Anggota DPR/MPR RI Ahmadi Noor Supit: Sampaikan “Sosialisasi Empat Pilar MPR”

BARITO KUALA (Pos Sore.com)  Pemantapan pemahaman Pancasila di kalangan anak muda menghadapi tantangan yang berat di era keterbukaan dan digitalisasi seperti saat ini. Jaringan internet dan media sosial menjadi salah satu faktor yang paling rawan dalam penyebaran paham dan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila.

“Media sosial mempunyai peran signifikan dalam menyajikan informasi bagi anak-anak muda. Tanpa saringan dan mentor pembelajaran informasi di media sosial ditelan mentah-mentah, sehingga menggerus pemahaman mengenai nilai-nilai Pancasila,” ujar Anggota DPR/MPR RI Fraksi Partai Golkar Ahmadi Noor Supit dalam acara Sosiaisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan di Negara di Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Anggota DPR/MPR RI Fraksi Partai Golkar Ahmadi Noor Supit (tengah) saat berdialog dengan Masyarakat Barito Kuala Kalsel sesaat akan menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR.

Supit menilai pemahaman Pancasila di kalangan kaum muda cenderung menurun. Berdasarkan survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) disebutkan sekitar 39 persen mahasiswa di kampus-kampus besar di 15 provinsi memiliki ketertarikan pada paham radikalisme.

Temuan Wahid Institute juga menunjukan hal serupa. Sebanyak 11 juta orang penduduk Indonesia menyatakan bersedia melakukan tindakan radikal, 0,4 persen penduduk Indonesia pernah melakukan tindakan radikal dan 7,7 persen mau bertindak radikal jika memungkinkan.

“Riset Universitas Islam Negeri Jakarta tahun 2017 menyatakan 54,87 persen anak-anak muda memiliki pemahaman radikal dari internet. Sementara, survei LSI menyebutkan pendukung Pancasila mengalami penurunan setiap lima tahun. Kondisi seperti ini sungguh sangat memprihatinkan,” tuturnya.

Supit menilai kondisi tersebut tidak lepas dari maraknya informasi dan berita palsu yang beredar luas di media sosial. Menurut data Kementerian Kominfo tahun 2017, terdapat lebih dari 15 ribu aduan ujaran kebencian dan lebih dari 6.000 aduan berita palsu. Banyaknya informasi dan berita palsu itu telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat.

“Pengaruh internet dan media sosial membuat setiap orang mudah mencari informasi tanpa mengindahkan kaidah-kaidah konfirmasi dan verifikasi. Kemajuan Iptek bagaikan pisau bermata dua, di satu sisi membawa kemajuan dan kesejahteraan, tapi di sisi lain dapat merusak nilai-nilai moral masyarakat serta menggerus pemahaman Pancasila dengan berita palsu,” katanya.

Karenanya, Supit meminta semua pihak, khususnya kaum muda, mau terlibat aktif dalam meningkatkan kembali pemahaman atas ideologi Pancasila. Terlebih, kaum muda mempunyai peran penting dalam masyarakat sebagai agen kontrol sosial dan agen perubahan sosial.

“Sebagai agen kontrol sosial, mahasiswa selalu kritis terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya. Mereka tidak pernah puas dengan keadaan. Sebagai agen perubahan sosial, mahasiswa dengan kreativitas, inovasi dan idealismenya selalu tampil membawa perubahan bagi masyarakat,” tutup Supit. Bambang Tri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!