Mengintip Pilkada Jabar

Senin, 30 Okt 2017

Oleh: Amin Idris
Wartawan Senior Possore.com

MENGIKUTI perkembangan pilkada Jawa Barat bisa disimpulkan bahwa para elit partai sedang bermain sendiri.  Rakyat bersama harapan dan aspirasinya seakan ada di luar arena, alias dipaksa jadi penonton.

Pertimbangan yang dipakai untuk menggadang calon yang akan diusung hanya berkisar pada popularitas,  elektabilitas, dan isi tas. Tiga ini menjadi faktor utama seseorang diusung jadi calon.

Maka muncullah Ridwan Kamil sebagai calon unggulan.  Deddy Mizwar juga unggulan tapi buntu dengan Gerindra.  Bagaimana Deddy Mulyadi kader golkar yang juga unggulan sampai kini belum punya partai pengusung.  Partai golkar  justeru sudah mengumumkan untuk mencalonkan Ridwan Kamil.

PAN Cerdas
Dalam kebuntuan Dedy Mizwar dan Gerindra, Zulkifli Hasan langsung mengumumkan mengusung Dedy Mizwar.  Ketika PAN yang mengusung maka posisi Ahmad Saikhu yang sudah berkampanye sepaket Dedy – Saikhu terancam bubar. Setidaknya Saikhu terpelanting jauh ke belakang. Hitung-hitungannya tentu PAN ngarep wakil dong.

Dinamikanya tentu belum selesai di sini.  PDIP yang punya strategi wajib menang belum mengambil sikap. Bagi PDIP pilkada kali ini siapapun bisa dicalonkan asal berpotensi menang seperti di Jatim dan Sulawesi. Tidak harus kader, tokoh partai tetangga pun bisa diusung kalau perhitungannya bisa menang.

Maka bukan tidak mungkin PDIP akan mengusung Deddy Mulyadi yang ditinggal partainya atau berkoalisi dengan PKS yang terdengar imposible tapi untuk menang, semunya jadi possible untuk mengusung calon baru, atau mengukuhkan Deddy Mizwar yang sudah dideklarasikan oleh PAN.

Sekali lagi,  semua pertimbangan elektabilitas dan isi tas.  Konon seorang calon selentingannya ada yang ditanya ketua partai yang akan mengusungnya,  apa dia punya seratus lima puluh untuk maju.

Rakyat, hanya disuguhin barang jadi aja.  Suka atau tidak suka, mereka harus memilih. Karena memilih adalah amanat undang undang.  Apapun yang disuguhkan rakyat harus menyukainya di antara pilihan yang ada. Kasihan, siapa suruh jadi rakyat.

Padahal rakyat menghendaki pemimpin yang adem dalam berucap, teguh dalam bertekad dan keras dalam bekerja untuk menyejahterakan mereka.  Tapi tampaknya dimensi ini luput dari pertimbangan  dalam menjaring calon.

Bagi umat Islam rumus memilih pemimpin harus memasukkan pertimbangan ketauhidan. Misalnya bisakah dia memimpin sholat dan baguskah bacaan sholatnya?  Pemimpin yang sholatnya bagus dan selalu mengutamakan panggilan Allah di atas segala panggilan lain,  pasti bisa menyejahterakan rakyatnya.

Sayangnya persilatan seleksi pilkada kali ini sama sekali jauh dari aspek ketauhidan itu.  Maka hasilnya tentu bisa dipastikan jauh pula dari semangat mensejahterakan rakyat.  Wallohua’lam. (Red)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015