Pemagangan Dalam Negeri, Tingkatkan Skill Tenaga Kerja Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) — Di era persaingan global yang semakin sengit, kemampuan sumberdaya manusia (SDM) harus terus ditingkatkan. Di sinilah kunci dalam memenangkan kompetisi itu. Termasuk kemampuan Tenaga Kerja Indonesia agar bisa langsung bekerja setelah lulus dari lembaga pendidikan.

Harus diakui jumlah tenaga kerja di Indonesia cukup banyak, ada sekitar 134 juta jiwa. Potensi kekuatan SDM kita sebetulnya cukup besar. Sekitar  60% dari penduduk Indonesia adalah anak muda. Jumlah tersebut akan terus meningkat hingga mencapai 195 juta penduduk usia produktif di tahun 2040.

Dan, tentu saja itu menjadi modal besar pembangunan di negeri ini. Yang menjadi persoalan, apakah cukup berkualitas tenaga kerja kita?

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menyadari persoalan ini. Karenanya, pengembangan sumberdaya manusia melalui Program Pemagangan Dalam Negeri menjadi skala prioritas Dirjen Pembinaan Pelatihan Produktivitas Kemenaker Bambang Satrio Lelono. Program yang tertuang dalam Permenaker No. 36 tahun 2016.

Dianggap penting karena tidak ingin tenaga kerja kita tidak memiliki skill yang bisa menjadi nilai tambah tersendiri. Meski tak sedikit dari mereka berpendidikan tinggi, namun tak semuanya memiliki keahlian yang mampu menjawab kebutuhan pasar industri.

Begitu pentingnya pemagangan ini, sampai-sampai Kementerian Ketenagakerjaan bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) meluncurkan Deklarasi Pemagangan Nasional pada 2016 yang juga dihadiri Presiden Joko Widodo.

Ketersediaan SDM kompeten harus link and match dengan kebutuhan dunia industri. Begitu kerap kali didengungkan sang Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. Kementerian itu pun menggandeng dunia industri untuk menjawab tantangan tersebut.

Harus diakui peran aktif dunia industri memegang berperan penting dalam menciptakan tenaga kerja terampil dan siap pakai di dunia kerja. Melalui program pemagangan diharapkan dapat mempercepat penyerapan pengangguran ke dalam dunia industri.

Melalui pemagangan peserta dapat pengalaman kerja yang sesungguhnya, membentuk sikap, mental dan perilaku sesuai kebutuhan pasar. Namun harus diperhatikan jangan sampai program pemagangan ini mengganggu proses produksi dan kinerja perusahaan.

Pemerintah pun mengajak kalangan dunia usaha dan industri agar mendukung pengembangan SDM dengan membangun sistem pelatihan kerja dan sertifikasi profesi secara terpadu bagi pekerja Indonesia. Karena keterlibatan dunia usaha dan industri dibutuhkan untuk melakukan percepatan peningkatan kompetensi kerja serta memenuhi permintaan kebutuhan pekerja yang terus meningkat.

Banyak manfaat yang didapatkan dari program pemagangan. Bagi perusahaan, mereka bisa mengenal kualitas dan sumberdaya manusia yang dibutuhkan perusahaan. Bagi pihak lembaga pelatihan dapat memberikan kepuasan karena lulusannya lebih terjamin memiliki bekal standar kompetensi yang memadai.

Nah, manfaat utama tentu saja akan dirasakan peserta program pemagangan karena dapat meningkatkan kompetensi kerja yang profesional pada tingkat lebih tinggi dalam persaingan SDM di era globalisasi ini.

Bagaimana pun program pemagangan dinilai mampu meningkatkan sumberdaya manusia, menambah wawasan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan kerja sehingga mudah diserap pasar kerja. Tidak semata-mata untuk peningkatan kualitas tenaga kerja, tetapi juga dapat mendorong perusahaan-perusahaan agar meningkatkan produktivitas usahanya melalui ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas dan sesuai dengan kompetensi yang mereka butuhkan.

“Program pemagangan dapat membantu tenaga kerja secara cepat terserap di pasar kerja. Sebab, program pemagangan memberikan  keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Peserta magang juga mendapatkan pengalaman kerja dengan berbagai kondisi ketenagakerjaan di perusahaan kepada para tenaga kerja,” kata sang menteri dalam berbagai kesempatan.

Berdasarkan data Kemenakertrans, pemagangan dalam negeri telah dilaksanakan melalui dekonsentrasi yang tersebar di 34 provinsi. Pada 2018 tercatat 14.545 peserta yang telah dimagangkan. Sedangkan peserta pemagangan dalam negeri yang bekerja tercatat 5.073. Angka ini meningkat dari tahun ke tahun.

Program pemagangan menjadi salah satu solusi alternatif dalam mengatasi masalah pengangguran. Program ini menjadi titik awal untuk membuka lapangan kerja baru melalui wirausaha mandiri. Biasanya, eks peserta magang memang langsung diminati perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri, terutama industri, otomotif, tekstil, listrik, manufaktur, mesin dan bangunan.

Namun, yang lebih penting lagi eks magang dapat lebih memilih untuk membuka usaha sendiri secara mandiri atau berwirausaha, sesuai dengan bakat, kemampuan dan ilmu yang dipelajari selama magang di perusahaan dalam dan luar negeri.

Selama 2014-2018, jumlah serapan tenaga kerja dari program pemagangan dalam negeri mencapai 25.823 orang. Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menunjukkan jumlah serapan tenaga kerja dari peserta yang mengikuti program pemagangan berbasis kompetensi di dalam negeri mencapai 25.823 orang. Angka itu merupakan akumulasi selama lima tahun terakhir.

Program pemagangan merupakan salah satu upaya menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan industri. Program pemagangan juga mempunyai keunggulan dalam mempercepat penyerapan penggangguran. Program ini menitikberatkan pada kegiatan di lini produksi.

Ke depan, program pemagangan akan terus digalakkan untuk menciptakan tenaga kerja yang berdaya saing dengan bimbingan mentor yang kompeten dari perusahaan. Para lulusan juga akan mendapat sertifikat yang sesuai program pemagangan dan dapat bekerja di perusahaan tersebut.

“Program pemagangan ini supaya kualifikasi SDM dalam negeri sesuai dengan kebutuhan industri. Ini juga untuk meningkatkan jumlah pekerja yang kompeten,” kata Bambang, dalam suatu kesempatan. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!