Wisuda Ke-37 Institut STIAMI: Pendidikan Adab dan Penguasaan Keilmuan, Ciptakan Generasi Unggul

JAKARTA (Pos Sore) — Sebanyak 878 mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Manajeman STIAMI (Institut STIAMI) yang terdiri atas 226 program vokasi, 555 program sarjana dan 97 program magister, diwisuda, Kamis (22/8/2019), di Balai Samudera, Jakarta Utara.

Dalam wisuda ke-37, itu Rektor Institut STIAMI Dr. Ir. Panji Hendrarso, MM, menyampaikan, pemberian mata kuliah Pengantar Perpajakan menjadi bagian dari upaya Institut STIAMI menanamkan ketaatan pajak pada mahasiswa sejak dini. Mata kuliah ini diberikan kepada mahasiswa dari semua program studi yang ada.

“Dengan memahami apa itu pajak, dan bagaimana fungsinya bagi pembangunan nasional diharapkan lulusan Institut STIAMI menjadi pribadi yang taat pada pajak. Taat pajak adalah bagian dari adab seorang warga negara sekaligus menanamkan rasa nasionalisme pada mahasiswa,” tegas Rektor, yang didampingi Kepala Bagian Kerjasama Institut STIAMI Dedy Kusna Utama.

Selain itu, upaya menciptakan generasi unggul yang beradab, Institut STIAMI juga memberikan mata kuliah tentang adab 2 SKS pada semester awal untuk semua mahasiswa baru, mengadakan kegiatan bina iman setiap 4 bulan sekali yang wajib diikuti mahasiswa. Tak hanya itu. Selama 3 atau 4 hari para mahasiswa bergiat di rumah ibadah dengan bimbingan dari dosen pengampu.

“Pemberian mata kuliah adab dan kegiatan bina iman Alhamdulillah mendapat apresiasi dari orangtua mahasiswa. Karena banyak mahasiswa yang perilakunya menjadi lebih baik, santun, hormat pada orangtua, berbudi pekerti baik dan menghargai sesama,” papar Rektor.

Menurutnya, apa yang diupayakan Institut STIAMI ini sejalan dengan apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-74 Republik Indonesia yang bertemakan “SDM Unggul Indonesia Maju” pada 17 Agustus 2019.

Dalam Pidato Kenegaraan pada 16 Agustus 2019, Jokowi mengatakan, Pemerintah telah mencanangkan pembangunan ke depan akan berfokus terhadap pembangunan sumberdaya manusia yang unggul dengan mendorong SDM lulusan pendidikan tnggi harus kompetitif di tingkat regional dan global.

“Lulusan perguruan tinggi kompetitif dalam karakter sebagai pekerja keras, jujur, kolaboratif, solutif dan entrepreneurship. Lulusan perguruan tinggi juga harus kompetitif dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang menguasai the emerging skills, yang mampu mengisi the emerging jobs dan inovatif dalam membangun the emerging business,” kutipnya.

Tema tersebut menurut Rektor berkolerasi dengan situasi yang akan dihadapi Bangsa Indonesia yang diprediksi akan mengalami masa Bonus Demografi pada 2030-2040. Yaitu, jumlah penduduk usia produktf yang berusia 15 – 64 tahun lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif. Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen atau 190 juta penduduk, dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.

Dikatakan, bangsa Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi tersebut dengan ketersediaan sumberdaya manusia usia produktif yang melimpah, yang harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan, terlebih dalam menghadapi keterbukaan pasar tenaga kerja.

Bagi Institut STIAMI, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang kompetitif. Institut STIAMI, telah melakukan berbagai upaya guna meningkatkan mutu dan kualitas lulusan. Misalnya dengan membuat rintisan pendidikan jarak jauh, program magang mahasiswa pada BUMN, bekerjasama dengan Universitas Kebangsaan Malaysia dan lainnya.

Dikatakan, perguruan tinggi berperan sangat strategis dalam penyiapan sumberdaya manusia yang kompetitif sesuai dengan amanah undang-undang. Dalam UU tersebut juga disyaratkan, pendidikan harus dapat menjadikan peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

“Institut STIAMI pun berkomitmen kuat untuk terus mencetak generasi-generasi cendekiawan yang memiliki keunggulan kompetitif, berdaya saing dan menguasai adab-adab kehidupan dengan mengedepankan akhlak mulia. Penguasaan adab menjadi penting dan kami tekankan karena kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk membuat seseorang berhasil dalam hidupnya,” ujarnya.

Pihaknya pun berharap, jangan sampai ada lulusan Institut STIAMI yang tertangkap melakukan korupsi, atau melakukan praktik kolusi dan nepotisme mengingat akademisi Institut STIAMI sudah memiliki adab yang ditunjang dengan keilmuan yang bagus. Jangan sampai ada kegagalan penerapan adab sehingga seorang yang mengenyam pendidikan tinggi bisa terlibat kasus KKN. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!