1.6 C
New York
29/02/2020
Aktual

Penemuan Terbaru: Klinik Hayandra Perkenalkan Terapi Sel untuk Peremajaan Kulit dan Sistem Imun

JAKARTA (Pos Sore) — Klinik Hayandra dan HayandraLab yang bernaung di bawah Yayasan Hayandra Peduli, memperkenalkan temuan baru dunia medis yang dimiliki klinik yang beralamat di Jalan Kramat 6, Jakarta Pusat, itu. Yakni terapi sel untuk peremajaan kulit dan sistem imun yang dihasilkan dari jaringan lemak pasien sendiri tanpa harus melalui proses kultur.

Terapi yang dimaksud yaitu terapi regenerasi sel baru berupa terapi Stromal Vascular Fraction atau SVF. Terapi SVF ini antara lain digunakan untuk anti aging (mengatasi proses penuaan). Terapi ini telah banyak digunakan di sejumlah negara maju sebagai alternatif terapi pada kasus-kasus yang membutuhkan regenerasi sel seperti anti aging.

“Terapi SVF pada dasarnya hampir sama dengan stem cell, karena keduanya berbasis pada terapi regenerasi sel. Hanya saja, sel yang digunakan dalam terapi SVF diambil dari tubuh pasien itu sendiri dengan cara sentrifugasi dan pelepasan ikatan antar sel dengan enzim,” kata Dr. dr. Karina, SpBP-RE, pendiri Yayasan Hayandra Peduli pada temu media bertema ‘Penemuan Terbaru Dunia Medis: Terapi Sel untuk Peremajaan Kulit dan Sistem Imun, Selasa (21/1/2020), di Jakarta.

SVF ini kumpulan sel, hasil pengolahan lemak yang diambil dari tubuh pasien, yang mengandung beberapa jenis stem cell, fibroblas, sel progenitor, sel-sel darah serta sel-sel imunitas yang semuanya berguna untuk tubuh manusia. Ternyata sumber sel punca yang paling banyak di tubuh kita berasal dari jaringan lemak dan proses pengambilan jaringan lemak di tubuh biasanya dilakukan oleh dokter yang memiliki kompetensi di bidang tersebut, yaitu dokter bedah plastik.

“Dan perlu diketahui pula sel punca atau stem cell yang teraman adalah yang berasal dari diri kita sendiri atau autologous,” lanjut Dr Karina, dokter spesialis bedah plastik dan juga Doktor Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Meskipun sama-sama terapi yang memanfaatkan sel (regenerasi sel), SVF berbeda dengan stem cell. Perbedaannya adalah jika SVF didapatkan dari jaringan lemak tanpa proses kultur, sebaliknya stem cell didapatkan harus melalui proses kultur. SVF mengandung banyak jenis sel, termasuk beberapa jenis stem cell, yang saling bersinergi untuk proses perbaikan jaringan atau organ tubuh, sedangkan stem cell hanya terdiri dari satu jenis sel yaitu stem cell itu sendiri.

Perbedaan lainnya terkait waktu yang dibutuhkan. Untuk proses SVF adalah 2-3 jam, sedangkan stem cell berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk mendapat produk stem cell saja. SVF diproses dengan menggunakan enzim rekombinan yang tidak berasal dari hewan (animal free origin).

Kegunaan stem cell yang terkandung dalam SVF di antaranya untuk pengobatan kelainan otak seperti stroke, dementia, cerebral palsy, epilepsi, autism, Parkinson, diabetes berikut komplikasinya, gagal ginjal, neuropati, osteoarthritis, penyakit-penyakit autoimun seperti psoriasis, rheumatoid artritis, multiple sclerosis, sjogren’s, lupus dan penyakit-penyakit degeneratif, termasuk pada tulang.

Sama halnya dengan stem cell, SVF lanjut Dr Karina tidak mungkin bisa hidup di dalam sediaan krim atau pil. Atau dalam bentuk ampul yang disimpan pada suhu ruang lebih dari 1-3 hari. Sudah pernah diamati, dalam waktu 12 jam, stem cell di suhu ruang akan mengalami kematian lebih dari 30%.

Dengan visi dan misi menyediakan layanan kesehatan yang efektif, efisien dan aman, serta diakui baik secara nasional maupun internasional, Klinik Hayandra pun memperluas layanan spesialistiknya, dengan layanan terapi sel autologus (dari diri sendiri) sebagai layanan unggulan.

“Pada awal Januari 2019, HayandraLab juga telah mendapat hak paten pertama di Indonesia untuk teknologi pengolahan lemak sampai mendapatkan berbagai sel regeneratif, termasuk stem cell, dalam jumlah milyaran. Kumpulan milyaran sel ini disebut sebagai stromal vascular fraction (SVF), dan sangat berguna untuk memperbaiki sel yang rusak di tubuh kita, termasuk tentunya untuk peremajaan kulit,” jelas Dr. dr. Karina.

Terkait terapi sel “abal-abal” yang dilakukan oleh satu klinik di Jakarta, Dr. dr. Karina menekankan, masyarakat tidak perlu khawatir. Menurutnya, Indonesia salah satu dari sedikit sekali negara di dunia yang pemerintahnya sangat mendukung riset dan layanan terapi sel yang aman dan benar (termasuk sel punca/stem cell, sel imun, dan sel lainnya).

Hal itu terlihat dari Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 32 tahun 2018. Secara legal, 12 RS se-Indonesia serta klinik-klinik utama yang terafiliasi dengan 12 RS ini, merupakan mitra bagi Kementerian Kesehatan dalam membangun layanan sel terapi yang berkualitas, teruji dan terstandarisasi dengan baik, untuk melindungi masyarakat Indonesia yang memerlukan layanan sel terapi ini.

Klinik Hayandra sendiri terafiliasi dengan 2 dari 12 RS yang ditunjuk, sementara sampai saat ini, HayandraLab adalah salah 1 dari 5 laboratorium cGMP stem cell yang memiliki SK Menteri Kesehatan RI sebagai laboratorium yang legal melakukan pemrosesan stem cell dan sel lainnya.

Jadi, tidak perlu lagi berkunjung ke luar negeri untuk menjalankan terapi sel, yang tarifnya jelas lebih mahal. Kalau di Klinik Hayandra tarifnya bisa seperempat lebih murah dari tarif di luar negeri. Belum lagi kepastian bahwa terapi sel yang dilakukan benar-benar bekerja atau tidak. (tety)

Related posts

Keabsahan Pileg-Pilpres 2014 Dipertanyakan

EDII Raih Penghargaan Pada 8th Anugerah BUMN Award 2019

Tety Polmasari

YMMI Gunakan TKA Ilegal

Tety Polmasari

Leave a Comment