BSN: Standardisasi Dukung Konsep Masyarakat 5.0

JAKARTA (Pos Sore) — Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Bambang Prasetya, menegaskan, pentingnya penyiapan standardisasi memasuki era kemasyarakatan (society) 5.0. Di era ini, teknologi dan manusia akan mengubah perkembangan peradaban manusia.

Menurutnya, standardisasi itu harus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan penduduk Indonesia. Perkembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dan harus mengikuti tren yang juga dialami penduduk di belahan dunia lain.

“Kita harus antisipasi sejak awal. Kita harus mengikuti tren dunia, cocokkan dengan kondisi Indonesia sehingga kita siap,” tegasnya di sela Seminar Standardization in a Living Society 5.0, di Jakarta, Rabu (27/3).

Seminar ini menghadirkan narasumber Chairman of Japan Society 5.0 Standardization on Promotional Committee, Masahide Okamoto, Staf Ahli Menteri PPN Bidang Pemerataan dan Kewilayahan, Oktorialdi.

Selain itu, Ketua KADIN Rosan Perkasa Roeslani, Staff Ahli ICT Kementerian Kominfo Dedy Permadi, Direktur Utama PT Adhya Tirta Batam,Benny Andrianto Antonius, dan dimoderatori Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara.

Saat ini, Indonesia sudah memasuki era industri 4.0. Berbagai standardisasi pemerintah Indonesia pun telah merespon kebutuhan era ini. Industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data. Dikenal dengan istilah ‘Internet of Things’ (IoT).

Katanya, Revolusi industri 4.0 menekankan pula pada kemampuan kecerdasan buatan (artificial intellegent) sehingga ada kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi. Nah, Jepang berencana untuk menciptakan super smart society atau society 5.0.

Karenanya, Bambang mengingatkan, kemajuan teknologi yang begitu cepat tersebut, perlu diantisipasi. Salah satunya dari sisi standardisasi. Jarak pencanangan era revolusi industri 4.0 dan era kemasyarakatan (society) 5.0 di dunia sangat dekat.

“Jepang merupakan negara pertama yang mendeklarasikan kesiapan ke era society 5.0. Tujuan era ini tentu efisiensi. Namun efisiensi itu juga harus mengacu pada mutu. Kita harus mulai gunakan teknologi untuk memanusiakan manusia,” tandasnya.

Wacana society 5.0, tambah Bambang, sudah di depan mata. Standardisasi harus melihat kondisi Indonesia, yang kondisi antar daerah tidak sama.

Bambang menjelaskan, generasi sekarang berubah, mulai dari society 1.0 sampai society 5.0. Peran standardisasi dalam perkembangan peradaban manusia tidak bisa dipungkiri.

Standardisasi ada sejak peradaban manusia itu ada, maka perkembangan standardisasi akan selalu berjalan beriringan dengan perkembangan peradaban. “Standardisasi akan selalu menjadi flatform bagi kehidupan manusia,” tegas Bambang.

Sementara itu, di era revolusi industri 4.0 sudah ada 223 Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mendukungnya. Sedangkan untuk mendukung konsep masyarakat 5.0, ada 504 SNI. Standar tersebut, di antaranya menyangkut keamanan informasi, record management, logistik dan infrastruktur.

Untuk menjamin mutu, keselamatan, dan kemananan dalam menggunakan teknologi inovasi, penerapan SNI menjadi sangat penting. Tanpa standar, teknologi, inovasi, produk atau sistem tidak bisa bekerja secara selaras.

“Apalagi kaitannya dengan data dan informasi, misalnya drone, robot, keamanan informasi karena melibatkanbig data, smart city,” tandas Bambang.

Melalui Seminar Standardization in a Living ‘Society 5.0’ ini diharapkan dapat dirumuskan strategi pengembangan standardisasi dalam menghadapi era society 5.0.

“Ini adalah wahana yang tepat bagi para pemangku kepentingan untuk berdiskusi, dan menjalin kerjasama yang positif yang pada akhirnya dapat tersusun kebijakan strategis standardisasi dalam menyongsong era society 5.0,” ujar Bambang. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!