Membanggakan, Program Bayi Tabung Morula IVF Indonesia Diakui Dunia

JAKARTA (Pos Sore) — Tidak sedikit pasangan suami istri yang sudah merajut maghligai rumah tangga bertahun-tahun lamanya kesulitan mendapatkan momongan. Meski faktornya bukan semata-mata karena “mandul”, tetap saja membuat para istri dirundung rasa sedih. Tak jarang, ada rumah tangga yang semula bahagia berubah menjadi mendung.

Kalau masih punya harapan, sebenarnya tak perlu bersedih hati. Tidak ada salahnya mencoba belajar pada artis Tya Ariestya. Pada Selasa (8/10/2019), artis cantik yang juga presenter ini berbagi pengalaman bagaimana ia berjuang untuk bisa hamil. Berjuang untuk mendapatkan buah hati. Bagi perempuan yang sudah menikah, hamil dan kemudian memiliki anak, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri.

Saat hadir dalam temu media bertajuk “Ultimate Services, Tingkatkan Kepercayaan Pejuang Buah Hati,” yang diadakan oleh klinik Morula IVF Indonesia, Tya yang terlihat begitu fresh dengan rona-rona kebahagiaan mengaku menikmati masa-masa menjadi ibu dua putra: Muhammad Kanaka Ratinggang dan Muhammad Kalundra Ratinggang.

Ia begitu bersyukur dan bahagia dianugerahi anak-anak yang sehat meski dilahirkan dari program bayi tabung di klinik Morula IVF — bagian group kesehatan Bunda Medik Healthcare System (BMHS). Klinik Morula memang fokus dalam pengembangan klinik bayi tabung. Morula sendiri adalah salah satu stadium embrio (cikal bakal janin) yang merupakan stadium yang matang dengan ciri terus berkembang.

“Saya senang sekarang banyak yang ingin punya anak lewat program bayi tabung ketika kehamilan menjadi sulit. Masyarakat sudah nggak malu-malu lagi. Sudah mau mencari informasi. Kemarin aja saya sempat ditanya-tanya oleh ibu teman saya mengenai bayi tabung. Aman nggak, berapa biayanya, dan lain-lain,” tuturnya.

Bayi tabung? Apa itu bayi tabung? Istilah yang semakin ke sini semakin familiar di telinga, tapi belum banyak yang mengetahui pengertian dari bayi tabung itu sendiri. Bayi tabung adalah suatu proses pembuahan sel telur oleh sel sperma di luar tubuh wanita, tepatnya di dalam sebuah tabung pembuahan. Setelah sel telur berhasil dibuahi dan ada dalam fase siap, maka akan dipindahkan ke dalam rahim. Secara medis proses bayi tabung disebut dengan in vitro fertilization (IVF).

Jadi, bagi pasangan suami istri yang kesulitan memiliki anak, sepertinya tidak perlu merasa kecewa atau bersedih hati lagi mengingat pesatnya perkembangan teknologi kedokteran kini sudah mampu mengatasi masalah ini. Masih tidak percaya? Artis cantik Tya Ariesta sudah membuktikan kemampuan teknologi yang membuatnya bisa hamil. Di zaman yang kian modern ini tentu saja tidak hanya Tya yang sudah memiliki anak dari hasil proses bayi tabung. Pasti banyak. Tidak bisa dihitung jari. Terlebih sejak teknologi ini masuk ke dalam dunia kedokteran Tanah Air.

Klinik Morula IVF Indonesia menjadi salah satu klinik bayi tabung yang cukup berkontribusi membantu banyak pasutri di Indonesia, bahkan di banyak negara, untuk memiliki anak. Kini, mewujudkan impian memiliki anak tidak lagi sebatas angan-angan. Bisa dibilang Klinik Morula IVF Indonesia pioner dalam program bayi tabung.

CEO Morula IVF Indonesia Dr. Ivan Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, SpOG, yang wajahnya selalu terlihat muda, mengatakan, sejak 1997 Grup BMHS membuka layanan Klinik Fertilitas Morula di RSIA Bunda Jakarta yang kemudian berganti nama menjadi Morula IVF Jakarta. Lalu, pada 2012 didirikan Morula IVF Indonesia sebagai langkah BMHS dalam mengembangkan layanan bayi tabung lebih cepat lagi di seluruh Indonesia.

Kehadiran klinik ini semula untuk membantu masyarakat dalam mencari informasi kesuburan yang saat itu masih simpang siur, masih tabu dan malu untuk diperbincangkan. Seiring perjalanan waktu, masyarakat pun mulai melek dan tidak malu-malu lagi untuk mengungkapkan kegelisahan hati terkait belum dikaruniainya anak di tengah-tengah keluarga.

Saat ini Morula memiliki 10 klinik bayi tabung di Indonesia, yakni: Morula IVF Jakarta, Morula IVF Padang, Klinik Morula IVF Margonda, Morula IVF Surabaya, Klinik Morula IVF Melinda Bandung, Klinik Morula IVF Pontianak, Morula IVF Makassar, Morula IVF Tangerang, Morula IVF Yogyakarta dan Morula IVF Ciputat.

“Dengan adanya teknologi canggih di Morula IVF Indonesia, akan semakin membantu para dokter kandungan untuk mengetahui dan menentukan apakah ada kelainan kromosom pada embrio pasien yang ditanamkan, sehingga dapat meningkatkan prestasi keberhasilan kehamilan,” katanya.

Berdasarkan data Perhimpunan Fertilisasi In Vitro di Indonesia (PERFITRI), hingga tahun lalu ada 10 ribu siklus program bayi tabung di Indonesia. Dari angka ini, IVF Morula Indonesia menyumbang 40 persen siklus program bayi tabung atau lebih dari 4000 bayi yang dilahirkan dari progam bayi tabung. Semuanya tak lepas dari Morula IVF Indonesia yang memiliki layanan berbagai program kehamilan terbaik dan teknologi canggih Morula IVF Indonesia untuk tingkatkan keberhasilan bayi tabung.

“Dulu untuk program bayi tabung paling banyak berobat ke Singapura. Saat ini, kita sudah jadi tuan rumah untuk program bayi tabung bahkan banyak pasangan dari luar negeri datang ke ke sini. Dulu yang namanya orang berobat  bayi tabung malu. Dibilang mandul, sekarang tidak lagi,” kata Sekretaris Jenderal PERFITRI, ini.

Masalah infertilitas, katanya, sudah bisa diatasi, meski memang tidak 100 persen berhasil, namun rasio keberhasilannya cukup tinggi. Infertilitas sendiri adalah satu permasalahan sistem reproduksi yang digambarkan dengan kegagalan untuk memperoleh kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual minimal 2-3 kali seminggu secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

“Banyak yang beranggapan kegagalan mendapatkan keturunan disebabkan oleh wanita yang tidak subur. Padalah keberhasilan mendapatkan anak dipengaruhi oleh kedua belah pihak. Pada wanita, penyebabnya dapat berupa gangguan ovulasi, endometriosis, perlekatan organ panggul dan sumbatan pada saluran telur. Sedangkan pada laki-laki, masalah yang mempengaruhi bisa dari kualitas dan kuantitas spermanya sangat rendah, merokok, olahraga yang salah dan stress,” tambah Dr. Ivan.

Berdasarkan hasil data SDKI 2012, Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate/TFR)  di Indonesia menunjukkan fertilitas di daerah perkotaan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan daerah perdesaan, yaitu masing-masing 2,4 dan 2,8 anak. Perkiraan terbaru bahkan menempatkan tingkat infertilitas di Indonesia pada angka 12% – 22% dari total populasi usia reproduksi. Sedangkan tingkat infertilitas wanita di Indonesia mencapai 15%, atau setidaknya ada 6 juta wanita Indonesia yang mengalami ketidaksuburan atau didapati memiliki masalah reproduksi.

Nah, salah satu terapi kesuburan yang telah terbukti dan teruji selama lebih dari 40 tahun adalah proses In Vitro Fertilization (IVF) atau lebih dikenal dengan program bayi tabung. Louis Brown menjadi bayi lahir hidup pertama melalui teknologi IVF di dunia. Dan, kehadirannya menjadi salah satu contoh keberhasilan program bayi tabung, serta menjadi bukti efikasi dan keamanan teknologi IVF dari masa ke masa. Terlebih kelahiran dari proses bayi tabung memiliki tingkat kesehatan sama baiknya dengan bayi yang lahir melalui proses pembuahan normal dan alami.

“Teknologi IVF saat ini telah berkembang pesat dan Indonesia diakui di dunia sebagai salah satu kontributor yang penting. Tidak hanya dari jumlah populasi tetapi dari sisi ilmiah dan teknologi. Masih banyaknya pasien yang keluar negeri adalah pekerjaan rumah yang perlu dilakukan bersama untuk meyakinkan bahwa standar layanan di Indonesia cukup tinggi dengan pengawasan yang ketat dari pemerintah dan juga PERFITRI/POGI,” tuturnya seraya menyebutkan di Indonesia, program IVF ada sejak tahun 1988 dan telah teruji keberhasilan dan keamanannya. 

Prosedur Mengikuti Program Bayi Tabung
Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam keberhasilan program IVF adalah faktor usia. Semakin dini proses bayi tabung dilakukan, probabilitas memiliki keturunan akan semakin besar. Tingkat keberhasilan program bayi tabung dapat mencapai hingga 40% apabila dilakukan di bawah usia 35 tahun. Mengapa? Karena wanita yang lebih muda biasanya memiliki telur yang lebih sehat dan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Sementara di atas usia tersebut akan semakin rentan.

“Misalnya, kalau indikasinya mencukupi, pasien masih muda, siklus masih bagus, sperma bagus. Pengobatan dilakukan bertahap. Namun, ada juga pasangan yang dari awalnya ingin bayi tabung karena sejumlah alasan. Misalnya salurannya buntu. Atau sperma di bawah 5 juta per cc. Atau spermanya nol,” terang Scientific Director Morula IVF Prof Arief Boediono PhD, yang hadir dalam kesempatan yang sama. Ia menjadi salah satu pioneer dalam pengembangan klinikin fertilitaster kemuka di Fukuoka, Jepang. 

Yang jelas, kata dia, untuk mengikuti program bayi tabung ini, pasien adalah pasangan suami istri. Karena di Morula IVF tidak melulu bicara secara scientifik dan medis, tetapi juga seacara etis untuk menentukan “kelayakan” pasien menjalani program bayi tabung. Rata-rata pasangan yang datang ke Morula IVF sudah menikah sekitar 5 tahun.

Berapa biaya untuk mengikuti program bayi tabung? Untuk biayanya bervariasi, tergantung usia wanita. Kalau dosis kecil itu harganya, Rp60-70 juta. “Tapi kalau dosis tinggi karena pasien sudah berumur, bisa Rp90-100 juta,” ujar dr Ivan Rizal Sini SpOG. Ia menekankan, penanganan program Morula IVF dilakukan oleh dokter ahli serta didukung peralatan teknologi canggih. Tingkat keberhasilan bayi tabung dapat mencapai 70 persen bila dilakukan pada wanita usia muda atau berumur di bawah 35 tahun.

Persiapan Program Bayi Tabung
Kini, program bayi tabung sudah menjadi pilihan bagi para orangtua yang mengalami kendala kehamilan maupun yang disengaja untuk mempercepat proses memiliki anak. Lantas, apa yang harus dipersiapkan bagi calon ibu? Selain dana, ya tentu saja calon ibu harus menyiapkan keadaan fisik yang sehat. Karena sama dengan kelahiran normal kondisi fisik yang baik akan menghasilkan sel telur yang baik yang akan digunakan untuk dipertemukan dengan sel telur dari suami.

Selain fisik, kesiapan mental juga penting karena mungkin saja proses bayi tabung tidak berhasil. Atau bisa jadi hanya satu sel telur saja yang jadi padahal inginnnya kembar. Mengapa persiapan mental juga penting? Karena, meski berbiaya mahal, bayi tabung itu bukan berarti ibu akan berhasil 100 persen. “Bayi tabung itu angka keberhasilannya 40 sampai 50 persen, kalau inseminasi 10-15 persen, tapi rata-rata bayi tabung di seluruh dunia keberhasilannya 20-30 persen,” tukasnya.

Faktor berikutnya, umur ibu. Ini menjadi hal penting karena wanita mengalami menopause yang membuat sel telur mengalami penurunan jumlah dan kualitasnya. Maka disarankan sebelum umur 45 tahun datang lebih cepat ke dokter kandungan untuk memulai program bayi tabung terutama bagi mereka yang menikah terlambat. Semakin cepat pasangan melakukan proses bayi tabung, maka semakin tinggi pula keberhasilan dan semakin murah pula biayanya.

“Rata-rata pasien sudah keliling-keliling cari program kehamilan, yang mengakibatkan telurnya berkurang, nah kalau usia sudah bertambah tapi jumlah telurnya berkurang, akibatnya cost-nya lebih mahal lagi,” kata Ivan.

Teknologi PGT-A
Dalam kesempatan itu, diungkapkan, kemampuan dokter-dokter ahli kesuburan dan bayi tabung di Indonesia tak perlu diragukan lagi. Klinik bayi tabung juga sudah ditunjang dengan teknologi dan laboratorium yang canggih dan berdampak positif pada kenaikan angka keberhasilan IVF.

Scientific Director Morula IVF, Prof. Arief Boediono PhD, menambahkan, salah satu teknologi yang membantu mencegah kegagalan bayi tabung adalah teknologi PGT-A (Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy). Ini adalah pemeriksaan kromosom pada embrio sebelum penanaman kembali embrio ke dalam rahim, yang terbukti meningkatkan keberhasilan program IVF hingga 70 persen.

Dengan teknologi PGT-A, katanya, dokter bisa melihat kromosomnya bagus atau tidak. Lalu dipilih satu yang bagus, sisanya dibekukan. Kalau yang pertama gagal, embrio yang disimpan itu bisa dipakai. Ada lagi teknologi lain yang bisa juga diterapkan di Morula IVF adalah teknologi timelapse. Melalui teknologi ini, embrio yang ditanam dalam inkubator diamati menggunakan mikroskop khusus. Teknologi ini membuat pengamatan embrio menjadi lebih praktis.

“Sebelum ada teknologi ini, pengamatan dilakukan secara manual. Embrio yang disimpan di inkubator diambil untuk dilihat perkembangannya memakai mikroskop di hari ketiga atau kelima. Nah, dengan teknologi mikroskop, perkembangan embrio bisa dilihat melalui layar komputer tanpa mengeluarkannya dari inkubator, sehingga tidak mengganggu embrio lain,” paparnya. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!