16.8 C
New York
20/09/2020
Aktual Kesra Nasional

Mengkhawatirkan, Giwo Rubianto: 5,9 Juta Anak Terpapar Narkoba

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, dalam kesempatan itu, menyampaikan kekhawatirannya terkait meningkatnya keterlibatan anak dalam peredaran gelap narkoba. Anak semakin sering ditemukan menjadi kurir hingga korban penyalahgunaan barang haram itu.

“Berdasarkan data KPAI tahun 2018, dari total 87 juta anak yang berusia maksimal 18 tahun tercatat 5,9 juta yang terpapar sebagai pecandu narkoba, 27 persen di antaranya adalah anak-anak yakni 1,6 juta anak sebagai pengedar,” ujar Giwo yang juga pernah menjabat Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Giwo mengemukakan hal itu saat berbicara dalam webinar bertajuk “Dirgahayu Indonesia ke-75; Generasi Unggul, Bebas Narkoba”, yang diadakan Perempuan Jenggala dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Kamis (13/8/2020). Menteri Pemuda dan Olahraga Zainuddin Amali menjadi keynote speaker dalam webinar ini.

Menurut Giwo, dari data itu jelas sangat mengkhawatirkan mengingat anak merupakan generasi penerus bangsa. Ini menandakan, pembangunan untuk karakter dan pengawasan pada anak di Indonesia belum maksimal.

Karenanya, Kowani yang merupakan federasi dari organisasi perempuan Indonesia yang tertua dan terbesar dengan 97 anggota organisasi di tingkat pusat dan lebih dari 87 juta anggota perempuan yang tersebar diseluruh penjuru Nusantara, berkomitmen melindungi anak dari segala hal yang membahayakan dirinya.

“Dengan jumlah anggota sebanyak hampir 1/3 dari keseluruhan penduduk Indonesia, Kowani yang mendapat amanah sebagai Ibu Bangsa dapat menggerakkan masyarakat, menjadi corong serta pendidik utama dan pertama di dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Pada 1935 di Kongres Ke-II, Kowani mendapatkan amanat dan mandat sebagai Ibu Bangsa untuk mengemban tanggung jawab mulia, yaitu mempersiapkan generasi penerus bangsa yang bertanggung jawab, menyiapkan generasi muda yang nasionalis, unggul, kreatif, inovatif dan berdaya saing.

Sementara itu, Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Yunis Farida Oktoris, meminta masyarakat untuk mewaspadai narkoba jenis baru hasil sintesis atau New Psychoactive Substances (NPS). Tren narkotika sekarang cenderung mengarah ke sintetis, katanya.

Yunis menjelaskan, biasanya bila seorang mengonsumsi narkotika jenis sintetis badan terasa sehat-sehat saja, namun sering senyum-senyum sendiri seperti terganggu kejiwaannya.

NPS sering juga disebut sebagai narkoba; sintetis, legal highs, herbal highs, pil pesta, kokain sintetis, ganja sintetis, ekstasi herbal, N-methoxybenzyl, dan banyak nama lainnya.

Berdasarkan data yang diperoleh BNN terdapat 803 jenis NPS yang tersebar di dunia. Yang beredar di Indonesia sekitar 74 jenis. “Itu yang berhasil ditemukan, bisa jadi yang sudah masuk ke Indonesia lebih dari itu,” ulasnya.

Dikatakan, sejauh ini ada 66 jenis NPS yang telah masuk dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) dan 8 jenis NPS yang belum masuk aturan Permenkes. Penerbitan aturan ini untuk melindungi masyarakat dari penyalahgunaan narkotika jenis NPS.

Yunis menjelaskan untuk memulihkan para pecandu NPS, langkah rehabilitasi menjadi salah satu yang paling efektif. Hal itu sudah teruji dan terbukti dalam memberikan dampak positif bagi para pecandu.

Ada banyak cara dalam rehabilitasi, pertama abstinensia (memperbaiki kondisi jiwa dan kesehatan), pengurangan frekuensi dan keparahan kambuhan serta memperbaiki fungsi psikologi dan sosial. (tety)

Related posts

Blok A Tanah Abang Gelar ‘Belanja Berhadiah Bersama BCA’

Tety Polmasari

Онлайн Игры В Казино Вулкан

Tety Polmasari

Antarkan 5000 Paket Daging Kurban di 5 Kota, Grab dan PKPU HI Raih Rekor MURI

Tety Polmasari

Leave a Comment