Hasil Sebuah Penelitian (2)

Oleh MPU WESI GENI

Terkadang kerangka ditengah tanduan kami serba salah. Berkali-kali aku minta bertukar kedudukan dengan Yaswo. Ia hanya menurut saja. Aku yang agak gelisah.

Jika aku sedang memikul dari belakang, perhatianku tak lepas dari kerangka berbungkus berkepala kelapa yang terayun-ayun itu saja. Jika aku memikulnya berada di depan, seperti terasa kerangka itu akan menaikkan tangannya ke leherku, seolah-olah Yaswo telah bertukar dengan pemikul lain. Dan mungkin saja Yaswo telah pingsan di belokan jalan, diganti oleh dedemit yang membawa aku dan kerangka itu ke sarangnya di gunung.

‘’Kau di belakang sekarang, Yas,’’ ujarku, kemudian menunggingkan obor yang sumbunya mungkin tak mencapai minyaknya lagi.

Aduh! Sepertinya Yaswo ingin mengadakan percobaan itu di tempat terbuka pula. Ia berhenti sambil berkata, ‘’Rasanya seperti di sini, yang dikatakan dekat randu itu.’’

Aku tak dapat mencegah Yaswo, sungguh pun kukatakan kepadanya bahwa pemanggilan di alam terbuka ini akan mengundang banyak kemungkinan lain.

‘’Ah takut, sama orang mati saja… kok,’’ oceh Yaswo, yang membuat aku terdiam pula.

Asap setanggi mengepul. Diputar-putarkannya dupa itu kekelapa yang terpasang sebagai pengganti kepala rangka. Tiba-tiba kelapa itu bergoyang-goyang amat keras, seperti akan keluar dari tancapannya pada tulang leher. Yaswo mengatakan sasaran telah dekat dengan rangka kepala aslinya yang tidak begitu jauh lagi.

Kalau kukatakan aku terlompat lari karena sangat terkejut, apa ada yang menyalahkan aku?

Yaswo sendiri tidak melihat apa yang kulihat. Mula-mula ada gundukan pasir yang menggelembung seperti ada balon karet yang ditiup di bawahnya. Kemudian semakin ke atas, kelihatan ada bayangan putih yang terbang menuju kelapa dikepala rangka itu.

Entah apa yang terjadi, seperti berlaga antara kepala yang masih basah itu dengan kelapa yang berlobang bekas dilobangi tupai, bergeletekan, kemudian kelapa jatuh menggelinding ke tepi sungai. Sedangkan kepala tengkorak itu terpasang tepat seperti yang diharapkan.

Mula-mula ia melihat ke kiri kanan. Yang heran aku, pada ceruk bahagian mata yang kosong, bagai ada sinar sehalus cahaya kunang-kunang yang jurusnya tetap. Sedang yang kuketahui tidak ada biji mata terpasang di dalam tengkorak itu.

Yaswo memperhatikan apa yang juga kuherankan itu. Di dalam liang mata itu bagai ada kelereng mata yang hidup, yang letaknya lebih tersuruk ke dalam liang mata sesungguhnya.
Bahagian rahang bawah sering berdetakan, yang menunjukkan seolah-olah orang itu semasa hidupnya selalu memperlagakan giginya sendiri, seperti orang yang sedang menderit-deritkan giginya ketika sedang tidur.

***

Malam itu juga kami pulang. Yaswo menyandarkan rangka lengkap itu dengan perasaan puasnya. Memang, di sudut sebelah kiri pelipis, batok kepala itu seperti pecah terkena linggis atau lembing.

Ketika aku datang untuk kesekian kalinya ketempat Yaswo, keliling rangka itu telah ditaburinya dengan bermacam-macam bunga. Dua buah lilin yang tetap hidup, serta pedupaan yang nampaknya sering digunakan .

Aku semakin cemas.Takut Yaswo membuat diktat pelajaran sendiri pada jurusan antropologi klasik berbau spiritual sesat. Sebab Yaswo kelihatan sehari-hari semakin pucat. Mungkin juga karena sebahagian pada malam istirahatnya dipergunakan untuk berdialog dengan rangka itu.

Ketika aku datang lagi untuk entah keberapa kalinya, kulihat rangka itu telah ditata pula dengan bentuk lain. Tidak kelihatan lagi tulang-belulangnya. Entah bagaimana caranya, bahagian dalam telah diisi Yaswo dengan busa ringan yang sering digunakan sebagai penyangga barang elektronik di dalam packing. Seperti busa-busa ringan penyangga pesawat tv dalam kotak. Bahagian luarnya dibalut dengan plastic, diperhalus dengan warna sesuai warna kulit.
‘’Yas, dia seorang perempuan?’’ Tanyaku.

‘’Ya. Suaminya terlibat. Dia diperkosa oleh sejumlah laki-laki, kemudian dibunuh dengan punggung golok. Ia meminta kepadaku untuk mencari rangka suaminya!’’

Aku menarik nafas panjang mendengar apa yang dikatakan Yaswo sebagai kelanjutan risetnya mengenai rangka itu. Sambil kuiringkan dengan mata, Yaswo membuka sebuah bungkusan. Ternyata sesalin pakaian perempuan yang baru dibelinya dari Prambanan. Dipakaikannya kepada patung itu. Kini tepat benar bentuknya seperti seorang perempuan desa, yang polos dengan muka kedungu-dunguan.

Yang kubayangkan, apa perasaan Yaswo ketika malam, di saat dia dan patung itu saja tinggal di dalam kamarnya. ‘’Yas,’’ desakku, ‘’apakah bahagian-bahagian yang tersembunyipun kau lengkapkan bentuknya?’’

‘’Maksudmu Wesi?’’ Balas Yaswo, sambil memperhatikan cahaya mataku, kemudian mengulas lagi. ‘’Tentu! Tentu,untuk melengkapi jenisnya.’’

Rasanya ingin aku segera membuka kain panjang patung berbalut plastik dengan kerangka manusia itu. Ingin melihat bahagian tersembunyi yang dikatakan Yaswo. Tetapi aku sendiri, jadi bergidik pula akan merabakan tangan menaikkan pegangan ke atas kain batik yang telah dipakaikan kepada patung berujud manusia itu.

Kerja Yaswo seharian menghilangkan bagian-bagian dari bungkusan dan kulit plastik bahagian luar, yang lunak dan gembur, karena dilapisi dengan busa yang tidak sama tebalnya.
Sepeninggal Yaswo mandi, kucoba memeluk patung itu. Aduhhh…berdiri bulu tengkukku. Karena hampir tak berbeda dengan memeluk seorang perempuan sesungguhnya.Mungkin karena Yaswo telah melengkapi bahagian-bahagian tertentu dengan keempukan yang serasi. Misalnya, bahagian-bahagian empuk,dilengkapi dengan busa yang lebih halus dan kenyal bila tertekan.

***

Entah apa yang mendorongku untuk tiba tiba saja datang ke gubuk Yaswo dari Prambanan, sehingga aku membangunkan Mang Tono, sais delman. Sengaja aku tidak memberi tahu atau tanda apa pun tentang kedatangan itu. Tiba di depan gubuk, pelan pelan kulangkahkan kakiku. Astaghfirullah…ketika kuperhatikan apa yang dilakukan Yaswo di dalam gubuknya, aku jadi paham, aku tak heran lagi mengapa akhir akhir ini penampilan Yaswo sehari-hari semakin pucat saja.

Di bawah cahaya lampu samar-samar, Yaswo sedang bergulat dengan manusia ciptaannya itu. Mula- mula, kusangka ia berkelahi melepaskan rangkulan jailangkung sempurna itu. Tetapi rupanya, mereka sedang berangkulan. Dan Yaswo kelihatan menekankan bagian bawah badannya dengan sungguh-sungguh. Kain batik patung itu terlepas seluruhnya.

Ia memang seorang pelukis berbakat, dan dapat menggambarkan bagaimana bentuk pangkal kaki seorang perempuan yang ideal. Darahku berdesir, ketika kulihat Yaswo dengan sungguh-sungguh menenggelamkan bahagian tubuhnya ke antara pangkal kedua kaki jailangkung super lengkap itu. Jailangkung gadis desa itu membalasnya dengan sentakan-sentakan memutar, membuat Yaswo mengerang-erang halus.

Dalam remang-remang cahaya lampu, tak ada bedanya Yaswo sedang menggumuli seorang perempuan asli. Karena bahagian lunak yang tertekan itu menolong sekali perasaannya yang sedang menggebu, berkejaran dengan nafas memburu.

Tetapi, di pendakian terakhir kudengar Yaswo mengerang. ‘’ Adduuh…aduuuuuhh jeng!’’ Yaswo terkulai.

Aku pun terangsang di luar gubuknya. Mau aku rasanya menggantikan Yaswo, bila ia terdampar ke pantai keletihan berkayuh. Tetapi kudengar Yaswo mengaduh terus, terus dan terus. Oleh sebab itu pintu kudobrak, dan Yaswo menggapai kepadaku.

Sebulan lamanya Yaswo harus meminum obat kampung, karena alat vitalnya cedera besar disebabkan berhubungan dengan jailangkung berperlengkapan seorang perempuan selengkapnya itu.

Tiada jalan lain, dan tidak perlu kuberi tahu kepada Yaswo, akhirnya jailangkung super itu kubakar, seperti mayat menggeliat.

Aku sendiri hampir saja tergoda olehnya, seperti Yaswo yang berbuat kepadanya. Kupandang sekali lagi jailangkung betina itu, berletupan dimakan api. Di belakang kami nek Marfuh keheranan…. Kami pun mendamaikan hati perempuan tua itu dengan senyum, dan meraih ubi rebus yang dibawakannya. (Ikuti terus kisah selanjutnya/ ras)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!