Kompetisi Roket Air Regional PP Iptek Berakhir, Inilah Para Juaranya

JAKARTA (Pos Sore) -– Dari 402 peserta yang mengikuti Kompetisi Roket Air Regional (KRAR) PP IPTEK, akhirnya dewan juri memutuskan Granada Andalusia H pelajar SMAN 90 Jakarta sebagai juara 1 dengan skor 0, 09.

Sementara itu, Syauqi Najla Khonza S siswi SMP Quran Assalam sebagai juara 2 dengan skor 0,11 yang juga dinobatkan sebagai peserta favorit berdasarkan tingkatan usia, dan Syahrozad Zalfa Nadia, pelajar MTs Pembangunan UIN sebagai juara 3 dengan skor 0,39.

Keputusan tersebut berdasarkan hasil penilaian skor terbaik dari 2 kali peluncuran dengan titik fokus jarak terpendek jatuhnya roket terhadap titik pusat target. Roket yang diluncurkan adalah roket hasil buatan sendiri setelah mengikuti kelas workshop membuat roket.

Peluncuran roket dilakukan di halaman Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) TMII Jakarta, Minggu (8/9/2019) dari pagi hingga siang. Semua peserta dari 93 sekolah di Jabodetabek dan Cilegon mengikuti sesi kompetisi peluncuran roket.

Roket air tersebut terbuat dari bahan botol plastik berkarborasi dengan jumlah minimal 2 botol yang kemudian dirakit menjadi satu bagian badan (body) roket air. Badan roket air ini dilengkapi dengan sirip roket yang terbuat dari bahan infraboard atau sterofoam tebal yang dipotong dan dibentuk mirip dengan sirip pesawat ulang alik.

Pada sesi peluncuran roket air, sebagian besar roket air peserta tidak mengenai zona target. Roket jatuh dengan jarak jauh dari zona target. Pada sesi ini untuk menjaring 50 pemenang terbaik yang berhak melaju ke tingkat nasional.

Direktur PP IPTEK, M Syahrial Annas berkesempatan hadir dan menyerang hadiah kepada para pemenang. Ia mengaku bangga generasi milenial masih tertarik untuk mengikuti kompetisi iptek. Meski kompetisi ini terbilang sederhana, belum tentu para pelajar ingin mengikutinya.

“Jadi PP Iptek ingin mewadahi potensi bidang sains bagi generasi muda untuk terus berkembang dan turut berperan serta dalam kemajuan teknologi di bidang antariksa dan kedirgantaraan. Di jaman yang serba instan dan serba gadget, perlu dicari jalan ke luar yang bisa membuat para pelajar tertarik pada sains,” tuturnya, di sela penyerahan hadiah bagi pemenang.

Dikatakan, PP-IPTEK sebagai science center pertama di Indonesia dan salah satu wahana pembelajaran iptek bagi masyarakat, khususnya generasi muda memiliki peran strategis dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia sesuai dengan visi dan misi negara. 

Karenanya, PP Iptek senantiasa mengadakan kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan pengetahuan iptek masyarakat. “Selain kegiatan roket air, masih banyak lagi peragaan dan program sains yang akan disajikan oleh PP-IPTEK kepada masyarakat,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, diumumkan pula juara harapan. Untuk juara harapan 1 diraih oleh siswa MTsN 3 Bogor Luthfi Dwi Andika, dengan skor 0,62, harapan 2 diraih oleh Maximus Uzia G dari SMP Tunas Agung Tangerang dengan skor 0,97, dan harapan 3 diraih oleh Syahla Pridehan dari SMP Kosgoro Bogor dengan skor 1,90.

Syauqi Najla Khonza S mengaku pertama kali mengikuti kompetisi ini. Itu sebabnya, ia begitu senang bisa meraih juara 2. Ia pun berharap bisa lolos di Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) pada akhir September 2019 dan menang sehingga bisa ikut di tingkat internasional (KRAI) akhir tahun ini.

Sementara itu, Syifa Khairinna mesti tidak meraih juara, ia tak berkecil hati. Ini adalah kali kedua ia mengikuti kompetisi ini. Tahun sebelumnya, ia beruntung roket air yang dirakitnya bisa terbang mulus dan mendarat sesuai target. Atas keberhasilannya itu pula, Syifa maju ke kompetisi roket air tingkat nasional.

Tahun ini, Syifa menjajal kemampuan membuat roket air bersama 6 teman sekolahnya yakni Reika, Putra, Sulthan, Rokhi, Ariq dan Gatot. Sayangnya, tidak satupun roket air yang dirakitnya beserta kawan-kawannya mampu mencapai titik target.

Baginya, dengan mengikuti Kompetisi Roket Air Regional (KRAR), ia bisa mengetahui bagaimana roket air bekerja, bagaimana terbang dan menukik sesuai yang ditargetkan. Bukan sekedar mencari kemenangan. Lebih dari itu, kompetisi roket air merupakan ajang yang tepat untuk mengaplikasikan hukum-hukum fisika yang sudah dipelajari dibangku sekolah.

“Nggak mudah ternyata membuat roket, terutama saat merakit sayapnya. Kita harus menghitung dengan tepat ukurannya agar roket bisa terbang dengan baik. Nggak apa-apa kalah. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi yang jelas tetap membuat kita jauh lebih percaya diri. Selain seru, saya bisa sekaligus belajar rumus-rumus fisika. Tambah pengalaman dan pengetahuan, tambah teman juga,” tegas siswi SMP Muhammadiyah 9, Jakarta Selatan, ini. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!