Ditjen PKH Kementan Adakan ‘Pekan Kesadaran Antibiotik’

Rabu, 8 Nov 2017
istimewa

IMG-20171108-WA0031

JAKARTA (Pos Sore) – Guna meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai ancaman resistensi antimikroba, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) mengadakan ‘Pekan Kesadaran Antibiotik’ pada 13 – 19 November 2017.

“Kegiatan ini merupakan kampanye global peduli penggunaan antibiotik sebagai salah satu wadah untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai ancaman resistensi antimikroba,” kata I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam acara Media Briefing, di Kantor Kementerian Pertanian, Rabu (9/11).

Menurut I Ketut Diarmita, antimikroba merupakan salah satu temuan yang sangat penting bagi dunia, mengingat manfaatnya bagi kehidupan, terutama untuk melindungi kesehatan manusia, hewan, dan kesejahteraan hewan.

Namun, jika dalam penggunaannya antimikroba ini dilakukan secara tidak bijak dan tidak rasional, maka menjadi pemicu terhadap kemunculan bakteri yang tahan atau kebal terhadap efektivitas pengobatan antimikroba.

I Ketut Diarmita menjelaskan, resistensi Antimikroba (AMR), telah menjadi ancaman tanpa mengenal batas-batas geografis, dan berdampak pada kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.

“Untuk itu, harus kita sadari ancaman Resistensi Antimikroba juga merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan ketahanan pangan, khususnya bagi pembangunan di sektor peternakan dan kesehatan hewan,” ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan laporan di berbagai negara mencatat adanya peningkatan laju resistensi dalam beberapa dekade terakhir, namun di sisi lain penemuan dan pengembangan jenis antibiotik (antimikroba) baru berjalan sangat lambat.

“Para ahli di dunia memprediksi jika masyarakat global tidak melakukan sesuatu dalam mengendalikan laju resistensi ini, maka AMR akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia pada 2050, dengan tingkat kematian mencapai 10 juta jiwa per tahun, dan kematian tertinggi terjadi di kawasan ASIA,” nungkap I Ketut Diarmita.

I Ketut berpendapat, bahaya resistensi antimikroba erat kaitannya dengan perilaku pencegahan dan pengobatan, dan sistem keamanan produksi pangan dan lingkungan.

Karena itu, diperlukan pendekatan ‘One Health’ yang melibatkan sektor kesehatan, pertanian (termasuk peternakan dan kesehatan hewan) serta lingkungan. Penanganan AMR membutuhkan pendekatan yang multi dimensi, multi faktor, dan multi stakeholder.

Untuk itu, Kementerian Pertanian telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pertahanan dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional penanggulangan AMR.

Pemerintah juga telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan atau growth promoter mulai 1 Januari 2018, yang mengacu pada amanat UU No. 41 tahun 2014 Jo. UU no 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan.

Kementan juga telah memulai surveilans AMR di Jawa Barat, Banten dan Jabodetabek, termasuk melakukan pilot survey penggunaan antimikroba di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan pada 360 peternak ayam daging.

Sejak tahun lalu, Kementan dan pemangku kepentingan lainnya telah bekerjasama dengan Badan Pangan dan Pertanian dunia (FAO of the United Nations) dan pihak donor lainnya melakukan kampanye bahaya AMR.

Fokus utama kampanye FAO melalui FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) yaitu untuk memperkuat kapasitas di sektor kesehatan hewan, mendukung dan bekerja bersama dengan sektor kesehatan manusia dan lingkungan.

Ketut mengungkapkan, dalam industri peternakan, salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penggunaan antimikroba yaitu dengan menerapkan praktik-praktik manajemen yang baik, sebagai aktifitas pencegahan untuk mengurangi risiko penyakit infeksi.

Dalam kesempatan yang sama James Mc Grane, FAO ECTAD Team Leader berpendapat, saat mikroba menjadi kebal terhadap satu atau beberapa jenis antimikroba, infeksi yang dihasilkan mikroba akan sulit untuk disembuhkan, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Mikroba yang kebal ini dapat menyebar ke lingkungan sekitar, ke rantai makanan dan ke manusia. “Untuk itu, jika tidak diperlukan penggunaan antimikroba pada ternak sebaiknya tidak perlu digunakan,” ujarnya.

James Mc Grane menjelaskan, salah satu pengendalian penggunaan antimikroba yang dapat dilakukan yaitu melalui implementasi biosekuriti tiga zona. Melalui upaya tersebut, tidak hanya menghasilkan produk peternakan yang lebih sehat, namun juga terbukti dapat meningkatkan keuntungan bagi para peternak karena akan mengurangi resiko kematian. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015