16.8 C
New York
20/09/2020
Aktual

Terapi T Cell Berperan dalam Pengobatan Kanker Padat

JAKARTA (Pos Sore) — Menurut data World Health Organization (WHO), pada 2014 terdapat 14 juta kasus baru dengan 1 dari 6 orang penderita meninggal dunia. Penyakit tidak menular ini memiliki angka kematian tertinggi di dunia, diikuti penyakit jantung, kardiovaskular, serta diabetes melitus.

Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang abnormal dan tidak terkontrol. Riset yang terus berkembang di bidang medis menelurkan banyak teknologi baru di bidang kanker, termasuk untuk deteksi dini pada kanker

Dalam webinar bertajuk “Penatalaksanaan Terkini Kanker Payudara dan Kanker Kolorektal”, Minggu (9/8/2020), Imam Rosadi, M.Si, Scientific Director HayandraLab Jakarta, mengemukakan, setiap individu memiliki variasi DNA, yang sebagian dari variasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Menurutnya, untuk meredam tingginya risiko kanker tersebut, maka perlu dilakukan pencegahan dengan mendeteksi kanker melalui pemeriksaan DNA. Salah satu teknologi mutakhir untuk deteksi dini kanker pada DNA adalah menggunakan teknologi HY-Gene.

“Ini adalah genetic-related disease test dari HayandraLab. Teknik in house pertama di Indonesia yang menerapkan Next Generation Sequencing (NGS) yang berasal dari California, Amerika Serikat. Metode NGS ini telah digunakan oleh banyak negara maju untuk Human Genome Project (HGP),” jelas Imam.

Imam menambahkan, teknologi yang digunakan oleh HayandraLab ini sangat sensitif dan akurat untuk mendeteksi adanya mutasi yang terkait dengan penyakit pada DNA. Dengan teknik ini, DNA akan dibaca berulang sebanyak 300 kali agar menghasilkan hasil yang valid dan lebih reliable atau dapat dipercaya.

“Hanya dengan 3 mL darah, DNA dapat dianalisis dan potensi risiko terhadap 74 jenis kanker serta lebih dari 40 sindrom dan disorder pada tubuh dapat diketahui. Hasil analisis ini tentunya akan membantu masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan secara dini,” tutur Imam.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Medik Ilmu Bedah FKUI-RSCM yang juga konsultan di Klinik Hayandra, Dr. dr. Sonar S. Panigoro, SpB(Onk), M.Epid, MARS, memaparkan tentang pentingnya deteksi dini pada kanker payudara. Terlebih kanker payudara menempati posisi teratas sebagai kanker yang tersering terjadi pada wanita di seluruh dunia.

“Para pria pun memiliki risiko terkena kanker payudara, walapun dalam prosentase yang jauh lebih kecil,” ungkapnya seraya menambahkan saat kanker terdeteksi secara klinis, jumlah sel kanker biasanya sudah melebihi 1 milyar sel. Dengan deteksi dini, diharapkan kanker payudara ditemukan pada stadium awal sehingga penderita dapat terhindar dari tindakan kemoterapi dan radiasi.

Sementara itu, Kepala SMF Bedah Digestif dari RS Kanker Dharmais, dr. Fajar Firsyada, SpB, KBD, menyampaikan, kanker kolorektal menempati urutan ke 3 dalam hal insidens, namun menjadi penyebab kematian akibat kanker ke 2 tertinggi di dunia. Terapi kanker kolorektal yang sudah menyebar (metastasis) menjadi lebih kompleks serta harus menimbang banyak hal, seperti usia, penyakit penyerta, pertimbangan operasi atau tidak operasi serta jenis obat adjuvant mana yang dapat diberikan.

“Pemeriksaan biomarker dapat membantu mengoptimalkan pemilihan terapi, mengurangi efek samping obat-obatan, meningkatkan kualitas hidup serta meningkatkan kepatuhan berobat,” terangnya.

Dr. dr. Karina, SpBP-RE, doktor bidang ilmu biomedik sekaligus CEO Klinik Hayandra dan HayandraLab mengungkapkan kanker merupakan penyakit yang memerlukan berbagai macam modalitas terapi. Karenanya, terapi T Cell dan NK Cell berperan dalam pengobatan kanker padat (solid cancer).

Multimodalitas terapi ini dipelajari saat berupaya mengobati ibundanya yang terkena kanker pada 2006. Salah satu yang dipelajarinya di Jepang adalah mengenai sel pertahanan tubuh (sel imun). Berbagai sel imun alami seperti sel T, sel NK dan sel NKT dari darah penderita sendiri (terapi autologus), ternyata bisa diaktifkan dan diperbanyak di laboratorium cGMP seperti HayandraLab.

Dikatakan, sel imun yang aktif dan dalam jumlah yang cukup akan sangat membantu penderita kanker padat (solid cancer), termasuk saat melakukan terapi terstandar seperti operasi, kemoterapi dan radiasi. Teknik Immune Cell Therapy (ICT) yang diambil alih dari Jepang ini juga telah dibuktikan oleh tim HayandraLab.

“Teknik ICT ini lebih superior dalam mencapai hasil akhir berupa jumlah sel imun dan keaktifan yang lebih tinggi, dibandingan dengan beberapa teknik dari negara lain seperti Amerika dan Kanada,” tutur perempuan cantik ini. Bahkan setelah dilakukan pengulangan terapi, jumlah sel imun yang meningkat tersebut masih mampu dipertahankan sampai 1 tahun setelah terapi. Hal ini tentunya sangat berguna dalam mencegah rekurensi dari kanker tersebut.

Menyadari masih banyaknya hal yang perlu diteliti lebih lanjut untuk menghasilkan terapi yang dapat melayani masyarakat dengan lebih baik, HayandraLab rajin membuat riset dengan menggandeng peneliti dan klinisi baik dari dalam maupun luar negeri.

Luaran (output) dari hasil riset dan layanan HayandraLab, telah dipublikasikan dalam banyak jurnal ilmiah baik di dalam maupun di luar negeri. Menutup webinar kali ini, Dr. Karina berharap supaya penderita kanker tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk berobat, dengan makin lengkapnya terapi kanker di Indonesia. (tety)

Related posts

Asia Pacific Predator League 2019 ‘Berebut’ Gelar Tim Esports Terbaik

Tety Polmasari

Jazuli: Pekerja Jadi Indikator Majunya Pembangunan

Akhir Tanjung

Dapat Pembiayaan dari LPDB, UKM Harus Kreatif agar ‘Naik Kelas’

Tety Polmasari

Leave a Comment