Sebelum PT Asing Masuk ke Indonesia Pemerintah Harus Susun Grand Strategy Perguruan Tinggi

JAKARTA (Pos Sore) — Masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia menjadi tantangan dan peluang tersendiri bagi Indonesia. Namun, sebelum itu bergulir Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (APPERTI) meminta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) harus menyusun grand strategy pendidikan tinggi terlebih dahulu.

Menurut Ketua Umum APPERTI Prof. Jurnalis Uddin, hingga kini belum ada model yang memberikan gambaran apakah perguruan tinggi asing tersebut akan menguntungkan atau justeru sebaliknya merugikan perguruan tinggi lokal. Karenanya, harus jelas perencanaannya.

“Karena saya kira perguruan tinggi asing di Indonesia tidak ada hubungannya dengan peningkatan angka partisipasi kasar atau pendidikan tinggi,” tandasnya di sela halal bihalal dan seminar nasional bertema Tantangan Masuknya Perguruan Tinggi Asing, Sabtu (27/7).

Ia melanjutkan, hingga kini memang belum ada model perguruan tinggi negara lain di Indonesia. Persyaratan terkait kehadiran perguruan tinggi asing tersebut harus ketat, agar tidak membuat perguruan tinggi lokal (dalam negeri) kolaps.

“Adanya perguruan tinggi swasta yang kemudian dinegerikan oleh pemerintah saja membuat kolaps PTS kecil. Jadi ini harus kita diskusikan benar-benar, kita kaji,” tandas Prof. Jurnalis.

Sekjen APPERTI Dr. Taufan Maulamin, SE. MM mengemukakan hal yang sama. Hingga kini, katanya, pemerintah Indonesia belum membuat grand strategy, sementara negara tetangga seperti Malaysia telah berhasil menjadikan masuknya PT asing di negeri jiran sebagai keuntungan. 

“Malaysia membuat grand strategy pendidikan sebagai komoditas. Hasilnya, banyak orang-orang dari wilayah Timur Tengah berkuliah di Malaysia dan memberikan devisa untuk negaranya,” ungkapnya.

Indonesia perlu membuat grand strategy yang salah satu isinya memetakan jumlah lulusan seperti doktor atau perawat. Ia juga meminta pemerintah membuat national planning of resources hingga jangka panjang 50 tahun ke depan yaitu pemetaan kebutuhan sumberdaya manusia tenaga kerja. 

“Ini penting dilakukan supaya tidak ada kesenjangan antara jumlah lulusan di Indonesia dengan yang bisa bekerja. Terakhir, pihaknya mengusulkan adanya perlindungan ideologi Tanah Air ketika PT luar negeri masuk Indonesia,” tegasnya.

Dalam pandangannya, kehadiran perguruan tinggi asing di Indonesia memang suatu keniscayaan. Seiring dengan adanya Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) Nomor 53 Tahun 2018.

Persoalannya, apakah pemerintah ada keberpihakan terhadap perguruan tinggi lokal atau tidak? Mengapa, karena dari sekitar 4.200 yayasan yang mengelola perguruan tinggi swasta di Indonesia tidak semuanya perguruan tinggi besar. Ada banyak perguruan tinggi kecil yang harus dilindungi oleh pemerintah.

“Jika perguruan tinggi asing dibebaskan masuk ke Indonesia tanpa persyaratan yang ketat, bisa jadi itu menjadi ancaman bagi perguruan tinggi swasta terutama yang belum besar dan kuat,” tukasnya.

Karenanya, Taufan melihat pentingnya disusun grand strategy pendidikan tinggi dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait sebelum perguruan tinggi asing benar-benar diijinkan masuk ke Indonesia.

Dalam pandangannya perguruan tinggi asing hanya boleh membuka jurusan yang di Indonesia memang belum ada atau masih langka seperti jurusan energi terbarukan, pengolahan hasil laut dan sebagainya. Jangan jurusan yang sudah banyak seperti ekonomi dan hukum.

“Karena kalau PT asing juga bisa membuka prodi ekonomi, hukum, padahal sudah banyak resources di Indonesia maka merupakan sebuah kemubadziran. Jadi PT di Indonesia selayaknya dilindungi,” ujarnya.

Selain masalah pengetatan jurusan, Taufan menilai grand strategy pendidikan tinggi juga menyentuh persoalan perencanaan human national resources atau kebutuhan tenaga kerja. Pemerintah harus menghitung benar berapa kebutuhan dokter, kebutuhan guru, perawat, dan profesi lainnya. Lalu data-data tersebut diserahkan ke perguruan tinggi sebagai pencetak tenaga kerja.

Dengan cara seperti ini, maka lulusan perguruan tinggi tidak ada lagi yang menganggur. Data menunjukkan saat ini ada sekitar 2,5 juta lulusan perguruan tinggi yang menganggur. (tety)

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!