8 C
New York
30/03/2020
Nasional

Rakyat Kecil Kena Dampak, FPKS Tolak Penerapan Pungutan Cukai Plastik

JAKARTA (Pos Sore) —Anis Byarwati, anggota komisi XI DPR RI FPKS menegaskan setuju konsumsi plastik sekali pakai harus dikurangi. Tetapi ia tidak menyetujui jika pungutan cukai plastik akhirnya harus diterapkan. Ia meminta untuk mencermati dan pertimbangkan dampak dari pungutan cukai plastik jika disetujui.

“Penerapan cukai plastik pasti akan meningkatkan harga kantong plastik, yang pada akhirnya akan mengurangi konsumsinya,” ujarnya dalam rapat kerja komisi XI dengan Menteri Keuangan dengan topik Penjelasan Menkeu tentang Ekstensifikasi Barang Kena Cukai berupa Kantong Plastik, Rabu (19/2).

Yang jadi pertanyaan apa alternatif penggantinya? Kemungkinannya, tas tebal yang terbuat dari bahan kain atau kertas. Sementara hasil riset di Inggris menunjukkan tas tersebut justru berpotensi lebih merusak lingkungan dibandingkan kantong plastik biasa saat di pakai ulang sebanyak 9 hingga 26 kali.

Hal lain yang akan muncul, menurut Anis, adalah meningkatnya konsumsi plastik sampah. Didasari dengan hasil riset di California yang menunjukkan larangan penggunaan kantong plastik menyebabkan konsumsi plastik sampah justru meningkat.

Hasil riset tersebut menyebutkan larangan kantong plastik, mengurangi konsumsi kantong plastik hingga 18 juta kg/tahun tetapi justru meningkatkan konsumsi plastik sampah hingga 5,4 juta kg/tahun. “Ini perlu kita pikirkan,” tukasnya.

Legislator dari dapil Jakarta Timur ini juga mempertanyakan, yang perlu dikendalikan plastiknya atau sampahnya? Anis memandang tidak efektif jika penggunaan plastik dikenakan cukai, sementara sampahnya tidak dikendalikan.

“Perlu terintegrasi. Masyarakat perlu di edukasi dan pemerintah membuat waste management system. Sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan dibenahi. Jika penanganannya hanya sebagian-sebagian, maka solusinya belum signifikan,” katanya.

Saat ini standarisasi pemilahan dan pengolahan sampah masih berbeda-beda. Ia menyebutkan perbedaan kategori sampah berdasarkan warna yang masih berbeda antara pemilahan di Surabaya dan di Jakarta.

“Bagian integrasi lain yang harus dibenahi adalah ketersediaan infrastruktur pengolahan sampah plastik. Dan juga sinergi pemerintah pusat dan daerah,” katanya seraya mengingatkan konsumsi plastik mayoritas dilakukan oleh masyarakat menengah ke bawah.

Jadi,jika konsumsi plastik dikenakan cukai, maka otomatis harga plastik akan naik dan berpengaruh pada tingginya harga bagi kelompok menengah ke bawah. Dan kondisi ini akan menjadi masalah ekonomi baru bagi masyarakat umum. Mereka akan merasakan ekonomi biaya tinggi.

Anis menyatakan dirinya sangat prihatin. Karena di saat ekonomi sulit seperti sekarang, pemerintah pun juga menaikkan iuran BPJS kelas 3 dan harga bahan-bahan pokok naik, maka keputusan mengenakan bea cukai bagi penggunaan kantong plastik, sangat tidak tepat.

Dalam penutupan rapat saat ketua komisi XI membacakan kesimpulan untuk pengambilan keputusan yang pada akhirnya komisi XI menyetujui dikenakannya bea cukai penggunaan plastik, Anis melakukan interupsi untuk menegaskan kembali keberatannya dan keinginannya untuk mengkaji ulang kebijakan ini. (tety)

Related posts

BTN Peduli Asap

bambang tri

Atasi Kisruh PD, Hencky Luntungan Harus Bertanggung Jawab

hasyim husein

Pembantaian Papua, IPW Desak Jokowi Minta Maaf

Ramli Amin

Leave a Comment