SCA Gelar Lomba Seduh Kopi Terenak

Minggu, 12 Nov 2017
Tiga Dewan Juri Serius Amati Racikan Para Barista

MENYAKSIKAN Adu ketangkasan antarperacik atau penyeduh kopi profesional (barista) dalam menyajikan kopi beraneka rasa dan berkualitas tinggi sangat menarik dan mengudang decak kagum dari pengunjung Mall Binjai, Medan, Sumatera Utara Sumatera Utara.

Seperti engggan meninggalkan tempat berdiri setiap pengunjung Mall Binjai pada Sabtu dan Minggu (11 dan 12/11), pun berebutan posisi terdepan agar dapat melihat dengan jelas bagaimana para Barista meyeduhkankan kopi terenak.

Bahkan pengamanan mall, sales promotion girls, penjaga stand dan karyawan toko yang sedang bekerja pun rela meninggalkan tempatnya bekerja hanya untuk melihat adu ketangkasan yang dikemas dalam Sumatera Coffee Expo yang diselenggarakan oleh Komunitas Sumatera Coffee Asosiation (SCA) Medan itu.

Kegiatan yang merupakan kerjasama antara ASC, Mall Binjai dan Kementerian Ketenagakerjaan melalui Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (BBPPK & PKK) Lembang, Bandung diikuti sedikitnya 48 barista asal Sumut.

Ada dua jenis perlombaan yang dilaksanakan, yakni kategori manual brewing dan latte art competition. Masing masing barista memperoleh jenis kopi Mandailing untuk diracik dan waktu yang diberikan adalah 10 menit.

Untuk menilai hasil racikan kopi itu, panitia menetapkan tiga orang juri, masing masing adalah Aldi Rifaldi (Jakarta), Tonggo Simangunsong (SCA) dan Rangga Hadi (manajer Starbuck, Medan). Ketiga juri ini juga berkecimpung dalam dunia kopi.

Dengan waktu 10 menit itu, para barista cekatan meracik kopi yang dimulai dari proses awal, yakni menimbang kopi, menentukan takaran air, menentukan suhu air panas serta menuangkannya dalam gelas.

Setelah 10 menit berakhir, Host yang memandu acara itu langsung menghentikan kegiatan peracikan dan selanjutnya kopi hasil racikan itu disuguhkan kepada juri untuk dirasakan kualitasnya, sekaligus menentukan pemenangnya.

Dari 48 peserta, terplih 24 peserta untuk maju ke babak penyisihan kemudian ke-24 barista itu diadu lagi sampai terlahir 6 barista yang bertarung pada grand final. Para juara 1,2 dan 3 akan mendapatkan hadiah dan kesempatan bekerja ke luar negeri sebagai barista.

IMG-20171112-WA0065

Putra Sitanggang (25), salah satu barista yang lolos ke babak putaran kedua menyebutkan dalam menyeduhkan kopi sesuai tuntutan lomba, dia membuatnya dalam komposisi 1 : 12. Artinya, komposisi kopi 12 gr dan 180 gr air dengan suhu air 92 -96 derajat kemudian diturunkan suhunya sampai 85 derajat.

Dengan perpaduan kopi dan air seperti itu, rasa kopi yang diracik menjadi seimbang. Artinya, rasa pahit dan asam menyatu sehingga mendapatkan rasa manis.

Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Malaysia yang bekerja sebagai barista di salah satu cafe Malaysia ini mengatakan, komposisi kopi dan air untuk meracik kopi dan mendapatkan hasil yang berkualitas bermacam macam. Ada yang menggunakan komposisi 1: 14, 1: 10, 1: 13 dan 1: 14,2. Demikian juga suhu air panasnya.

Ketua ASC Joko Priyanto mengatakan, untuk memperoleh ilmu peracikan kopi, sudah ada 20 warga Binjai yang dikirim mengikuti pelatihan peracikan kopi ke BBPPK & PKK Lembang, Bandung. Ke 20 orang ini diharapkan mampu menambah jumlah barista di Sumut.

Menurut dia, barista merupakan sebuah profesi yang tidak bisa dinafikan begitu saja. Mereka adalah ujung tombak utama di bagian hilir industri kopi yang menghadirkan cita rasa kopi yang khas.

Sementara itu, Sekretaris ASC Agustinus Ompusunggu mengatakan, dirinya merasa berutang budi kepada kopi tetapi belkum belum mampu memajukan kopi sebagai sentra binis terkemuka sehingga petani kopi sulit sejahtera.

Padahal di satu sisi kopi Sumatera merupakan yang terbesar di Indonesai, tetapi masih sulit dikembangkan. Ini harus diperjuangkan agar petani, penggoreng kopi dan barista bisa hidup sejahtera.

Agustinus yang telah mengeluguti usaha kopi selama lima tahun ini mengaku prihatin dengan peringkat Indonesia menjadi negara produsen ke empat dunia. Padahal Indonesia adalah penghasil kopi terbesar di dunia. Konsumsi masyarakat Indonesia akan kopi masih rendah, yakni 1,1 kg/tahun/orang. Padahal di Spanyol bisa mencapai 3 kg/tahun/orang dan Filandia mencapai 11 kg/tahun/orang.

Salah satu penyebab minimnya masyarakat Indonesia mengkonsumsi kopi adalah adanya propaganda yang menyebutkan, minum kopi sangat berpengaruh kepada lambung.

Pendapat ini menurutnya sangat tidak mendasar. Kopi adalah minuman yang sangat bermanfaat untuk kesehatan dan dengan rendahnya konsumsi kopi di Indonesia maka akan berdampak pula terhadap minimya petani menanam kopi. Petani memegang peranan 60 persen menentukan kualitas kopi. Selebihnya, ditentukan roustery (penggoreng) sebesar 30 persen dan 10 persen oleh barista. (hasyim)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015