Peduli Dunia Pendidikan, Indy Hardono Luncurkan Buku “Eureka di Negeri Seberang”

JAKARTA (Pos Sore) — Indy Hardono meluncurkan buku berjudul “Eureka di Negeri Seberang”. Buku ini diklaim, sebagai bentuk kepedulian dirinya terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Menjadi buku bacaan alternatif yang disajikan dengan keceriaan dan sarat dengan makna.

“Saya berharap buku ini bisa menggugah dan menginspirasi putra putri bangsa Indonesia, bahwa permasalahan pendidikan di negeri ini bisa diselesaikan jika kita melihat sejarah,” kata Indy, di Jakarta, Minggu (29/9/2019).

Ia berpandangan, konsep pendidikan nasional di Indonesia sudah digagas sangat bagus oleh Ki Hajar Dewantara. Berdasarkan  ilmu yang telah ditanamkan tersebut, generasi penerus tinggal mengembangkannya untuk lebih mencerdaskan kehidupan bangsa.

Salah seorang pengulas yang hadir dalam peluncukan buku Eureka di Negeri Seberang, Prof Bondan Tiara Sofyan, Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI. Ia mengatakan menyambut baik peluncuran buku tersebut. Terlebih buku ini menyajikan tema-tema kebangsaan yang dikemas dengan lebih ringan dan tidak menggurui.

Saat pertama membaca buku Eureka di Negeri Seberang, Bondan mengaku terkagum-kagum dengan gaya penulisan dan kelengkapan data buku tersebut. “Membacanya enak, kata dan kalimatnya indah. Padahal yang disajikan adalah sebuah alur sejarah,” kata Bondan.

Menurutnya, buku ini tepat untuk menjadi bahan bacaan dan referensi pengetahuan generasi milenial. Termasuk mereka yang berkecimpung dalam urusan bela Negara. Itu sebabnya, Bondan berjanji dalam kegiatan edukasi terkait bela Negara, buku tulisan Indy ini akan menjadi salah satu referensi bacaan yang disarankan kepada peserta sosialisasi.

“Di era digital saat ini, konsep bela negara bagi generasi muda seharusnya juga mengikuti perkembangan zaman, terutama ketika tidak ada lagi filter informasi,” tukasnya.

Menulis Buku Berdasarkan Keseharian
Bagi Indy, menulis buku tidak harus menunggu menjadi siapa. Tidak harus menjadi menteri dulu, atau CEO satu perusahaan besar. Tidak harus pula menjadi sarjana sastra dahulu untuk menghasilkan satu bacaan bermutu.

Dalam pemikirannya, menulis buku bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan modal pengalaman keseharian. Tidak rumit, tidak sulit, tidak perlu muluk-muluk. Mengalir dan tulis apa saja yang dijumpai dari aktivitas keseharian.

Itulah yang dilakukan seorang Indy Hardono, Koordinator Tim Beasiswa Nuffic Neso Indonesia. Melalui buku berjudul Eureka di Negeri Seberang, Indy membuktikan menulis buku bukan pekerjaan sulit. Ia memulai tahapan menulis dari pengalaman keseharian, baik sebagai koordinator tim beasiswa, sebagai dosen maupun pengisi rubrik tetap pada kolom edukasi Kompas.com.

“Saya bekerja mengurus beasiswa pelajar Indonesia yang akan studi ke Belanda. Saya menjumpai begitu banyak orang, bercerita dengan mereka, sharing pengalaman dan kadang menjadi konsultan atas mereka,” kata Indy usai peluncuran buku Eureka di Negeri Seberang.

Dari interaksi dengan para penerima beasiswa itulah, lantas Indy mencoba menuangkan dalam banyak tulisan, yang kemudian disusun menjadi satu buku. Eureka di Negeri Seberang, tak ubahnya bunga rampai pemikiran Indy terkait dunia pendidikan, pemikiran tentang pendidikan tak bergaris batas dari seorang perempuan dengan latar belakang keilmuan sarjana tehnik kimia Universitas Indonesia.

Buku yang terbagi dalam 7 jendela tersebut disusun Indy dalam waktu 1 tahun. Ini adalah pencapaian waktu yang cukup baik untuk seorang penulis buku pemula. Terlebih buku Eureka di Negeri Seberang merupakan buku yang sarat akan filosofi, data dan histori. Membutuhkan waktu khusus, kepiawian dan kerja keras untuk merangkum serta menyajikan begitu banyak pengetahuan dan catatan sejarah.

Meski memuat banyak sejarah, buku Eureka di Negeri Seberang tampil sebagai bacaan yang ringan. Pemilihan dan penggunaan kata, penyusunan kalimat dan gaya penuturan yang kontemplatif menjadikan buku ini mudah dicerna. Penyajiannya yang ceria juga membuat buku ini tidak melelahkan otak dan mata.

Melalui buku ini, Indy ingin berkontribusi dalam hal meningkatkan budaya literasi pelajar Indonesia. Karena baginya, literasi bukanlah membangun gedung perpustakaan dengan koleksi ribuan buku. Literasi adalah bagaimana membudayakan membaca buku.

“Saya berharap buku ini menarik kaum milenial untuk kembali ke budaya baca buku. Tentu sedikit berlebihan, tetapi memang harus ada yang memulai. Dengan gaya penulisan yang ringan dan ceria tetapi kaya akan data dan fakta, diharapkan pembaca dapat jatuh cinta pada buku saya,” tambah Indy. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!