4.6 C
New York
31/03/2020
Opini

Apa itu Berdamai Dengan Masa Lalu?

Oleh Galuhpritta Anisaningtyas, M. Psi

Setiap orang memiliki pengalaman hidup, dari masa di dalam kandungan hingga masa tua. Setiap manusia akan meninggalkan masa lalu, dimana masa lalu membentuk seseorang menjadi seperti sekarang.

Ada ungkapan “aku yang sekarang adalah apa yang aku pikirkan di masa lalu”. Tentunya sejarah hidup membuat seseorang berpikir dan bertindak seperti apa yang dialaminya.

Sejarah hidup seseorang bisa positif atau negatif. Bila sejarah hidupnya positif, maka ke depannya tidak akan menjadi masalah, karena pengalaman hidup yang positif akan membantu menghasilkan pikiran dan sikap yang positif pula.

Tetapi bagaimana jika pengalaman hidupnya negatif? Seperti pernah mengalami pelacehan seksual, mengalami kekerasan baik fisik maupun verbal, bullying, intimidasi, perselingkuhan dan lain sebagainya? Tentunya akan sangat berpengaruh pada kehidupan di masa depan.

Bagi seseorang yang mengalami pengalaman masa lalu yang negatif, tetapi bisa melewatinya, maka mudah baginya untuk menjalani kehidupan di masa depan. Namun bagaimana dengan yang tidak bisa melewatinya? Terkadang, masa lalu yang kelam dan menyakitkan disimpan rapi di alam bawah sadar.

Logika manusia menganggap dirinya tidak mengalami pengalaman masa lalu yang pahit, sulit bahkan menyakitkan, namun kenyataannya pengalaman negatif tersebut terpendam di alam bawah sadar. Pengalaman negatif yang tersimpan di alam bawah sadar sewaktu-waktu bisa muncul kembali ketika ada momen yang menyerupai peristiwa di masa lalu.

Hal ini bisa ditandai dengan perasaan tidak tenang, perasaan benci pada seseorang yang kita tidak tahu mengapa harus membencinya, merasa hati ada yang mengganjal namun tidak tahu penyebabnya. Itulah saat dimana peristiwa masa lalu muncul di masa sekarang.

Mereka yang bisa mengingat masa lalu dengan baik dan merunut peristiwa demi peristiwa yang dialami di masa lalu, serta menyadari bahwa yang terjadi pada dirinya sekarang disebabkan oleh masa lalu, serta kesadaran dirinya untuk mencari dan meminta bantuan, maka akan mudah baginya untuk berdamai dengan masa lalu.

Sebagai contoh (diambil dari kisah nyata), seorang anak yang sering dibanding-bandingkan dengan saudara kandungnya, dituntut untuk selalu berprestasi dan jika prestasinya turun maka akan dimarahi, diejek oleh saudara kandung, salah sedikit langsung diejek.

Beberapa pengalaman hidup, membuat anak tersebut menjadi tertekan dan sepanjang hidupnya selalu dihantui perasaan selalu salah dalam melakukan hal apapun, sehingga manifestasi prilakunya adalah berbuat sebaik mungkin dan jangan sampai berbuat salah agar tidak diejek lagi.

Tertekan dengan perasaan dan pikiran seperti itu, membuat si anak tidak bisa menerima dirinya. Ia selalu menganggap dirinya buruk, tidak pantas hidup dan yang terakhir adalah menyalahkan Tuhan. Celakanya hal seperti ini bisa terbawa hingga dewasa.

Merasa bahwa ada yang salah dengan pikiran, perasaan dan perilakunya, maka Ia memutuskan untuk menemui seseorang untuk meminta bantuan. Saat itu yang ia datangi adalah dosennya yang seorang psikologi klinis. Setelah itu, berlangsunglah pertemuan pertama dan Ia menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dan masa lalunya, terutama kebenciannya pada orangtua dan juga saudara kandungnya hingga menyalahkan Tuhan.

Satu kalimat yang diingat dari dosennya adalah “perbaiki hubunganmu dengan Allah SWT”. Satu kalimat itu bisa membuatnya tergugah dan semua dimulai dengan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.

Tidak berhenti sampai disitu, sang dosen tetap membimbing terapi atau penyembuhan, terutama memperbaiki pola pikir yang salah. Bukan sesuatu yang mudah, namun juga tidak susah jika ada kemuan untuk menjadi lebih baik lagi.

Apa yang bisa diambil dari kisah di atas? Bahwa kita punya pilihan dalam hidup, meskipun dalam keadaan terpuruk sekalipun. Secara psikologis, mereka yang mengalami dampak buruk dari masa lalu, akan mengalami beberapa tahap perjalanan emosi hingga sampai pada penerimaan diri :

Pertama disebut sebagai tahap denial / penyangkalan: Pada fase ini seseorang akan menyangkal bahwa tidak terjadi sesuatu padanya. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan diri yang umum ditemukan saat seseorang terkejut atau shock saat mendapati dirinya berhadapan dengan situasi yang sama sekali tidak diharapkan

Kedua adalah tahap anger / kemarahan : Seseorang tidak bisa selamanya menyangkal apa yang terjadi. Ketika seseorang menyadari bahwa apa yang terjadi adalah nyata, maka Ia akan meraskaan kemarahan dan sering kali bertanya “mengapa ini terjadi kepada saya?” bahkan menyalahkan Tuhan.

Ketiga disebut tahap bargaining / tawar menawar : Setelah melawati fase kemarahan, seseorang akan melakukan usaha menawar “kalau bisa jangan aku yang mengalaminya”, sebuah tindakan penolakan namun tidak memiliki daya menolaknya.

Keempat adalah tahap depression / depresi : Perasaan tidak berdaya diikuti dengan perasaan tertekan ketika berhadapan dengan kenyataan yang disadari tidak bisa dihindari, sementara Ia tidak punya daya untuk melawan atau mengubah keadaan

Dan kelima adalah tahap acceptance / penerimaan : Setelah bergelut dengan kenyataan pahit yang berusaha diingkarinya, pada akhirnya Ia akan dapat menerima kenyatan. Dalam hal ini bukan rasa sakit atau pahitnya hilang, namun Ia mulai menerima / terbiasa dengan rasa tersebut.

Berdamai dengan masa lalu memang tidak berarti rasa sakit hilang begitu saja. Namun, kemampuan untuk menghadapi rasa sakit itulah yang paling penting. Untuk itu, jika merasa bahwa sedang tidak baik-baik aja, tidak mengapa jika kita meminta pertolongan ahli, seperti psikolog. Bagaimanapun kuatnya perasaan, kita tetap membutuhkan bantuan ahli.

Datang ke psikolog bukan berarti membuka aib atau dianggap gila, namun itu artinya kita sadar bahwa diri kita harus sehat baik mental maupun fisik. Psikolog memiliki program terapi yang dapat membantu kita dalam proses penyembuhan, seperti terapi zikir, regulasi emosi hingga terapi la tahzan (jangan bersedih) dan banyak lagi terapi lain. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, dimudahkan dalam melewati ujian dan rintangan, dikuatkan iman dan taqwanya, aamiin..

(Galuhpritta Anisaningtyas, M. Psi adalah Dosen Prodi Komunikasi Penyiaran Islam STAI Attaqwa Bekasi)

Related posts

Fahri: Salah Sendiri, Survey Petahana Nyungsep

Ramli Amin

TABUR PUJA MELUAS KE LUAR PULAU JAWA

Tety Polmasari

Mengkritisi Presiden Terpilih

Tety Polmasari

Leave a Comment