Tsunami Anyer dan Lampung, Ini Penjelasan BMKG

JAKARTA (Pas Sore) — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan tsunami yang terjadi di pantai barat Banten bukan disebabkan oleh gempa bumi sebagaimana informasi sebelumnya. Melainkan karena erupsi Gunung Anak Krakatau.

BMKG menduga tsunami dengan ketinggian tertinggi 0,9 meter ini disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau, yang pada Sabtu (22/12) bererupsi hingga 4 kali, terakhir pada pukul 21.03 WIB.

Erupsi gunung api itu diduga menyebabkan guguran material yang jatuh ke lautan dan akhirnya mengakibatkan gelombang tinggi.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, menjelaskan, gelombang tinggi yang menerjang wilayah Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12) malam adalah tsunami kecil. Berdasarkan ciri gelombangnya, tsunami yang terjadi mirip dengan di Palu, Sulawesi Tengah. “Periode gelombang pendek-pendek,” katanya, di Jakarta, Minggu (23/12).

BMKG berupaya untuk mengumpulkan seluruh informasi dan menganalisis karena ada beberapa hal yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan. Jadi rentang waktu mulai tanggal 21-22 Desember. Pada 21 Desember Badan Geologi mengumumkan terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau dan level meningkat pada level waspada.

“Kemudian BMKG mulai kemarin pukul 07.00 WIB memberikan peringatan dini karena kami menganalisis dan mendeteksi ada potensi gelombang tinggi di perairan Selat Sunda, diperkirakan mulai kemarin 21-25 Desember. Ini dua peristiwa berbeda tapi terjadi di waktu yang sama dan lokasi yang sama-sama di perairan Selat sunda. pertama adalah erupsi Gunung Anak Krakatau dan kedua potensi gelombang tinggi,” jelasnya.

Pada 22 Desember pukul 09.00 – 11.00 WIB tim BMKG ada di perairan Selat Sunda melakukan uji coba instrumen di situ terverifikasi terjadi hujan lebat dengan gelombang dan angin kencang. Karena itu, tim kembali ke darat dan akhirnya masih pada 22 Desember pukul 21.03 WIB Badan Geologi mengumumkan terjadi lagi erupsi Anak Gunung Krakatau.

Kemudian 21.27 WIB, Tidegauge Badan Informasi Geospasial yang terekam BMKG menunjukkan ada tiba-tiba kenaikan muka air pantai. Ada kenaikan air.

“Kami analisis, kami memerlukan waktu apakah kenaikan air air pasang akibat fenomena atmosfer yang ada gelombang tinggi yang ada bulan purnama. Namun, ternyata setelah analisis lanjut, gelombang itu merupakan gelombamg tsunami,” terangnya.

“Jadi tipe polanya mirip dengan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Utara, sehingga kami koordinasi segera dengan Badan Geologi dan kami sepakat bahwa diduga, kenapa ini diduga karena datanya belum cukup waktu saat ini kami belum bisa cek ke lapangan masih gelap, tadi kita coba pakai alat tapi tidak terlihat namun ada indikasi yang terjadi memang pada hari yang sama ada gelombang tinggi, purnama, dan erupsi Anak Gunung Krakatau yang diduga menyebabkan tsunami,” lanjutnya.

Jadi tsunami yang terjadi bukan karena seperti yang disampaikan BMKG gempa. Tadi sudah dicek tidak ada gejala tektonik yang menyebabkan tsunami sehingga setelah kami koordinasi bahwa diduga akibat erupsi tersebut kemungkinan bisa langsug atau tidak langsung memicu terjadinya tsunami.  

Kami masih perlu mengecek pada saat sudah terang, kami mencurigai longsor karena pola grafik tsunami periodenya pendek-pendek dan mirip seperti Palu karena longsor. Besok pagi kami berupaya mengumpulkan data lagi apakah benar itu karena longsor tebing. 

Tsunami cukup jauh sampai Bandar Lampung, Cilegon, Serang, Banten dan artinya energinya cukup tinggi. Sehingga yang paling penting bagi masyarakat tenang namun jangan berada di pantai Selat Sunda, baik di wilayah Lampung, Banten, Serang, itu jangan kembali dulu. Karena pemicunya ini masih diduga. (*/tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!