PDIP Reaktif, Dituduh Dengar Pidato Sepotong-sepotong

Prabowo mengatakan jika keinginan rakyat untuk memiliki pemimpin baru tak terwujud, Indonesia bisa punah. Sebab elit yang berkuasa di Indonesia selalu gagal menjalankan amanat rakyat.

—————————————————-

Possore.com — Lagi, politik reaktif diperlihatkan politisi PDI Perjuangan (PDIP) setelah sebelumnya pihak pendukung utama calon presiden petahanan ini juga bereaksi atas pembakaran baliho dan atribut Partai Demokrat di Pekanbaru, Riau.

Sehari setelah Prabowo berpidato pada Konferensi Nasional Partai Gerindra yang menyebut Indonesia bakal punah jika keinginan rakyat untuk memiliki pemimpin baru tak terwujud, satu politisi PDIP,Charles Honoris, lalu menyindir soal kekuatan Orde Baru di bawah kepemimpinan mantan mertua Prabowo, Soeharto, yang justru telah punah.

Saat mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Umum Partai Demokrat sedih dan menyesalkan pembakaran baliho dirinya dan sejumlah artibut PD dibakar, lalu berencana mengadakan rapat darurat terkait hal ini, salah satu pengurus DPP PDIP, Andreas Pareira, memberikan reaksinya.

PDIP juga mengalami perusakan baliho di sejumlah daerah. Meski begitu, PDIP tak mau sama dengan Partai Demokrat (PD), yang langsung menggelar rapat darurat untuk menghadapi permasalahan tersebut.

“Nggak usah cengeng-cengenglah, kita nggaklah (kayak Demokrat), kita tetap bermain fair, terhadap yang melakukan anarkis, perusakan itu tinggal lapor ke pihak keamanan,” ujar Andreas.

Terkait pidato Prabowo, Charles mengatakan, “Kalau kita boleh sedikit mengingat, Gerindra justru lahir setelah Orde Baru, yang dipimpin oleh mertua Prabowo selama 32 tahun, telah punah karena ditumbangkan oleh kekuatan rakyat. Jadi kalau dibilang Indonesia akan punah kalau Gerindra kalah, maka rakyat Indonesia jugalah yang akan menertawakan Prabowo,” ungkap Charles Honoris kepada wartawan, Selasa (18/12).

Namun pernyataan kader PDIP ini pun langsung mendapat jawaban. Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade, mengatakan mereka yang mengkritik pidato Ketua Umum Partai Gerindra itu tidak mendengarkannya secara utuh.

“Orang itu kan mendengar pidato Pak Prabowo sepotong-potong sih ya. Tidak komplit sehingga mereka menyalahartikan. Padahal Pak Prabowo dalam pidatonya lengkap menjelaskan maksudnya bahwa Indonesia bisa punah kalau salah mengelola ekonomi bangsa,” kata Rosiade (18/12).

Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga itu mencontohkan soal pengelolaan ekonomi RI yang dinilai tidak tertata. Dia kemudian menyinggung pidato Prabowo yang mengatakan tiap bayi lahir menanggung utang Rp 9 juta.

“Mengelola ekonomi bangsa itu contoh seperti utang kita, bahkan bayi baru lahir sudah ada beban utang 9 juta. Kemudian pendapatan per kapita kita itu 4000 Dolar AS per tahun,” jelasnya.

“Nah kalau dihitung beban utang kita sebenarnya pendapatan per kapita kita hanya 2000 Dolar AS per tahun. Itu sama kayak Afganistan atau negara Afrika lain. Nah kalau kita tidak serius membenahi, ini yang bikin negara kita terus tertinggal,” imbuh Andre.

Andre juga menjelaskan, pernyataan eks Danjen Kopassus itu bertujuan memotivasi para kader Gerindra untuk berjuang memenangkannya di Pilpres 2019. “Kalau Pak Prabowo bersama Bang Sandi dibilang harus menang ya wajar. Kan dalam rangka memotivasi para kader dan relawan,” kata Andre.

Sebelumnya Prabowo mengatakan jika keinginan rakyat untuk memiliki pemimpin baru tak terwujud, Indonesia bisa punah.

Karena itu, Prabowo menegaskan bahwa ia dan Sandiaga Uno tidak boleh kalah di Pilpres 2019. Sebab, menurutnya, elite yang berkuasa di Indonesia selalu gagal menjalankan amanah rakyat dan membuat negara bisa punah. (lya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!