Cegah Stunting, IMA World Health Rangkul Tokoh Lintas Agama

Selasa, 14 Nov 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat prevalensi stunting pada balita yang tinggi yaitu 37,2% (Riskesdas 2013). Saat ini, hampir sembilan juta, atau lebih dari sepertiga balita di Indonesia stanting. Ini adalah kondisi ketika balita lebih pendek dari standar tinggi badan seumurnya. Dengan kata lain, bertubuh pendek.

Di Indonesia, lima provinsi dengan angka stunting tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (51,73 %), Sulawesi Barat (48 %), Nusa Tenggara Barat (45,26 %), Kalimantan Selatan (44,24 %), dan Lampung (42,63 %). Di Asia Tenggara, hanya Laos, Kamboja dan Timor Leste yang memiliki angka stunting lebih tinggi dari Indonesia.

Mengatasi masalah stunting dibutuhkan peran banyak pihak. Salah satunya keterlibatan kalangan organisasi keagamaan dan tokoh agama dalam menangani masalah kesehatan ini.

Karenanya, IMA World Health menggelar dialog lintas agama (Islam, Kristen, Protestan, Budha) yang fokus membahas stunting. Mereka juga membagikan bagaimana mereka menangani persoalan yang begitu serius bagi kemajuan bangsa ke depan.

Menurut M Ridwan Hasan, team leader Ima World Health, dampak buruk stunting adalah kemungkinan bonus demografi Indonesia 30 tahun mendatang bisa berbalik jadi malapetaka demografi. Sebab generasi penerus bangsa mengalami kekurangan gizi, sakit-sakitan, dan tidak dapat berpikir dengan baik.

IMG_20171114_202615

“Bangsa ini akan kehilangan generasi yang cerdas, jika stunting tidak ditangani dengan serius,” tandasnya, di Jakarta, Selasa (14/11).

Organisasi keagamaan lainnya sesungguhnya bisa mencontoh keterlibatan Fatayat NU dan Nasyiatul Aisyiyah, dalam mengatasi masalah stanting. Fatayat NU telah mencanangkan Barisan Nasional Cegah Stanting, sementara Nasyiatul Aisyiyah mengukuhkan Keluarga Muda Tangguh Nasyiah serta upaya pembekalan kader dan jejaringnya.

Selain itu, telah tercatat pula kolaborasi antara Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) bersama organisasi berbasis Islam – Fatayat dan keluarga besar Nadhlatul Ulama, Nasyiatul Aisyiyah dan keluarga besar Muhammadiyah serta Pelkesi dan jejaring denominasi Kristen.

Persagi, sesuai karakter lembaganya sebagai kumpulan ahli gizi telah banyak berperan sebagai narasumber dalam forum pembekalan dan pendidikan yang difasilitasi organisasi berbasis agama.

Belakangan ini Persagi juga telah melakukan riset kebijakan terkait pembangunan desa serta stanting. Hasil kajian, rekomendasi itu selanjutnya akan diadvokasikan Persagi bersama jejaring organisasi berbasis agama baik kepada pihak eksekutif maupun legislatif.

Ketua Bidang Organisasi dan Tata Laksana DPP Persagi Kresnawan mengatakan, stunting tidak hanya dialami oleh keluarga yang berlatar belakang ekonomi kurang mampu tapi juga terjadi pada keluarga ekonomi mampu.
 
“Secara nasional prevalensi stunting masih tinggi yakni 37,2%. Berdasarkan riset, angka stunting di keluarga miskin tercatat sebanyak 48,4%. Namun ternyata angka stunting di keluarga kaya juga cukup banyak jumlahnya mencapai 29%,” ungkap Kresnawan.

Indonesia sendiri juga telah menunjukkan komitmen sungguh-sungguh dengan bergabung dalam Scaling Up Nutrition (SUN) Movement serta menerbitkan Peraturan Presiden No. 42 tahun 2013 perihal Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.

Dalam semangat kerja percepatan itu, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan beragam upaya, di antaranya Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) serta Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM) untuk Cegah Stunting.

Semua upaya itu dilaksanakan melalui pendekatan kerja dengan banyak pihak (pemerintah, swasta dan masyarakat), multitingkat (nasional, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan rumah tangga) dan multisektor. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015