Warung Anak Sehat: Akses Jajanan Sekolah yang Sehat dan Bergizi

Selasa, 31 Okt 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Mengentaskan permasalahan gizi baik stunting maupun obesitas di Indonesia terutama pada anak usia sekolah, harus dimulai dari perbaikan kebiasaan dalam mengonsumsi jajanan sehat di sekolah.

Begitu persoalan yang mengemuka dalam media workshop Program Warung Anak Sehat (WAS) yang diadakan Sarihusada, di Jakarta. Sekretaris Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB Dr. Sri Anna Marliyati, MS, yang menjadi pembicara, mengatakan, anak usia sekolah memiliki banyak aktivitas di luar rumah.

“Ini yang mendorong perilaku membeli makanan atau jajanan baik di dalam maupun sekitar sekolah. Sayangnya, kebutuhan membeli makanan atau jajanan ini tidak selalu dibarengi dengan ketersediaan makanan atau jajanan yang bersih dan sehat,” paparnya, di Jakarta, belum lama ini.

Mengutip Laporan Aksi Nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) 2014, Sri Anna mengungkapkan sebanyak 23,82% pangan jajanan anak sekolah yang diuji sampel oleh BPOM masih tidak memenuhi syarat akibat cemaran mikrobiologi.

Karena itu, kebiasaan dalam mengonsumsi jajanan sehat perlu digalakkan melalui edukasi gizi yang tepat untuk para murid, guru atau pihak sekolah, orang tua murid, hingga penjual jajanan di lingkungan sekolah.

Menurutnya, penting bagi orang tua maupun sekolah untuk dapat menyediakan akses terhadap makanan atau minuman yang sehat pada anak. Karena pada usia tersebut anak sudah mulai memilih-milih makanan, juga adanya pengaruh teman dan lingkungan sekitar, serta masih minimnya kantin sekolah.

Di sisi lain, adanya fakta yang menunjukkan 40% anak masih belum membiasakan sarapan, semakin mendorong anak untuk jajan di sekolah. Kondisi tersebut perlu diatasi melalui upaya dari seluruh masyarakat sekolah untuk memperbaiki pola makan termasuk jajan yang sehat, aman, dan bergizi.

“Penting pengetahuan gizi yang patut diaplikasikan para orang tua, dan guru. Bagaimana jajanan yang dikonsumsi anak dapat memenuhi kebutuhan gizi mereka secara seimbang. Karena ternyata, masih banyak anak sekolah yang mengonsumsi makanan berenergi tinggi, berkadar lemak, gula, dan garam tinggi, serta kurangnya konsumsi buah dan sayur,” jelasnya.

IMG_20171031_102742

Kebiasaan itu, katanya, memicu semakin meningkatnya obesitas di kalangan anak-anak. Sebaliknya banyak juga anak yang mengonsumsi pangan jajanan yang hanya mengandung karbohidrat saja, sehingga asupan gizinya tidak tercukupi.

Padahal, anak usia 5-12 tahun membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup atau seimbang untuk konsentrasi belajar. Asupan gizi yang tidak tercukupi akan menimbulkan resiko antara lain anemia yang dapat menurunkan daya tahan dan konsentrasi pada anak.

Selain itu, anak menjadi rentan terhadap berbagai penyakit baik menular dan tidak menular, perkembangan otak pun terganggu. Gangguan kesehatan tersebut dapat mempengaruhi produktivitas anak di sekolah, yang kelak dapat menentukan kualitas hidupnya bahkan pendapatan anak di kala dewasa.

IMG-20171030-WA0030

Dampak negatif yang dipicu status gizi buruk pada anak diakui Nurianti Rahayu penjual kantin di SDN Nogopuro Sleman, menjadi hal yang sama sekali tidak diinginkan untuk dialami oleh anaknya, apalagi anak-anak lain.

‘Tentunya, saya menginginkan yang terbaik bagi keluarga saya termasuk anak-anak di lingkungan sekitar yang juga sudah saya anggap seperti anak sendiri,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Setiap hari ia berjualan di SDN Nogopuro Sleman membuatnya mengenal para murid dan kebiasaan jajan mereka. Ia ingin mereka dapat mengonsumsi jajanan yang sehat dan aman namun tetap enak untuk dinikmati.

“Bergabungnya saya di program WAS sampai saat ini membuahkan hasil yang bermanfaat. Tidak hanya bagi anak-anak yang jajan di warung saya, namun juga wawasan dalam mengolah makanan pun bertambah. Bahkan saya juga mendapat panduan dalam mengelola keuangan dengan baik sehingga penghasilan saya bertambah,” ujarnya.

Program WAS sendiri adalah program yang digagas Sarihusada yang sudah berjalan dua tahun ini. Di sini Sarihusada bermitra dengan CARE International Indonesia memberikan pelatihan usaha termasuk pengelolaan keuangan kepada para IWAS (Ibu Warung Anak Sehat)

Bersama Sarihusada, CARE turut merancang program WAS untuk kemudian mengembangkan dan mengimplementasikan pelatihan IWAS, serta memonitor hasil dari program WAS.

Handayani Sagala selaku Warung Anak Sehat Project Manager dari CARE Internasional Indonesia, memaparkan, sebanyak 72% IWAS binaan mengalami kenaikan pendapatan lebih dari 50% dengan mengaplikasikan edukasi gizi dan keterampilan usaha dari program WAS.

Di antara pelatihan usaha atau keuangan yang diberikan, sebanyak 92% IWAS mengakui pelatihan pembukuan dasar sangatlah diperlukan dan berguna untuk memantau laba secara berkala.

Dari hasil pantauan dan evaluasi berkala, para IWAS binaan merasakan kemajuan usaha selama bergabung dalam program WAS. Terlebih pihak sekolah sangat mendukung pelatihan untuk IWAS ini, bahkan turut memfasilitasi para IWAS dalam berjualan. Orang tua murid juga berpartisipasi dengan menitipkan jajanan sehat kepada IWAS untuk dijual.

“Terlihat melalui program WAS, para ibu baik itu penjual kantin atau orang tua murid dapat lebih berdaya guna dengan usaha mereka yang bermanfaat dalam memperbaiki gizi anak,” ungkapnya. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015