Sarihusada Hadirkan Warung Anak Sehat untuk Jajanan Sekolah yang Bergizi

Senin, 30 Okt 2017

IMG-20171030-WA0029

JAKARTA (Pos Sore) — Sudah dua tahun ini Sarihusada menjalankan Program Warung Anak Sehat (WAS). Program yang bertujuan untuk mewujudkan sekolah dengan kantin sehat melalui pendampingan dan penyediaan material edukasi.

Program WAS sendiri telah berhasil menjangkau 232 guru, 350 IWAS, 27,861 siswa, dan 6,122 orang tua murid yang tersebar di 350 sekolah binaan.

Saat ditemui di media workshop Program Warung Anak Sehat, Talitha Andini Prameswari selaku WAS Project Manager Sarihusada, mengatakan, program WAS adalah langkah nyata pihaknya dalam mendukung upaya pemerintah memperbaiki status gizi anak.

“Program WAS memiliki target untuk memperbaiki kebiasaan anak sekolah dalam mengonsumsi makanan/jajanan bersih dan sehat di lingkungan sekolah,” jelasnya, di Jakarta, belum lama ini.

Ia menuturkan, dalam kesehariannya, anak di usia sekolah akan menghabiskan waktu di sekolah lebih banyak. Untuk itu, intervensi makanan/jajanan sehat di sekolah sangat penting.

“Kami melihat bila anak memiliki status gizi yang baik, maka anak dapat mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, dan sosial-emosional, secara optimal. Hal ini sesuai dengan misi Sarihusada yaitu untuk menciptakan Anak Generasi Maju,” paparnya.

Program WAS kini telah menjangkau 350 Sekolah Dasar di empat kota di Indonesia yaitu Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Ambon. Dalam menjangkau sekolah-sekolah tersebut, WAS mendapatkan rekomendasi dari pemerintah. Ini yang membuat program WAS dapat bersinergi dengan program pemerintah dan berjalan tepat sasaran.

Program ini berfokus kepada pemenuhan gizi sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang (PROGRAS) dan pemberdayaan perempuan melalui usaha mikro. Dalam menjalankan fokus tersebut, Program WAS menggandeng ahli atau instansi terkait. Beberapa di antaranya yaitu Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (FEMA IPB) dan CARE International Indonesia.

Bersama dengan FEMA IPB, rangkaian Program WAS melakukan edukasi gizi yang menyasar kepada guru, orang tua, dan penjual jajanan di lingkungan sekolah. Khususnya kantin sekolah atau kerap disebut Ibu Warung Anak Sehat (IWAS).

“Edukasi gizi dalam pemberdayaan kantin sekolah tersebut bertujuan untuk membuka kesadaran dan wawasan kepada para IWAS untuk dapat mengolah bahan berbasis lokal tanpa bahan tambahan yang berbahaya dengan menjaga sanitasi dan higienitas pengolahan hingga penyajian sesuai standar BPOM,” tambahnya.

Dalam program WAS, orang tua dan guru juga diberikan informasi penting untuk dapat membentuk perilaku konsumsi atau jajan anak dengan sehat. Penting bagi orang tua maupun sekolah untuk dapat menyediakan akses terhadap makanan atau minuman yang sehat pada anak.

“Karena pada usia tersebut anak sudah mulai memilih-milih makanan, juga adanya pengaruh teman dan lingkungan sekitar, serta masih minimnya kantin sekolah,” urainya.

Adanya fakta yang menunjukkan 40% anak masih belum membiasakan sarapan, semakin mendorong anak untuk jajan di sekolah. Kondisi tersebut perlu diatasi melalui upaya dari seluruh masyarakat sekolah untuk memperbaiki pola makan termasuk jajan yang sehat, aman, dan bergizi.

Sekretaris Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS, menekankan pengetahuan gizi yang patut diaplikasikan oleh orang tua, guru, dan IWAS, adalah bagaimana jajanan yang dikonsumsi anak dapat memenuhi kebutuhan gizi mereka secara seimbang.

Karena ternyata, masih banyak anak sekolah yang mengonsumsi makanan berenergi tinggi, berkadar lemak, gula, dan garam tinggi, serta kurangnya konsumsi buah dan sayur. Hal ini memicu semakin meningkatnya obesitas di kalangan anak-anak.

Sebaliknya banyak juga anak yang mengonsumsi pangan jajanan yang hanya mengandung karbohidrat saja, sehingga asupan gizinya tidak tercukupi. Padahal, anak usia 5-12 tahun membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup atau seimbang untuk konsentrasi belajar.

“Asupan gizi yang tidak tercukupi akan menimbulkan resiko antara lain anemia yang dapat menurunkan daya tahan dan konsentrasi pada anak,” tandasnya.

Selain itu, anak menjadi rentan terhadap berbagai penyakit baik menular dan tidak menular, perkembangan otak pun terganggu. Gangguan kesehatan tersebut dapat mempengaruhi produktivitas anak di sekolah, yang kelak dapat menentukan kualitas hidupnya bahkan pendapatan anak di kala dewasa. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015