Kebebasan Pers Bukanlah Kebebasan Pemilik Pers

Kita mulai melihat gejala bersekutunya pers dengan konglomerasi bisnis dan bahkan kekuatan politik. Mereka membangun kekuatan negara dan pasar, secara terbuka melakukan monopoli yang membuat mereka bekerja untuk kepentingan di belakang mereka.

Oleh Fahri Hamzah

Pers ketika lahir, kesadaran awalnya adalah bahwa kebebasan itu milik setiap orang, bagian dari konsep HAM yang lahir secara universal. Maka, tugas dasar pers adalah menjadi medium bagi percakapan dalam negara, lintas kepentingan dan kelompok merdeka.

Dalam masyarakat dan bangsa ada negara sebagai organisasi, ada pasar tempat mencari nafkah dan ada rakyat sebagai partisipan. Semua memberikan pengaruh kepada pers dan semua punya keinginan mendominasi. Tugas pers; menjaga jarak dan menjunjung kebenaran.

Dalam kepentingan dan keharusan menjaga jarak dan menjunjung kebenaran, maka pers muncul menjadi kekuatan ke-4 di antara negara, pasar dan rakyat. Pers juga muncul menjadi kekuatan dalam negara; di antara eksekutif, legislatif dan judikatif.

Karena itu, pers pada masanya pernah sangat mempengaruhi perubahan sosial dan jalannya reformasi di tengah kehidupan. Sekarang, pers menghadapi tantangan berat yang belum pernah di hadapi sebelumnya; kultur digital dan media sosial.

Setelah kebebasan ada diujung jari manusia, apa tugas pers? Bukankah sejak awal pers adalah fasilitator kebebasan? Setelah kebebasan diberikan oleh teknologi kepada setiap manusia melalui gadget -nya apakah pers masih ada gunanya? Inilah pertanyaan berat yang harus dijawab pers.

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu untuk pers, saya hanya mengutip kembali bahwa, “kebebasan pers bukan kebebasan pemilik pers”. Ini penting, karena yang dihantam oleh teknologi media sosial adalah bisnis pers. Teknologi penyiaran makin murah.

Jika pers dipaksa melawan teknologi penyiaran yang semakin gratis maka pasti pers akan mati. Nanti, bahayanya adalah jika bisnis pers atas nama survival berkolaborasi melawan media sosial, dengan bersekongkol dengan negara atau pasar maka masa depan kebebasan terancam.

Kita mulai melihat gejala bersekutunya pers dengan konglomerasi bisnis dan bahkan kekuatan politik. Mereka membangun kekuatan negara dan pasar, secara terbuka melakukan monopoli yang membuat mereka bekerja untuk kepentingan di belakang mereka.

Padahal, tugas pers adalah menjaga jarak dan menjunjung kebenaran. Tugas pers adalah menjaga akal sehat dalam negara. Bisakah mereka tetap memegang fungsi suci jurnalisme ini dengan tantangan berat yang ada? Kita lihat saja. Sekali lagi saya ucapkan: Selamat Hari Pers Nasional. (Penulis: Wk Ketua DPR RI)

Dari twitter @Fahrihamzah 9/2/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!