dan stroke. Bahayanya, gejala kolesterol tinggi ini tidak terlihat sampai akhirnya terjadi komplikasi. 

Menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Bidang Kesehatan (BPJS) di tahun 2015, biaya yang dihabiskan untuk biaya pelayanan penderita penyakit jantung sebesar Rp6,9 Triliun dan meningkat menjadi Rp7,4 Triliun di tahun 2016.

Menurut BPJS-K pula, penyakit jantung yang paling banyak menghabiskan biaya pelayanan kesehatan di antara penyakit katastropik lainnya. Sementara biaya pelayanan yang dihabiskan untuk penderita stroke sebesar Rp1,15 Triliun di tahun 2015 dan meningkat menjadi Rp1,2 Triliun di tahun 2016.

Penyebab utama meningkatnya penyakit jantung koroner dan stroke, terutama di Indonesia adalah gaya hidup modern yang minim aktivitas dan gerakan fisik atau sedentari. Mulai dari duduk sepanjang hari di balik meja kerja atau meja usaha hingga memanfaatkan jasa asisten rumah tangga atau online untuk segala sesuatu.

Malas bergerak adalah kebiasaan yang perlu diubah karena dampak risiko dari gaya hidup sedentari, baru mulai terasa setelah bertahun-tahun. 

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI tahun 2013, sebanyak 42% atau hampir separuh proporsi penduduk yang masuk dalam kelompok usia di atas 10 tahun, berperilaku sedentari. Artinya, 1 dari 4 penduduk kita, menerapkan perilaku sedentari minimal 6 jam setiap harinya. 

Sementara data Badan Kesehatan Dunia atau WHO, menunjukkan, gaya hidup sedentari adalah 1 dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. 

Ilkka Ojansivu, Business Manager in Multiple Asian Countries, dari Raisio Principal Benecol Finlandia, menekankan, gaya hidup sedentari atau kurangnya aktivitas fisik, merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler, diabetes dan kanker.

“Data global menunjukkan, 1 dari 4 orang dewasa tidak cukup aktif dan 4 dari 5 remaja, tidak cukup aktif,” tandasnya dalam kegiatan ‘Yuk Turunkan Risiko Serangan Jantung Indonesia Melalui Gerakan Jantung Sehat ‘Indonesia Tangkal Kolesterol’, di Jakarta, Sabtu (21/10).

Olahraga terbukti mampu mengendalikan berat badan, tekanan darah, meredakan peradangan, meningkatkan kesehatan pembuluh darah secara keseluruhan dan meningkatkan HDL.

Data yang dilaporkan European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) pada 2008 juga menunjukkan, kematian akibat kebiasaan malas gerak jumlahnya dua kali lebih banyak dibandingkan kematian karena obesitas.

Jika gaya hidup sedentari diikuti dengan pola makan yang tidak seimbang dan kebiasaan yang tidak sehat seperti merokok atau minum alkohol, maka gaya hidup ini berisiko menyebabkan penyakit jantung dan stroke.

Dr. Vito A. Damay, Sp.JP(K), M.Kes, FIHA, FICA, pengasuh Redaksi Medis dari Klikdokter.com, menjelaskan, hidup sehat yang dimaksud adalah gaya hidup yang aktif dan rutin berolahraga, menerapkan pola makan seimbang rendah lemak jenuh dan kolesterol, serta kebiasaan sehat tanpa rokok dan minuman beralkohol.

Hal-hal tersebut, katanya, efektif membantu mencegah faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke yang meliputi diabetes mellitus (penyakit gula atau kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), kebiasaan merokok, kegemukan, dan kadar kolesterol tinggi. 

“Kolesterol dan penyakit kardiovaskuler juga terkait oleh proses yang disebut ateroklerosis, yaitu suatu kondisi yang terjadi ketika terbentuk plak pada dinding pembuluh darah arteri. Penumpukan ini mempersempit arteri, sehingga darah sulit untuk mengalir melalui arteri,” jelas Vito yang juga
spesialis jantung dan pembuluh darah, ini.

Ia menambahkan, plak juga bisa pecah (ruptur) yang memicu terbentuknya bekuan darah dan gangguan aliran darah. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung atau stroke.

“Salah satu faktor utama penyebab ateroklerosis adalah dislipidemia, yaitu peningkatan kadar kolesterol, trigliserida, atau keduanya, atau penurunan kadar HDL dalam plasma darah yang berkontribusi pada perkembangan aterosklerosis,” terang salah satu konsultan dalam kampanye ’Gerakan Jantung Sehat: Indonesia Tangkal Kolesterol 2017′, ini. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015