Prof Arief Rachman: Perlu Penguatan Pendidikan Emosional di Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) — Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Arief Rachman, gusar karena akhir-akhir ini kondisi masyarakat Indonesia cenderung emosional. Karenanya, perlu ada penguatan pendidikan emosional di Indonesia.

“Ada kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan. Orang mudah terhasut karena emosi lebih kuat dari akal,” ujar Arief, yang juga Ketua Harian Komnas Indonesia untuk UNESCO.

Ia mengemukakan hal itu saat menjadi narasumber Diskusi Serial dan Focus Group Discussion bertajuk ‘Mengukuhkan Kebangsaan yang Berperadapan: Menuju Cita-cita Nasional dengan Paradigma Pancasila’, yang diadakan Aliansi Kebangsaan, di Jakarta, Jumat (17/5).

Ia melihat banyak masyarakat yang hatinya kosong karena kurang pendidikan emosional. Padahal pendidikan ini penting, karena manusia memiliki hati, perasaan dan akal yang harus diisi. Mereka yang tidak terisi dengan pendidikan emosional kerap berkonflik.

“Emosinya berada di atas akalnya, emosinya berada di atas logikanya. Solusinya, perlu pengayaan pendidikan dengan tak hanya mengunggulkan proses pembelajaran saja. Sebab tujuan akhir dari hal tersebut bukan produk berupa nilai ujian yang bagus,” tandasnya.

Arief menegaskan, pendidikan harus menyentuh hati tiap anak didik. Para guru harus bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya sehingga apa yang diajarkan tak hanya yang ditulis di buku.

Transfer pemikiran, kedewasaan dan kepemimpinan menjadi kata kunci. Dengan demikian, ruang emosi tiap siswa akan terisi dan pengembangan sumberdaya manusia (SDM) tak hanya menjadi jargon.

Dampaknya secara spesifik akan menyentuh segala aspek, bahkan dalam perilaku koruptif. Arief mengkritisi bagaimana orang-orang yang dinyatakan pintar secara gelar, banyak yang berperilaku menyimpang.

Sebut saja para koruptor yang terjaring KPK hampir semuanya memiliki gelar kesarjanaan. “Orang-orang yang tertangkap KPK itu adalah orang-orang kreatif. Tetapi kreatif dalam hal yang tidak baik, misal untuk korupsi, untuk berbohong, mengelabuhi orang lain,” tukasnya.

Di sinilah peranan dan kompetensi guru amat diperlukan. Guru harus mampu mengembangkan kompetensi-kompetensi dasar seperti kemampuan manajemen diri, berwawasan global, keinginan berprestasi, ketrampilan manajerial dan lainnya.

Guru juga harus mengembangkan ketakwaan, keterbukaan, setiakawan, integritas, toleransi, sportif dan sebagainya. Bukan sebaliknya malah fokus pada besaran gaji, panjangnya titel dan banyaknya relasi.

Di sisi lain, Arief mengapresiasi perkembangan sektor pendidikan di Indonesia yang lebih pesat dibandingkan beberapa tahun lalu. Pendidikan saat ini konsisten dengan tujuannya yang tak hanya mencerdaskan bangsa namun juga kehidupan berbangsa.

Menurutnya, masa depan yang diidam-idamkan sesuai UUD adalah Indonesia yang maju bukan hanya dari segi teknologi. Indonesia harus maju dalam peradaban, dengan Pancasila sebagai pegangan. Memang perlu perjuangan keras dari semua pihak untuk mewujudkan itu. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!