Keberhasilan Upsus Siwab Tingkatkan Populasi Sapi dan Kesejahteraan Petani

JAKARTA (Pos Sore) — Untuk mempercepat peningkatan populasi sapi/kerbau Kementerian Pertanian telah mencanangkan program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) pada Oktober 2016 yang bertujuan mempercepat peningkatan populasi sapi di tingkat peternak.

Program ini keberlanjutan dari program Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan (GBIB) sebelumnya, namun lebih komprehensif dengan lebih mengoptimalkan pelayanan reproduksi kepada sapi-sapi milik peternak.

Untuk mensukseskan pelaksanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan tersebut telah dibuat program terobosan Ditjen PKH: Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab), Penambahan sapi indukan impor, Peningkatan status kesehatan hewan, Penjaminan keamanan pangan asal ternak.

“Dari program percepatan tersebut, telah terjadi lompatan populasi yang cukup signifikan,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita pada acara Bincang Asyik Pertanian Indonesia (BAKPIA), di Gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Kementerian Pertanian, Selasa (8/1).

Dikatakan, hal itu terlihat dari rata-rata pertumbuhan populasi sapi-kerbau dari sesudah program GBIB dan Upsus Siwab (2014-2017) mengalami kenaikan sebesar 3,86 persen per tahun, dibanding pertumbuhan populasi sebelum program GBIB dan Upsus Siwab (2012 – 2014) dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya sebesar 1,03 persen.

Ia menambahkan, dalam dua tahun pelaksanaan program, capaian kinerja program Upsus Siwab sangat fantastis. Terlihat dari pelayanan Inseminasi Buatan/IB dari Januari 2017 hingga 31 Desember 2018 telah terealisasi 7.964.131 ekor.

Sementara itu, kelahiran pedet mencapai 2.743.902 ekor atau setara Rp 21,95 Triliun dengan asumsi harga satu pedet lepas sapih sebesar Rp 8 juta per ekor. Ini adalah nilai yang sangat fantastis mengingat investasi program Upsus Siwab pada 2017 sebesar Rp 1,41 triliun, sehingga ada kenaikan nilai tambah di peternak sebesar Rp 20,54 Triliun.

“Esensi Upsus Siwab adalah mengubah pola pikir petani ternak domestik yang cara beternak peternaknya selama ini masih bersifat sambilan diarahkan ke praktik beternak yang menuju ke arah profit dan menguntungkan bagi peternak,” kata I Ketut Diarmita.

Menurutnya, dampak Upsus Siwab juga mampu menurunkan pemotongan betina produktif melalui kerja sama dengan Baharkam Polri. Pemotongan sapi dan kerbau betina produktif secara nasional pada periode Januari sampai November 2018 sebanyak 8.514 ekor. Jumlah pemotongan tersebut menurun 57,12 persen dibandingkan dengan pemotongan sapi dan kerbau betina produktif pada periode yang sama pada 2017.

“Upsus Siwab juga telah mampu menghasilkan sapi-sapi yang berkualitas dengan peningkatan kualitas sumber daya genetik ternak sapi,” tambahnya

Sementara untuk meningkatkan produksi daging sapi, Kementan juga melakukan pengembangan sapi “Belgian Blue” yang memiliki perototan besar yang beratnya bisa mencapai diatas 1,2 sampai 1,6 ton.

Belgian Blue sendiri bukan sapi biasa, pertambahan bobot badannya tinggi sekali, per hari bisa mencapai 1,2 sampai 1,6 kilogram. Sampai saat ini, berdasarkan data dari Kementan telah ada 124 ekor kelahiran sapi Belgian Blue yang berhasil dikembangbiakkan baik dari hasil Transfer Embrio (TE) maupun Inseminasi Buatan (IB) dan sudah ada sebanyak 416 ekor sapi bunting. Kementan menargetkan kelahiran 1.000 pedet Belgian Blue pada 2019, baik melalui IB maupun TE. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!