17.1 C
New York
20/09/2020
Aktual

Stem Cell dari Penderita Diabetes Melitus Terbukti Perbaiki Gejala Penyakit Saraf

JAKARTA (Pos Sore) — World Health Organization (WHO) pada 2015 mencatat ada sekitar 900 juta orang di dunia menderita penyakit diabetes melitus (DM) (12% dari populasi) dan pada 2050 jumlah ini diperkirakan akan meningkat hingga mencapai 22%.

Di Indonesia sendiri diperkirakan jumlah penderita DM mencapai 8,4 juta orang di tahun 2000, yang akan meningkat menjadi 21,3 juta orang pada 2030. Pada wanita, prevalensi DM didapatkan lebih tinggi (21-32%) dibandingkan pria.

Persoalannya, banyak resiko komplikasi yang dapat terjadi pada penderita DM, terutama dengan gula darah dan HbA1C yang tidak terkontrol dengan baik. DM sendiri adalah penyakit metabolik dengan karakteristik kadar gula darah tinggi yang diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin atau terjadinya resistensi insulin.

Demikian masalah yang mengemuka dalam webinar bertajuk “Penanganan Komprehensif Penyakit Saraf terkait Diabetes Melitus”, di Jakarta, Minggu (19/7/2020).

Webinar yang dimoderatori dr. Krista Ekaputri, Sp.BP-RE, ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Anastasia Maria Loho, SpS, dokter spesialis saraf di Klinik Hayandra, Dr. Nelfidayani, SpKFR, dokter spesialis rehabilitasi medik Klinik Hayandra, dan Dr. dr. Karina, SpBP-RE, doktor bidang ilmu biomedik sekaligus CEO Klinik Hayandra dan HayandraLab.

Dokter Anastasia Maria Loho, Sp.S, menjelaskan, komplikasi pada DM ini terbagi menjadi menjadi dua. Pertama, komplikasi makrovaskular meliputi, penyakit serebrovaskular (stroke), jantung, dan gangguan pembuluh darah perifer (peripheral artery disease).

Kedua, komplikasi mikrovaskular dapat berupa gangguan saraf tepi (neuropati), gangguan ginjal (nefropati) ataupun gangguan pada mata (retinopati). Komplikasi ini dapat terjadi multipel dan berujung pada disabilitas ringan hingga berat, bahkan kematian.

“Penderita DM beresiko 2.3x mengalami stroke sumbatan dan beresiko 1.6x mengalami stroke perdarahan, sebagai akibat dari akumulasi inflamasi sistemik, kekakuan pembuluh darah, serta gangguan pada sel endotel pembuluh darah,” paparnya.

Selain stroke, sekitar 69% penderita DM mulai mengalami komplikasi neuropati pada tahun ke-5, yaitu gangguan saraf tepi yang dapat mengakibatkan gangguan sensorik seperti rasa baal, rasa kesemutan, sampai ke luka kaki diabetik yang dapat berakibat amputasi kaki. Juga gangguan motorik ataupun otonom seperti gangguan berkemih dan buang air besar.

“Tatalaksana penyakit saraf terkait diabetes secara konvensional meliputi pengendalian kadar gula darah, terapi medikamentosa yaitu obat-obatan serta suplemen, serta terapi non-obat seperti fisioterapi dan akupunktur,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Nelfidayani, SpKFR, menjelaskan, rehabilitasi medik memegang peranan penting dalam pencegahan dan penanganan komplikasi gangguan saraf pada DM, termasuk stroke dan neuropati diabetik yang dapat menyebabkan kaki diabetes. Aktivitas fisik yang sesuai dapat membantu mengendalikan kadar gula darah bersamaan dengan penggunaan obat pada pasien DM.

“Pemeriksaan dan perawatan kaki secara rutin, senam kaki meliputi latihan lingkup gerak sendi dan latihan penguatan otot kaki, serta penggunaan sepatu yang sesuai, merupakan contoh tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kaki diabetes. Pada kasus DM yang sudah terjadi gangguan saraf tepi, sepertiga kasus mengalami nyeri neuropatik pada tungkai yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari.”

Menurut dr. Nelfi, selain penggunaan obat-obatan, terapi laser intensitas tinggi dapat membantu mengurangi nyeri neuropatik. Terapi laser intensitas tinggi memungkinkan penetrasi jaringan dalam. Ini adalah terapi nyeri yang kuat namun tidak membuat ketagihan. Melalui proses transfer energi alami yang disebut fotobiomodulasi dan efek fotomekanis, laser dapat mempercepat penyembuhan dan regenerasi jaringan.

“Terapi laser intensitas tinggi bekerja dengan menstimulasi sirkulasi darah di daerah yang terkena, dan darah kaya oksigen yang kaya nutrisi membantu memperbaiki serat saraf dan mengoptimalkan fungsinya. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya rasa sakit dan ketidaknyamanan,” jelasnya.

CEO Klinik Hayandra dan HayandraLab Dr. dr. Karina, SpBP-RE, menyampaikan, proses pembentukan saraf baru (neurogenesis) serta pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan perbaikan gejala pada penderita penyakit saraf terkait DM.

“Stem cell sebagai induk dari semua sel di tubuh kita, mempunyai daya yang luar biasa dalam proses regenerasi sel-sel tubuh yang rusak. Stem cell dari penderita DM terbukti mulai membentuk pembuluh darah baru (angiogenesis) dalam waktu kurang dari 6 jam,” terangnya.

Prosedur stem cell yang dibiak maupun tanpa biakan yaitu Stromal Vascular Fraction (SVF), sudah banyak dilakukan di seluruh dunia dengan tingkat keamanan yang tinggi bila menggunakan sel dari tubuh sendiri (autologus).

Pemegang hak paten pertama di Indonesia untuk teknik pemrosesan SVF, ini menambahkan, tidak hanya meregenerasi saraf dan pembuluh darah, stem cell dan SVF terbukti mampu mengendalikan kadar gula darah dari penderita DM.

Klinik Hayandra dan HayandraLab sendiri rajin membuat riset dengan menggandeng peneliti dan klinisi baik dari dalam maupun luar negeri. Luaran (output) dari hasil riset dan layanan di Klinik Hayandra dan HayandraLab, telah dipublikasikan dalam banyak jurnal ilmiah baik di dalam maupun di luar negeri. Riset ini untuk menghasilkan terapi yang makin baik. (tety)

Related posts

Mahasiswa FMIPA UNY Raih Penghargaan dari UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia

Tety Polmasari

Prihantin Dengan Kondisi Kutim dan Bontang, Hetifah Komit Sinergi Dengan Dinas

Akhir Tanjung

Jenazah Eri Ditemukan, Evakuasi Dilanjutkan Selasa Pagi

Tety Polmasari

Leave a Comment