ICC Pertemukan Para Pemimpin Asia Pasifik Bahas Masa Depan Ekonomi Global

JAKARTA (Pos Sore) — The International Chamber of Commerce (ICC) — organisasi bisnis terbesar di dunia, mengadakan Forum CEO Asia Pasifik ke-5 di Jakarta, Senin (12/3). Mempertemukan para CEO dan pejabat senior pemerintah untuk membahas keterkaitan antara perubahan iklim dan perdagangan.

Forum ini juga membicarakan bagaimana bisnis di kawasan Asia Pasifik dapat mencapai sasaran-sasaran pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang sejalan dengan agenda PBB pada 2030 untuk manusia, planet, dan kemakmuran.

“Forum CEO ICC adalah kesempatan unik, yang mempertemukan para pemimpin Asia Pasifik untuk membahas masa depan peluang bisnis, investasi dan perdagangan yang akan dipengaruhi oleh isu-isu yang bersifat global,” kata Sekretaris Jenderal ICC John W.H. Denton AO, di Jakarta.

Hadir menjadi pembicara dan panelis di forum ini antara lain adalah Ilham Akbar Habibie (Presiden ICC Indonesia), Luhut Binsar Panjaitan (Menko Kemaritiman), dan Bambang Brodjonegoro (Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia).

Selain itu, Ajay Banga (First Vice-Chair, International Chamber of Commerce, Presiden dan CEO Mastercard), John W.H. Denton AO (Sekretaris Jendral International Chamber of Commerce), dan Shinta Kamdani (Presiden, Dewan Bisnis untuk Pembangunan Berkelanjutan Indonesia-IBCSD).

Ada juga Raghu Mody (Founder ICC Asia Pacific CEO Forum), Mari Pangestu (mantan Menteri Perdagangan Indonesia, Presiden Yayasan Upaya Indonesia Damai-United In Diversity Foundation), Paul Polman (Ketua, International Chamber of Commerce-ICC), V.P. Sharma (CEO PT Mitra Adhi Perkasa-MAP), dan Virginia Tan (pendiri Teja Ventures).

Dalam forum ini membahas bagaimana suatu sistem perdagangan multilateral berbasis aturan yang kuat dapat bersinergi dengan kerangka kerja global jangka panjang dalam menghadapi perubahan iklim. Pada kesempatan yang sama juga diluncurkan satu laporan baru tentang perubahan iklim dan perjanjian perdagangan.

Laporan yang berjudul ‘Perubahan iklim dan perjanjian perdagangan: Kawan atau Lawan?’ itu dibuat oleh Economist Intelligence Unit (EIU), dan diterbitkan oleh ICC bermitra dengan Kamar Dagang dan Industri Qatar.

Dalam laporan itu menilai sejauh mana Organisasi Perdagangan Dunia serta empat perjanjian perdagangan bebas yang ada saat ini, mendukung peluang untuk meningkatkan aliran perdagangan yang ramah iklim.

ICC ini serupa organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang perdagangan. Beranggotakan sekitar 100 perusahaan yang didominasi oleh perbankan dan kantor hukum. Pada 2019, organisasi ini akan menggandeng usaha-usaha ekonomi digital agar bargaining position makin kuat.

Organisasi ICC akan terus mendorong usaha-usaha ekonomi digital untuk bergabung. Tujuannya, agar posisi tawar usaha ekonomi digital Indonesia dan negara lain makin tinggi di kancah perdagangan internasional. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!