KOWANI Terus Berjuang Agar Jumlah Pahlawan Nasional Perempuan Bertambah

Senin, 6 Nov 2017

IMG_20171106_073040

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Giwo Rubianto Wiyogo, mengaku miris melihat keadaan sulitnya bangsa Indonesia memiliki pahlawan nasional. Selain karena tidak ada perang secara fisik, bisa juga karena nilai penghormatan kita kepada pahlawan semakin bergeser.  

“Hal tersebut ditandai semakin rendahnya minat para murid mempelajari sejarah dan museumnya,” kata Giwo di sela kegiatan Jalan Sehat Kebangsaan yang diadakan KOWANI, di Jakarta, Minggu (5/11). Jalan sehat yang dibuka Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansaara, ini disertai doa bersama lintas agama.

Tak hanya itu. Giwo menilai miskinnya kemampuan para sutradara film merekontruksi sejarah untuk mampu membangkitkan patriotism dan nasionalisme para generasi muda, juga turut berkontribusi menciptakan kondisi tersebut.

“Sulit dipercaya bahwa negara yang merdeka dengan nyawa dan darah hanya mampu mencatat 169 pahlawan nasional di ulangtahunnya yang ke-72. Ironisnya, dari 169 pahlawan nasional yang ada, hanya ada 12 pahlawan nasional perempuan,” katanya sedih.

Padahal, kata Giwo, perjuangan perempuan yang jika diambil dan ditandai dari berdirinya KOWANI sudah ada dan telah berjuang bersama-sama dengan laki-laki sejak tahun 1928.

Meski begitu, KOWANI, kata Giwo, akan terus berjuang untuk memunculkan dan memperjuangkan pahlawan nasional dari kalangan perempuan. KOWANI tidak akan mengenal lelah walaupun sudah di era kemerdekaan.

“Kami memiliki perjuangan yang belum selesai untuk menjadi Ibu Bangsa yang harus mempersiapkan generasi muda yang berdaya saing, unggul, inovatif, kreatif yang berjiwa patriotik dan nasionalism,” tegasnya.

Karenanya, KOWANI memerlukan role model perempuan sejati yang sebagian besar terinsprirasi dari kepahlawanan para perempuan. Salah satu tokoh perempuan yang dijadikan role model dalam kepahlawanan adalah Laksamana Malahayati yang dikenal sangat heroik.

Dalam catatan sejarah, Malahayati adalah laksamana laut pertama di dunia. Dia digambarkan sebagai panglima perang Kesultanan Aceh yang mampu menaklukkan armada angkatan laut Belanda dan bangsa Portugis (Portugal) pada abad ke-16 Masehi.

Malahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah bin Laksamana Muhammad Said Syah. Sedangkan kakeknya merupakan putra Sultan Salahuddin Syah yang memimpin Aceh pada 1530-1539.

Malahayati juga membangun benteng yang dinamai Benteng Inong Balee bersama pasukannya. Karier militer Malahayati terus menanjak hingga ia menduduki jabatan tertinggi di Angkatan Laut Kerajaan Aceh kala itu.

Sebagaimana layaknya para pemimpin zaman itu, Laksamana Malahayati ikut memimpin langsung bertempur di garis depan melawan kekuatan Portugal dan Belanda yang hendak menguasai jalur laut Selat Malaka.

Reputasi Malahayati sebagai penjaga pintu gerbang kerajaan membuat Inggris yang hendak masuk ke wilayah Aceh memilih untuk menempuh jalan damai. Surat dari Ratu Elizabeth I yang dibawa oleh James Lancaster untuk Sultan Aceh membuka jalan bagi Inggris untuk menuju Jawa dan membuka pos dagang di Banten.

Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, juga mencoba menggoyang kekuasaan Aceh pada 1599. Namun, upayanya gagal. Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur oleh armada Inong Balee. Cornelis de Houtman tewas di tangan Laksamana Malahayati pada 11 September 1599.

Sementara Prins Maurits yang memimpin Belanda saat itu berupaya memperbaiki hubungan dengan Aceh. Keduanya menggelar perundingan awal hingga tercapai sejumlah persetujuan.

Atas keberaniannya, nama Malahayati saat ini dijadikan nama jalan, pelabuhan, rumah sakit, perguruan tinggi hingga nama kapal perang, yakni KRI Malahayati. Bahkan lukisannya diabadikan di Museum Kapal Selam, Surabaya, Jawa Timur.

“Kita berharap ke depan kisah dan sejarah Laksamana Malahayati akan semakin lengkap, nyata dan tersingkap secara terang berderang sehingga dapat memberikan/ dijadikan inspirasi bagi generasi penerus,” tutup Giwo. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015