24.1 C
New York
09/07/2020
Aktual

Mengendalikan Hawa Nafsu Setelah Puasa Ramadan

JAKARTA (Pos Sore) — Puasa ramadhan secara umum dipahami sebagai latihan untuk mengendalikan hawa nafsu: nafsu makan dan minum, serta segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Namun bagaimana kita mengendalikan hawa nafsu setelah puasa Ramadhan?

Dalam Diskusi Online yang bertajuk Lebaran Sehat 1441 H yang diadakan Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), Literasi Sehat Indonesia (LiSan) dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Masyarakat Sulawesi Selatan (KKSS), Ustad Dr. dr. Muh Khidri Alwi, M.Ag menjelaskan berkaitan pengendalian nafsu semuanya bermula dari perut.

Dikatakan, untuk mengukur kadar sehat seseorang, tidak hanya dilihat dari badan fisiknya yang prima, tetapi juga jiwa yang stabil, dalam hal ini kemampuannya dalam mengendalikan nafsu. Nafsu ini, dalam al-Qur’an biasa disebut “nafs ammarah bis-suu”. Nafsu yang selalu mengajak ke hal-hal negativf. Salah satu nafsu itu adalah nafsu perut.

Nafsu perut yang bertetangga dengan syahwat (terutama nafsu di bawah perut) adalah “tokoh utama” yang melahirkan malapetaka terbesar umat manusia dalam melakoni hidupnya di dunia ini. Nafsu ini adalah salah satu peletak dasar terjadinya musibah dari dosa-dosa yang dilakukan manusia.

“Duduklah sejenak di hadapan TV, bukalah HP dan tengok info di medsos. Setiap hari muncul berita-berita kriminal dari kecil hingga besar seperti pembunuhan, tawuran, begal, perampokan, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya berawal dari nafsu perut,” ujarnya.

Kasus-kasus korupsi dan kejahatan di dunia maya yang menjadi langganan berita, yang mempertontonkan mulai dari mafia-mafia berdasi atas nama “paduka yang terhormat”, dari para birokrasi dan legislasi pejabat sampai yang dilakukan wong cilik adalah bentuk penghambaan total dari nafsu perut.

Jabatan diperjualbelikan, martabat digadaikan, kehormatan dicampakkan, urat malu sudah hilang. Muncul dengan muka topeng diselingi senyum kearifan yang penuh kemunafikan. Berkulit badak yang tak lagi memiliki rangsang saraf perifer sehingga mengalami anastesi (hilang rasa) kepekaan akan penderitaan rakyat, berbalut nurani dengan qalbu yang sudah mati (qalbun mayyit).

“Dan, seperti biasanya hampir semua berujung dengan komplikasi ke nafsu bawah perut yang melahirkan tamak, serakah, haus kekuasaan, gila harta, gila wanita dan berbagai penyakit-penyakit qalbu lainnya,” terangnya.

Perut yang “rakus” tidak hanya mendatangkan keluhan fisik yang setiap saat dapat menimbulkan berbagai penyakit gastrointestinal. Tetapi lebih dari itu sangat mempengaruhi aktifitas psikis (jiwa) dan rohani. Walaupun belum ada penelitian bagaimana hubungan makanan dapat mempengaruhi perilaku dan jiwa seseorang.

“Namun kita biasa menyaksikan bagaimana orang yang sering makan makanan yang haram dan berlebihan (melampaui batas) selain bentuk fisiknya, akan turut mempengaruhi kepribadian dan jiwanya. Kepribadian menjadi labil, melahirkan kegelisahan dalam hidup seperti mudah putus asa, cemas, stres sampai depresi,” ujar dr. khidri.

Nabi Muhammad SAW bersabda “Siapa yang menjaminkan kepadaku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua pahanya, aku menjamin surga baginya.” Menjamin keduanya berarti mengendalikannya dalam bimbingan ajaran Rasulullah Saw.

Rahang dan paha melambangkan nafsu perut dan nafsu di bawah perut. Keduanya tidak dapat dipisahkan, setali tiga uang. Lewat pengekangan “rahang”, maka “paha” dapat dikontrol. “Hal itu hanya dapat dilakukan lewat puasa,” terang dr. Khidri.

Kearifan Puasa
Salah satu kearifan puasa, adalah melatih manusia mengendalikan diri. Puasa juga meningkatkan keimanan dan dapat mengendalikan waktu makan dan minum kita. Dalam berpuasa, kita bukan saja dilarang mengkonsumsi yang haram, kita juga dilarang mengkonsumsi yang halal, bila saatnya belum tiba.

Selain itu, puasa berfungsi juga sebagai “terapi” bagi jiwa yang tidak stabil. Melahirkan sikap sabar, mampu menahan diri serta senantiasa berserah diri (tawakkal) kepada Allah SWT. Puasa yang berarti al-imsak (menahan “diri”) mengajarkan kepada kita, jika diiringi dengan iymaanan wah tisaban akan berada pada wilayah “hidayah”.

Posisi hidayah inilah yang melahirkan efek positif terhadap fisik, psikis dan rohani. Tanpa pemahaman dan action puasa yang baik, puasa hanya memiliki dampak secara kuantitatif tanpa aplikasi secara kaffah ke seluruh dimensi kemanusiaan kita.

Maka jangan heran, secara kualitatif puasa tidak memiliki roh dan hilang makna hakikinya. Ini terbukti kejahatan atau kemaksiatan tetap langgeng dilakoni walaupun puasa datang setiap tahun. Kehadirannya sekedar slogan sebagai seremonial untuk melengkapi “cap” Islam di KTP.

Untuk mengkualitaskan puasa secara kaffah (menyeluruh, baik dimensi fisik, psikis maupun rohani), maka pengendalian puasa tidak hanya sebatas menahan makan dan minum, tetapi juga mengendalikan “nafs ammarah bis-suu” kita. Kemampuan mengendalikan nafsu, menurut ilmu jiwa, itu salah satu ciri jiwa orang yang sehat.

Bagi orang beriman, alat pengendalian dirinya adalah keimanan yang telah menjelma menjadi kepribadian. Jika bisa dicapai, keimanan ini akan mengarahkan setiap perilaku manusia. Keimanan dan pengendalian diri menjadi senjata yang ampuh menghadapi godaan-godaan, baik yang timbul dari dalam maupun dari luar. “Hal itu hanya dapat dicapai, lewat, salah satunya, puasa, tutup dr. Khidri. (tety)

Related posts

Kebakaran di Cipinang, Empat Orang Tewas Terpanggang

Tety Polmasari

Polsek Tangerang Tangkap Pengedar Narkoba

Tety Polmasari

Sepanjang Libur Panjang, BPBD Riau Berjaga Antisipasi Jumlah Titik Api

Tety Polmasari

Leave a Comment