Orangtua Paham Gizi Anak, Investasi Sehat Masa Depan

Minggu, 29 Okt 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Gizi buruk pada anak-anak di Indonesia masih menjadi persoalan penting yang harus diperhatikan bersama. Para orangtua perlu paham akan masalah ini dan tahu bagaimana cara mengatasinya dengan benar. 

Kebutuhan gizi anak  terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang serta perkembangan sistem imun si kecil.

Karena itu, orangtua perlu memastikan kandungan gizi pada makanan yang dikonsumsi anak setiap hari sehingga ia tak mengalami kekurangan atau kelebihan gizi yang dapat berdampak pada kesehatannya di masa depan.

Menurut laporan dari Micronutrient Initiative Indonesia (MMI) lain lagi. Director MII Dr. Elvina Karyadi, MSc, PhD, SpGK, mengatakan, kecukupan gizi masih menjadi PR besar pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat.

“Saat ini kita di Indonesia mengalami ‘double burden malnutrition’ atau masalah gizi ganda. Di satu sisi gizi kurang-stunting masih tinggi (37%), tapi muncul sebuah kondisi yang bertolak belakang, yaitu masalah gizi lebih,” katanya dalam diskusi bertajuk ‘Stop Lost Gold Generation’: Memilih Susu yang Tepat untuk Si Kecil, Karena Setiap Susu itu Berbeda, di Jakarta, Selasa (24/10).

Kenapa kondisi seperti itu yang sekarang terjadi? Banyak hal yang memengaruhinya. Tapi yang berpengaruh langsung adalah pola makan (dietary intake), aktivitas fisik, dan adanya penyakit.

“Adapun pengaruh tidak langsungnya adalah pendidikan, pengetahuan gizi, sosial ekonomi, akses terhadap pelayanan kesehatan,” papar Elvina.

Asal tahu saja, masalah ekonomi bisa memengaruhi kondisi gizi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, jumlah penduduk miskin di ibu kota Jakarta per Maret 2017 sebesar 389,69 ribu orang. Indeks kemiskinan tersebut meningkat 0,02 poin atau 3,85 ribu orang dibanding bulan September 2016 lalu yang mencapai angka 384,30 orang.

Selama Maret 2016-September 2016-Maret 2017, garis kemiskinan naik sebesar 3,05 persen pada periode September 2016-Maret 2017 (dari Rp 520.690 per kapita per bulan, menjadi Rp 536.5 46 per kapita per bulan), dan naik sebesar 5,13 persen pada periode Maret 2016–Maret 2017 (dari Rp 510.359 per kapita per bulan menjadi Rp 536.546 per kapita per bulan).

Dikarenakan angka kemiskinan itu, tak heran masyarakat kita yang masih rendah tingkat pendidikannya, juga masih kurang pengetahuan mengenai gizi seimbang dan lengkap, akan memilih jalan pintas dalam urusan gizi. (tety)