FOI-Y Waste Kerja Bareng Atasi Kelaparan di Sekolah

JAKARTA (Pos Sore) — Perut yang lapar dapat mengakibatkan menurunnya konsentrasi siswa saat belajar. Siswa menjadi sulit menerima pelajaran dengan baik. Tak jarang menimbulkan rasa malas, lemas, lesu, lebih emosional, gelisah, dan anemia.

Jelas, berbagai kondisi itu dapat mengganggu proses belajar mengajar di sekolah. Tapi apakah benar anak Indonesia mengalami kelaparan di saat Indonesia sudah merdeka puluhan tahun dan pembangunan infrastruktur yang masif? Sepertinya sulit diterima oleh akal.

Tapi nyatanya demikian adanya. Anak-anak di berbagai daerah di Indonesia sering pergi sekolah dalam kondisi lapar.
Seperti yang terungkap dalam observasi yang dilakukan Foodbank of Indonesia (FOI), angka kelaparan di sekolah tingkat PAUD di wilayah Jakarta dan Banten mencapai 40-50%.

Hal ini dialami pula oleh anak-anak sekolah yang menurut Sensus tahun 2010, sebanyak 20 – 40% dari sekitar 66 juta anak-anak usia sekolah berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar.

Ya tak heran jika anak-anak tersebut mengalami gangguan konsentrasi belajar saat proses belajar mengajar tengah berlangsung. Apakah kondisi ini harus diamkan begitu saja?

Tentu saja tidak. FOI — organisasi sosial nirlaba yang bergerak di bawah Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dengan misi memerangi kelaparan dan
meningkatkan gizi pada anak-anak, pun berkolaborasi dengan Y Waste Indonesia untuk mengatasi persoalan yang menyangkut kelangsungan hidup generasi penerus bangsa ini.

Kedua pihak ini bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Kamis (2/5) menandatangani kesepakatan kerja bersama (MoU) untuk membantu penyediaan pangan untuk anak sekolah.

Sungguh ironi, di saat Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, di saat yang sama kita masih berhadapan
dengan kondisi anak-anak yang pergi ke sekolah dalam kondisi kelaparan di berbagai daerah di Indonesia. Fakta yang tidak bisa dibantah.

Itu sebabnya, kerjasama ini bertujuan untuk menggalang makanan dari hotel, restoran dan kafe melalui teknologi berbasis aplikasi yang segera diluncurkan tahun ini. Aplikasi ini akan menjadi aplikasi donor makanan pertama di Indonesia dan diharapkan dapat menjadi solusi mengatasi persoalan kelaparan di sekolah.

Perkembangan teknologi digital dan program pangan FOI Mentari Bangsaku mendorong terjalinnya kolaborasi untuk mengelola makanan yang berlebih untuk disebarkan pada anak-anak yang membutuhkan.

Y Waste dan Foodbank of Indonesia (FOI) memahami tantangan kebutuhan anak-anak
yang mengalami kekurangan ini. Karena berdasarkan data The Global Food Banking Network (GFN) menunjukkan ada 1,3 juta ton makanan jadi terbuang percuma setiap tahunnya.

Dan, ironisnya, Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu dari lima besar negara di dunia dengan jumlah sampah makanan yang terbuang percuma.

Sedangkan menurut Global Hunger Index (GHI) Indonesia menunjukkan skor indeks kelaparan sebesar 22 persen. Skor yang menunjukkan Indonesia berada pada skala serius. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian 2016 dari Organisasi Pangan Dunia (FAO), diperkirakan sebanyak 19,4 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan.

Hal-hal itulah yang mendasari kerjasama FOI & Y Waste yaitu dengan menghubungkan
pihak yang memiliki kelebihan pangan dan pihak yang membutuhkan pangan.

Kolaborasi Y Waste dan FOI bergerak untuk menjadikan makanan berlebih sebagai bahan pangan yang bermanfaat bagi anak-anak yang kekurangan pangan. Makanan berlebihan dari berbagai sumber seperti hotel, restoran dan kafe ini bisa lebih mudah disalurkan dengan peluncuran aplikasi Y Waste Indonesia.

Ian Price, founder Y Waste Australia mengatakan, aplikasi ini telah berjalan
dengan baik di Australia dan berharap dapat menjadi aplikasi solusi di Indonesia.

Pemilihan FOI sebagai mitra Y Waste tak lepas dari pengalaman FOI sebagai bank
makanan yang telah beroperasi lebih dari 4 tahun dan memiliki lebih dari 500 relawan di 17 titik wilayah operasi. FOI yang berdiri pada 21 Mei 2015, ini sepanjang 2018 telah mendistribusikan 305 ton makanan kering dan 6.000 porsi makanan kepada mereka yang membutuhkan di 27 daerah Indonesia.

“Aplikasi ini diluncurkan dengan harapan bisa mengurangi makanan terbuang hingga 40% dan dapat membantu dunia usaha bidang pangan untuk lebih bijak mengelola left over food (makanan berlebih yang berpotensi terbuang) untuk membantu banyak orang,” jelas Ian.

Pendiri Foodbank of Indonesia, M Hendro Utomo mengatakan, upaya untuk meraih
keadilan pangan bagi pihak-pihak yang membutuhkan, terutama pada anak-anak
memerlukan kerjasama berbagai pihak. Entah itu pemerintah, lembaga masyarakat, dunia usaha, media, maupun kalangan akademisi.

FOI tentunya menyambut baik kerjasama berbasis teknologi aplikasi yang memungkinkan semua pihak dapat berperan mengatasi persoalan akses dan keadilan pangan. Aplikasi ini dapat menjadi
solusi alternatif bagi upaya membantu masyarakat mendapatkan akses pangan.
Aplikasi ini juga berperan penting mempercepat proses pencarian donasi pangan.

“Sebagai langkah awal akan membantu FOI dalam program Mentari Bangsaku yang
bertujuan mengurangi angka kelaparan di sekolah, namun dapat diperluas untuk program-program lain seperti Dapur Pangan dan RED (Response to Emergancy and Disaster) FOI,” Hendro menjelaskan.

Selain dapat lebih cepat mendapatkan donor makanan, menurut Esti Puji Lestari, President Director Y Waste Indonesia, aplikasi ini memudahkan pendataan makanan yang akan disumbangkan, mendata jadwal pengambilan donasi makanan, dan mempermudah FOI untuk menyalurkan makanan tersebut ke berbagai titik operasi.

Menurut pemilik klub sepakbola Persijap Jepara, upaya untuk meraih keadilan pangan bagi anak-anak yang kelaparan seperti ini memerlukan kerjasama antara berbagai pihak: pemerintah, lembaga
masyarakat, dunia usaha, media, dan akademisi.

Kolaborasi Y Waste dan FOI ini salah satu bentuk nyata mendorong kontribusi dunia usaha untuk turut serta terhadap gerakan membuka akses pangan yang semakin adil. Dan Aplikasi Y Waste Indonesia menjadi salah satu solusi praktis untuk meraih tujuan itu.

“FOI danY waste akan terus menyempurnakan kolaborasi ini untuk meraih keadilan pangan bagi semakin
banyak masyarakat Indonesia,” tandasnya.

Bagaimana bisa makanan berlebih atau ‘makanan sisa’ masih bisa didistribusikan kepada yang membutuhkan? Bukankah makanan jenis tersebut lebih mudah basi? Ya, jelas saja bisa. Setelah para relawan menjemput makanan berlebih, makanan tersebut lalu disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 5 derajat.

“Nah, makanan ini dapat dimasak kembali dan disalurkan kepada yang membutuhkan,” terang dia.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 11 Gandaria Jakarta, Sukimi dalam kesempatan tersebut menuturkan, permasalahan anak yang kelaparan di sekolah bisa karena berbagai faktor. Bisa karena faktor ekonomi, bisa juga karena faktor waktu, atau karena kurangnya perhatian orangtua.

“Para orang tua murid cenderung hanya memberikan uang saku untuk jajan di sekolah. Karena itu, kami sering melakukan himbauan kepada para orang tua untuk memberikan sarapan sebelum anaknya berangkat sekolah, dan kami juga berusaha agar menghadirkan menu makanan sehat di kantin sekolah,” ujar Sukemi. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!