Keluarga Indonesia, Mari Kita Ciptakan Anak Gembira

“AYO KAWAN, AYO KAWAN BERKUMPUL. Berkumpul, bersenang-senang semuanya. Jangan segan, jangan segan bersama. Bersama, menyanyi bergembira. Tepuk tangan, tepuk tangan, tepuk tangan. Bergembira. Sekali lagi, sekali lagi, tepuk tangan. Kita semua bergembira”

Lagu berjudul “Gembira Berkumpul” yang dinyanyikan Tasya saat masih kanak-kanak itu berulang kali terdengar. Lagu yang diputar oleh abang odong-odong untuk menghibur anak-anak usia balita itu berirama gembira sehingga yang mendengarkannya pun turut bergembira. Terbukti, anak-anak yang bukan masanya lagi naik permainan itu sepertinya turut larut mendengarkan lagu tersebut dengan tertawa riang sambil berpegangan tangan.

Saya yang melihat tingkah polah anak-anak tersebut — salah satunya anak saya, jadi tersenyum lebar. Saya turut bergembira menyaksikan kegembiraan dan kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah anak-anak. Sore yang cerah menambah suasana senja yang menawan dan menyejukkan hati.

Serasa tidak ada lelahnya, setelah puas dengan berdendang dan berjoget, anak-anak pun bersepeda mengelilingi area kompleks. Lagi-lagi penuh kegembiraan. Senyum mengembang tak pernah lepas dari bibir-bibir mungil itu sambil memekik gembira. Biasanya, memang rutinitas anak-anak di senja hari ya seperti itu sebelum akhirnya dilanjutkan dengan aktifitas di Taman Pendidikan Alquran di mesjid dekat rumah. Dan, saya selalu membiarkan anak-anak saya beraktivitas apa saya selama itu menyenangkannya, bermanfaat, dan tidak membahayakan diri.

Meski peringatan Hari Anak Nasional 2019 bertema “Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak” dengan tagline “Kita Anak Indonesia, Kita Gembira!” sudah berlalu, melihat kegembiraan anak-anak serasa saya menyaksikan peringatan Hari Anak Nasional secara langsung. Dan, seolah-olah suara mama Yohana (Ibu Yohana Yambise saat menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) terngiang di telinga saya ketika berpesan pada anak-anak Indonesia.

“Anak-anak manfaatkan kesempatan dengan baik untuk melakukan hal-hal positif. Belajarlah yang rajin, banyak membaca buku, rajin beribadah, hormat kepada orang tua, sayangi sesama teman, dan teruslah berprestasi,” kata saya mengutip pesan mama Yo. Ah, semoga saja anak-anak ini paham mengingat mereka tengah asyik bermain.

Setelah puas bermain, anak saya yang bernama Fattaliyati Dhikra, yang sering saya panggil Aliya pun pulang. Ia lantas bercerita pada says apa saja yang sudah dilakukannya seharian ini. Mulai dari kegiatannya di sekolah, mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di masjid dekat rumah, les bahasa Inggris yang diinginkannya, hingga PR yang belum dikerjakannya.

Sebagai orang tua saya bersyukur, saya masih bisa membuat anak saya merasakan kegembiraaannya dan kebahagiaanya di dalam pengasuhan saya, dan tentu saja bersama suami saya. Sebagai generasi penerus bangsa, anak memang harus selalu diliputi kebahagiaan agar kelak ketika tongkat estafet pembangunan bangsa ada di tangannnya, disambutnya dengan penuh gembira pula. Tak ada keterpaksaan. Dengan kondisi seperti itu, saya menyakini mereka akan menjadi sosok tangguh di masa depan seperti yang diharapkan Indonesia.

Bagi saya, memenuhi kebutuhan anak tidak semata-mata hanya dalam bentuk materi. Perlindungan dan perwujudan kesejahteraan psikis juga sangat penting. Bagaimana saya memberikan sentuhan kasih sayang, bagaimana saya memposisikan diri selevel dengan anak, bagaimana pula menempatkan anak sebagai teman berdiskusi di tengah derasnya arus teknologi informasi. Saya tidak ingin anak merasa hidup sendiri dalam “kesendiriannya”, lalu menarik diri dari pergaulan dan keramaian. Itu sama saja artinya anak terkungkung dalam penderitaan.

Sebagai generasi penerus bangsa, kualitas anak-anak harus dipersiapkan sedemikian rupa dan dimulai sedari usia dini. Tidak bisa dipungkiri, anak-anak harus menjadi fokus utama pembangunan. Anak juga sebagai penentu kualitas sumberdaya manusia, serta menjadi pilar utama pembangunan nasional. Kelak, ketika mereka dewasa, di tangan merekalah nasib bangsa ini ditentukan.

Karenanya, masa tumbuh kembang anak haruslah optimal dengan membiarkan anak-anak tinggal di lingkungan yang aman, nyaman, dan tentu saja bahagia. Tentu saja semua itu dimulai dari keluarga terkecil. Komitmen dari para keluarga Indonesia sangat dibutuhkan untuk bisa mencetak generasi-generasi unggul yang bahagia, berprestasi, dan berakhlak manusia. Meski tugas melahirkan anak-anak generasi penerus bangsa ada di sosok ibu, namun sejatinya membangun keluarga bahagia dan sejahtera tugas kedua orangtua.

“Ada sekitar 69 juta keluarga di Indonesia yang diharapkan memiliki komitmen dan pengetahuan yang baik soal pemenuhan hak anak. Kepedulian masyarakat soal ini perlu ditingkatkan. Jika hak-hak dapat terpenuhi dengan baik, mereka dapat tumbuh kembang dengan baik juga, sehingga hidupnya akan lebih sejahtera,” kata Deputi Menteri Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Lenny N Rosalin, dalam suatu kesempatan.

Bagaimana agar anak-anak bergembira? Ya tentu saja harus melibatkan seluruh orangtua dan keluarga Indonesia. Bukan semata-mata tugasnya pemerintah, tapi ini menjadi tugas bersama berbagai pihak untuk menjaga dan melindungi anak-anak agar tetap semangat. Kita harus sebisa mungkin ciptakan lingkungan agar mereka merasa aman, nyaman, dan bahagia.

“Mari kita bangkitkan kepedulian, kesadaran, dan partisipasi seluruh masyarakat Indonesia untuk menciptakan keluarga yang memiliki pola pengasuhan yang berkualitas, berwawasan, keterampilan, dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak,” ujar Lenny.

Lenny menegaskan, keluarga sebagai pengasuh pertama dan utama bagi anak-anak harus benar-benar menjadi pelindung. Keluarga harus mengerti cara mengasuh dan memenuhi hak anak. Dengan demikian, kualitas keluarga merupakan kunci pembentukan karakter anak-anak kita.

Bagaimana agar anak-anak bisa gembira dan bahagia? Membuat anak bahagia tidak melulu dengan memberinya kemewahan dengan segala kenyamanan dan kemudahannya. Karena, tidak jarang anak yang disirami dengan kemewahan ternyata tak membuat anak bahagia. Ia malah merasa kesepian, terabaikan, kurang diperhatikan, dan (semoga ini tidak terjadi) depresi. Kegembiraan pada anak bisa diberikan dengan cara sederhana.

Rita Pranawati, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) seperti dikutip dari situs kpai.go.id, berpandangan orangtua perlu membuat anak bergembira dengan cara membuka dialog. Dalam dialog itu, orangtua dan anak berada pada posisi setara, memperlakukan anak sebagai ”orang merdeka” yang perlu didengar suara dan mimpi-mimpinya. Orangtua juga dengan mudah mengapresiasi kelebihan dan bakat anak.

“Saat orangtua sudah mampu berdialog dengan anak, itulah kegembiraan. Kegembiraan anak saat ini adalah saat orangtua mau dan mampu mendengar setiap suara lirihnya. Orangtua juga dengan mudah mengapresiasi kelebihan dan bakat anak. Jamak kita ketahui orangtua lebih mudah marah saat anaknya salah. Namun, hanya sedikit kata pujian saat anak hebat atau berprestasi,” kata Rita yang juga dosen FISIP UHAMKA ini.

Dalam pandangan Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo, untuk menciptakan kondisi anak yang gembira dan bahagia tak bisa lepas dari peran orangtua, terutama ibu, dalam proses tumbuh kembang anak begitu besar. “Masa depan anak kita bergantung pada bagaimana ayah dan ibu bertanggung jawab menjalankan perannya secara signifikan,” tukasnya.

Giwo menambahkan, kegembiraan anak berkait dengan pemenuhan hak-hak anak. Apa itu hak anak? Hak anak diumumkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1954, dan baru pada 20 November 1989 disahkan sebagai Konvensi Hak-hak Anak. Pemerintah Indonesia sendiri, melalui Keputusan Presiden No.36/1990 tanggal 28 Agustus 1990, pun mengakui hak-hak anak tersebut.

Apa saja hak anak? Berdasarkan Konvensi tersebut, berikut 10 hak yang wajib diberikan orangtua untuk anak yaitu: hak untuk bermain, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk mendapatkan nama (identitas), hak untuk mendapatkan status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan, hak untuk mendapatkan akses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak untuk berperan dalam pembangunan. Lantas, sudahkah kita sebagai orangtua memenuhinya? Semoga saja sudah.

“Kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak, akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia, dan cinta tanah air,” tandas Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2004-2007 ini.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan Indonesia mengingat masih banyak juga anak-anak Indonesia yang mengalami ketidakbahagiaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, eksplotasi, dan lain-lain. Berbagai isu kekerasan terhadap anak ini masih mendominasi pemberitaan. Hal ini menandakan, anak-anak di Indonesia belum mendapatkan hak untuk hidup dengan aman dan nyaman. Karenanya, kita harus mengajak seluruh warga Indonesia merenungkan kembali tentang pelindungan anak dalam keluarga. Salah satunya dengan menggembirakan mereka. Dengan kepedulian kita “mimpi” Indonesia menuju Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030 benar-benar terwujud. Bukan lagi sekedar “bunga mimpi”. Kita harus optimis! Tidak ada kata tidak mungkin untuk menuju kebaikan. (tety polmasari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!