6 C
New York
01/04/2020
Aktual

Cardiovascular Center RS MMC Siap Berikan Layanan Penyakit Jantung Komprehensif

JAKARTA (Pos Sore) — Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC) kini memiliki Cardiovascular Center one stop service. Ini adalah pusat pelayanan yang terintegrasi. Pasien dapat memperoleh pelayanan konsultasi bersama spesialis, diagnosa secara menyeluruh, pegambilan obat, hingga terapi penyakit jantung koroner.

Direktur utama RS MMC, dr Roswin R Djafar, mengatakan, dibukanya layanan ini agar masyarakat mendapatkan pelayanan penyakit jantung secara komprehensif. Terlebih berdasarkan fakta sekitar 45 persen kematian akibat penyakit jantung disumbang oleh penyakit jantung koroner (PJK).

“Jika dibutuhkan tindakan lebih lanjut, pasien dapat melakukan terapi penyakit jantung koroner secara langsung, seperti pemasangan ring dan operasi bypass jantung di lokasi yang sama,” kata dr Roswin, ysai memperkenalkan Integrated Cardiovascular Centre, di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah RS MMC, dr Eka Ginanjar SpPD, KKV, FINASIM, FACP, FICA, MARS, mengatakan, penyakit jantung koroner (PJK) — kondisi pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat oleh timbunan lemak, jika tidak tertangani dengan baik dapat memicu beberapa komplikasi yang berakibat fatal.

“Jika lemak semakin menumpuk akan mempersempit arteri dan akibatnya aliran darah ke jantung menjadi berkurang,” terang dr Eka. Bila kondisi ini terjadi, akan terasa nyeri dada yang biasanya terasa di bagian tengah atau kanan atau kiri atau ulu hati, yang dapat terjadi lebih dari 15 menit atau lebih.

Nyeri ini rasanya seperti tertindih benda berat, atau dada seperti terikat, disertai penjalaran ke lengan kiri atau kadang-kadang kanan, leher, rahang, disertai keringat dingin, mual. Kadang-kadang muntah, juga terjadi komplikasi sesak, lemah, pingsan, dan kejang.

“Selain serangan jantung, PJK memiliki komplikasi berupa gangguan irama jantung (aritmia). Sayangnya, aritmia kerap tidak terdeteksi sebagai penyakit jantung, padahal akibatnya bisa fatal,” ungkap dr Eka.

PJK jika tidak tertangani dengan baik dapat memicu beberapa komplikasi yang berakibat fatal. Diantaranya serangan jantung, gagal jantung, nyeri dada (angina), gangguan irama jantung (aritmia), henti jantung, penyakit penyempitan pembuluh darah (arteri perifer), emboli paru, pembengkakan arteri dan henti jantung.

Gangguan Irama Jantung
Dokter Spesialis Kardiovaskular RS MMC, Prof Yoga Yuniadi, menambahkan, secara normal jantung berdenyut sebanyak 50-90 kali per menit. Saat denyut jantung berdenyut cepat, akan berdetak hingga 200 kali per menit. Sementara itu, denyut jantung melambat ketika denyut irama jantung terhitung 40 kali per menit.

“Gangguan irama jantung (aritmia) terjadi akibat pembentukan dan atau penjalaran impuls listrik sehingga memunculkan denyut jantung yang tidak beraturan,” jelasnya seraya menambahkan denyut jantung berdetak cepat disebut takiaritmia, sebaliknya denyut jantung yang melambat dikenal sebagai bradiaritma. Bila aritmia tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan otak secara permanen hingga kematian mendadak.

Menurutnya cara untuk menangani aritmia ini dengan metode pemasangan Left Atrial Appendage (LAA) Closure, strategi penanganan terbaik untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penggumpalan darah di serambi jantung kiri. Dapat juga diatasi dengan metode Ablasi Kateter Elektronis yang lebih ampuh untuk menyembuhkan total dan tidak hanya meringankan gejala dengan tingkat keberhasilan sekitar 97 persen.

Pingsan Indikasi Ada Gangguan Irama Jantung
Gangguan irama jantung (aritmia) juga bisa dilihat dari kondisi seseorang yang mengalami pingsan. Meski kondisi ini bisa disebabkan oleh kelelahan, kelaparan, atau masalah terkait kesehatan, juga bisa karena aritmia. Karenanya, jangan sepelekan pingsan.

Dokter spesialis jantung dari RS MMC Jakarta, Dicky Armein Hanafy, mengatakan pingsan berulang disertai keluhan jantung berdebar-debar adalah satu ciri yang perlu diwaspadai. “Pingsan terkadang tidak berbahaya. Tetapi walau hanya sekali, tetapi kalau ada riwayat berdebar sebelumnya, harus segera diperiksakan,” katanya.

Pada dasarnya, pingsan terjadi saat otak kekurangan oksigen, apa pun penyebabnya. Selain keluhan jantung berdebar, kondisi ini bisa menjadi pertanda bahaya, misalnya aritmia, jika disertai faktor riwayat keluarga mati mendadak.

“Kalau hanya pingsan tidak ada keluhan sebelumnya, umumnya bisa saja tidak ada apa-apa. Tetapi, ada riwayat di keluarga mati mendadak, itu harus segera diperiksakan, jangan-jangan gejala awal mati mendadak juga,” tambahnya.

Dokter spesialis jantung RS MMC Jakarta, Sunu Budhi Raharjo, menuturkan sebelum pingsan, pasien aritmia biasanya terlebih dulu mengalami pusing atau keliyengan akibat pompa jantung tidak optimal. Jika hal ini terjadi, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter, terutama spesialis aritmia, khususnya jika Anda sudah berusia di atas 30 tahun, untuk mendapat penanganan. Aritmia yang tak tertangani dengan baik, bisa menyebabkan kerusakan otak permanen hingga kematian mendadak penderitanya. (tety)

Related posts

Meski Sibuk, Ahok Masih Sempat Berolahraga

Tety Polmasari

SBMPTN Diikuti 62 PTN di Tanah Air

Tety Polmasari

Jakarta Utara Harus Sehat untuk Hunian dan Lingkungan Kerja

Tety Polmasari

Leave a Comment