24.1 C
New York
09/07/2020
Aktual Ekonomi

Lembaga Pendidikan Harus Segera Beradaptasi dengan Era New Normal

JAKARTA (Pos Sore) — Pandemi Covid-19 sudah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan, termasuk dari segi ketenagakerjaan. Data Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan angka pengangguran meningkat 71 persen dari 7,1 juta orang meningkat menjadi 12,2 juta orang selama pandemi Covid-19. Angka ini akan terus meningkat mengingat hantaman virus Corona belum juga berakhir.

Lantas bagaimana peluang dan tantangannya di era new normal di kalangan milenial? Institut STIAMI pun mengadakan seminar nasional online bertema “Peluang dan Tantangan Indonesia di Era New Normal dari Perspektif SDM”, Sabtu (27/6/2020).

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Institut STIAMI Euis Komalawati S.Sos, mengatakan, sektor tenaga kerja menjadi salah satu sektor yang mengalami dampak cukup parah akibat pandemi Covid-19. Meningkatnya jumlah pengangguran ini akan menimbulkan masalah jika tidak segera diantisipasi sejak sekarang.

“Karena itu, sektor yang berhubungan dengan ketenagakerjaan terutama lembaga pendidikan harus segera beradaptasi dengan era new normal, tatanan baru kehidupan,” katanya dalam seminar yang menghadirkan narasumber pakar dalam bidang organisasi dan SDM PT Quantum Prof. Dr. Pribadiyono, Jubir Badan Koordinasi Penanaman Modal Tina Talisa, dosen Institut STIAMI Dickdick Sodikin Natamihardja.

Prof Pribadiyono dalam sesi paparannya, menyampaikan pandemi Covid-19 telah membuat perubahan tatanan kehidupan terjadi lebih cepat dari prediksi para pakar. Dalam waktu hanya 3 bulan, hampir semua aspek kehidupan mengalami perubahan seperti sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, ketenagakerjaan dan lainnya.

Sebenarnya, kata Prof Pribadiyono, 5 sampai 10 tahun lalu, perubahan yang ditandai dengan disrupsi baik di bidang teknologi maupun sektor lapangan kerja sudah dimulai. Dan ini akan terus berlangsung. Kebiasaan-kebiasaan lama dalam waktu singkat harus ditinggalkan oleh masyarakat dan kini era new normal memaksa semuanya harus beradaptasi.

“Terjadi loncatan yang luar biasa, penggunaan teknologi sedemikian massif, dan ini mempengaruhi masyarakat dalam perilaku bekerja,” katanya dalam seminar yang dikuti ratusan mahasiswa Institut STIAMI.

Karenanya, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi, menurut Prof Pribadiyono, Institut STIAMI harus melakukan perubahan besar. Misalnya dengan membuka program studi digital manajemen dimana materi-materinya menyentuh masalah microchip dan big data.

Sementara itu, Tina Talisa memandang pandemi Covid-19 akan membuat tingkat kompetisi tenaga kerja semakin tajam. Selain meningkatnya jumlah pengangguran akibat pandemi Covid-19, masyarakat juga harus berhadapan dengan virus coronanya sendiri.

“Jadi ada dua faktor yang membuat peta ketenagakerjaan berubah, yakni dari segi jumlah penganggurannya itu sendiri dan jenis lapangan kerja yang pasti akan mengalami penyesuaian dengan munculnya virus corona,” katanya.

Sementara itu. Dickdick Sodikin, mengatakan tidak ada standar organisasi terbaik yang akan berlaku sepanjang masa, kecuali menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

“Perilaku kaum milenial sebenarnya sudah mendisrupsi banyak hal, perilaku kebanyakan masyarakat. Misalnya saja ada banyak jenis pekerjaan yang dilakukan kaum milenial, membuat jenis pekerjaan tertentu hilang. Dan kini pandemi Covid-19 telah mendisrupsi semua aspek kehidupan,” tutup Dickdick. (tety)

Related posts

MenkopUKM Dorong Platform Digital Terintegrasi bagi UMKM

Tety Polmasari

Dituduh Mencuri Sepeda Motor, Dua Pemuda Dibekuk

Tety Polmasari

JICA Tertarik Pelajari Program Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia

Tety Polmasari

Leave a Comment