22.9 C
New York
29/05/2020
Aktual

Kementan Minta Pelaku Usaha Jaga Iklim Perunggasan Lebih Kondusif

JAKARTA (Pos Sore) — Untuk mengatasi penurunan harga ayam broiler hidup (live bird) di tingkat peternak yang diindikasi karena adanya kelebihan pasokan, Kementerian Pertanian mengimbau para pelaku usaha (stakerholder) untuk bersama-sama menjaga iklim usaha perunggasan yang lebih kondusif.

“Terkait dengan adanya kelebihan pasokan yang terjadi saat ini kita minta kepada semua pelaku usaha untuk melakukan usaha pemotongan, penyimpanan dan pengolahan,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita.

Ia katakan pasar untuk komoditi unggas di Indonesia saat ini didominasi fresh commodity, sehingga produk mudah rusak. Kecepatan distribusi dan keseimbangan supply demand menjadi faktor penting penentu harga. Ketut berharap agar hasil usaha peternak tidak lagi dijual sebagai ayam segar melainkan ayam beku, ayam olahan, ataupun inovasi produk lainnya.

“Kami meminta kepada pelaku usaha untuk melakukan pemotongan di RPHU (Rumah Potong Hewan Unggas) dan memaksimalkan penyerapan karkas untuk di tampung dalam cold strorage yang akan disimpan sebagai cadangan jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” imbaunya

Dikatakan, setelah memperhatikan situasi dan kondisi tentang harga ayam broiler hidup saat ini, ia pun berharap mulai Jumat (28/9) harga di Farm Gate dapat normal kembali.

Untuk wilayah Jabodetabek, Dirjen PKH berharap agar ayam Live Bird (ayam broiler hidup) dengan berat 1,8 kg/ekor sampai dengan 2,2 kg/ekor dijual dengan harga minimal Rp. 16.000 dan bertahap akan naik hingga menjadi Rp. 17.000.

Untuk wilayah Tasik, Priangan, Bandung, Subang, I Ketut berharap bisa mencapai harga Rp 15.000 hingga Rp 16.000. Sedangkan Jawa Tengah setidaknya dapat mecapai Rp 14.500 hingga Rp 16.000. Harga di Jatim diharapkan dapat mencapai Rp 16.000 hingga Rp 16.500, sedangkan Lampung mencapai kisaran Rp 16.000 hingga Rp 17.000.

“Dengan naiknya harga ayam broiler hidup secara bertahap diharapkan awal bulan Oktober 2018 sudah dapat mencapai harga sesuai dengan harga acuan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan,” ucap I Ketut Diarmita.

Menurutnya, kondisi daging ayam nasional pada 2018 ini memang mengalami surplus, bahkan sudah ekspor. Ia sebutkan potensi produksi karkas tahun 2018 berdasarkan realisasi produksi DOC (Januari-Juni 2018) dan potensi (Juli-Desember 2018) sebanyak 3.382.311 ton dengan rataan perbulan sebanyak 27.586 ton. Sedangkan proyeksi kebutuhan daging ayam (karkas) tahun 2018 sebanyak 3.051.276 ton, dengan rataan kebutuhan per bulan sebanyak 254.273 ton.

“Jika produksi kita berlebih ini kan justru yang kita cari daripada produksinya kurang ini yang berbahaya,” kata I Ketut Diarmita. “Kelebihan produksi ini yang kita sasar untuk tujuan ekspor, ini yang selalu kami himbau ke perusahaan integrator untuk terus menggenjot ekspor,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini Indonesia sudah ekspor telur tetas ayam ras ke Myanmar, DOC (Day Old Chicken) ke Timor Leste dan produk daging ayam olahan ke Jepang, PNG, serta Myanmar.

Ia jelaskan, pemerintah saat ini juga terus berupaya untuk mendorong peningkatan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang masih rendah. “Dengan meningkatnya konsumsi protein hewani, maka akan berdampak terhadap peningkatan permintaan produk hewan, termasuk daging unggas, sehingga dapat menyerap pasokan unggas di dalam negeri,” tandasnya. (tety)

Related posts

Muslim Kecam Pendirian Partai Anti-Islam di Australia

Tety Polmasari

Kemnakertrans-BNP2TKI Sepakat Soal Skorsing PPTKIS

Tety Polmasari

Pemkab Indramayu Berkomitmen Stop Perkawinan Anak

Tety Polmasari

Leave a Comment