01/06/2020
Aktual

DJSN Minta Penyelenggara Jaminan Sosial Antisipasi “Kematian Dini” Peserta

MANOKWARI (Pos Sore) — Tim Monitoring dan Evaluasi Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dr. Asih Eka Putri, MPPM, meminta PT Taspen cabang Manokwari, Papua Barat, untuk bisa mengolah data lebih dalam. Selama ini data yang disampaikan masih konvensional.

“Misalnya di Manokwari disebutkan ada 100 klaim kematian. Harusnya data angka 100 ini diolah lagi. Apa jenis kelaminnya, berapa usianya, apa penyebab kematiannya, berapa rasionya. Jadi bisa dibuat analisa hubungan,” tuturnya saat berkunjung ke PT Taspen Cabang Manokwari, Papua Barat, Rabu (18/9).

Dalam kunjungan yang diterima Kepala Cabang PT Taspen Papua Barat Ade Nugie Nugroho, itu dr Asih tidak sendiri. Ia datang bersama tim monev DJSN — dr. Zaenal Abidin, MH, Ahmad Ansyori, SH, M.Hum, CLA, Dr. Taufik Hidayat, M.Ec, dan Subiyanto, SH.

Asih pun melanjutkan jika pihaknya sangat berharap, badan penyelenggara di tingkat propinsi, kabupaten, dan kota mulai sadar akan data dan informasi. Bukan berarti “tidak melek data”. Hanya saja, harus sudah mulai melakukan analisa-analisa data di tingkat wilayah yang mereka kelola.

“Sehingga bisa memetakan, mengambil tindakan yang cepat, membuat kebijakan lokal dan memberikan masukan ke kantor pusat untuk menjadi bahan menyusun kebijakan nasional,” tandas dr Asih.

Menurut Asih, data-data yang disampaikan ke DJSN masih konvensional. Belum diolah lebih lanjut dan mendalam. Padahal data yang disajikan tersebut perlu pendalaman data sehingga yang membaca data betul-betul mendapatkan gambaran yang jelas.

Ia juga meminta PT Taspen untuk melakukan survei klaim Jaminan Kematian (JKM) agar dapat didata penyebab “kematian dini” dari peserta. Karena berdasarkan informasi yang didapatnya kematian dini mulai meningkat. Dan, ini harus diantisipasi.

“Perlu diwaspadai kematian dini pekerja atau karyawan. Yaitu kematian di bawah usia pensiun di bawah 58 tahun yang trennya kematian di bawah usia 50 tahun mulai naik. Kematian dini ini akan membuat putusnya pendapatan keluarga sehingga keluarga rentan terhadap kemiskinan,” tuturnya.

Di sisi lain, kematian dini yang semakin dini maka yang mengiur juga akan berkurang. Sebaliknya, jaminan hari tua dan jaminan pensiun cepat diambil. Kondisi ini akan membuat anggaran menjadi tidak stabil. Hal-hal semacam ini harus bisa dihindari.

“Misalnya kematian ASN meningkat, semakin muda. Harus didata, apa karena sakit jantung? atau makannya yang kurang bagus, atau kurang gerak? Kenapa bisa terjadi usia muda terkena sakit jantung? Nah, penyelenggara jaminan sosial di tingkat daerah harus mengedukasi kesehatan bagaimana aga terhindar dari sakit jantung, termasuk memperhatikan hidangan saat rapat,” urainya.

Asih berharap pihak penyelenggara jaminan sosial harus mampu menggali informasi lebih dalam terkait data yang didapatkannya. Dengan demikian, penyelenggara bisa mengambil tindakan pencegahan atau korektif yang tepat sasaran agar kejadian itu bisa dihindari.

“Mencari penyebab sakit, penyebab kematian penting sekali untuk bisa membuat tindakan yang lebih tepat. Bukannya penyelenggara tidak melek data, mereka melek data tapi belum mendalam, masih sangat supervisial, masih perlu digali lebih dalam,” tandasnya.

Hal lain yang menjadi catatannya selama melakukan kunjungan monitoring dan evaluasi ke berbagai daerah, bahwa koordinasi antar kelembagaan menjadi hal utama. BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, PT Taspen perlu ada integrasi yang jelas.

“Perlu diperkuat di lapangan adalah koordinasi penyelenggaraan sosial untuk menjamin hak manfaat peserta terutama Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kesehatan harus diintegrasikan penyelenggaraan dan penjaminannya. sehingga peserta betul-betul bisa mendapatkan manfaat sesuai haknya,” jelasnya.

Kepala Cabang PT Taspen Papua Barat Ade Nugie Nugroho yang mendapatkan saran dan masukan tersebut mengaku memang data yang diperolehnya masih data kasar, belum diolah sedemikian rupa. Karenanya, ke depan, pihaknya akan menindaklanjuti apa yang disarankan demi kemajuan bersama.

Di sisi lain, Nugie menyampikan, sebagai penyelenggara Jaminan Sosial Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pejabat Negara yaitu Program Tabungan Hari Tua (THT), Program Pensiun, Program Jamin Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), PT Taspen terus berusaha meningkatkan pelayanan berbasis digital di Provinsi Papua Barat.

Sayangnya, hal ini masih terganjal oleh terbatasnya jaringan komunikasi (data dan suara). Di provinsi ini, satu-satunya jaringan komunikasi baru tersedia dari operator selular Telkomsel. Sementara untuk operator lain, belum ada.

Karena terbatasnya jaringan konektivitas dan jaringan internet yang belum merata di wilayah Papua Barat, diakui Kepala Cabang PT Taspen Papua Barat Ade Nugie Nugroho, input data pun dilakukan secara manual. Utamanya, di Kabupaten Pegunungan Arfak, Maybrat, dan Manokwari Selatan.

“Kalau di Manokwari sudah bisa mengakses jaringan internet sehingga memudahkan dalam hal mengolah data,” sebutnya. Pihaknya, juga terus menggalakan sosialisasi penggunaan aplikasi pembayaran dana pensiun. Fokus pelayanan berbasis digital ini ada pada Kota Sorong dan kabupaten Manokwari.

“Mau tidak mau kita harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi digital saat ini. Layanan ini bertujuan untuk memudahkan para pensiunan. Aplikasinya bisa di-down load melalui play store,” kata Ade Nugie.

Ia mengatakan, aplikasi pensiun ini untuk memudahkan para pensiunan PNS yang ada di Papua Barat. Dengan hanya mengakses aplikasi para pensiunan tidak perlu harus mendatangi kantor Taspen. Selain memudahkan juga dapat menghemat waktu dan biaya.

“Para penerima pensiun cukup di rumah lalu menjalankan aplikasi, dengan begitu sudah terdaftar secara otomatis blokir pembayaran pensiun langsung terbuka,” ujarnya.

Meski demikian ia mengakui penggunaan aplikasi pensiun itu masih terbatas di wilayah Papua Barat, pasalnya beberapa daerah masih terkendali dengan akses jaringan internet.

“Di beberapa daerah seperti Pegunungan Arfak, Maybrat bahkan Manokwari Selatan ini kan masalahnya adalah akses jaringan internet, namun ini tidak apa apa. Untuk Daerah yang sudah bisa dilalui Internet tentu sangat memudahkan,” katanya.

“Untuk Daerah yang masih terkendali jaringan internet kita masih menggunakan sistim manual atau seperti biasa. Tetapi daerah yang internet sudah bagus wajib menggunakan aplikasi ini,” ujarnya lagi. (tety)

Related posts

Penculik Gadis Remaja Diciduk

Tety Polmasari

Rokok ‘Membunuh’ Manusia

Tety Polmasari

Diklat RLA Siap Cetak 3000 Reformers pada 2025

Tety Polmasari

Leave a Comment