3.3 C
New York
03/12/2020
Aktual

Selama Ahok Komisaris Utama Pertamina, Mulyanto: BUMN Minyak Ini Tidak Berprestasi

JAKARTA, Possore.com– Anggota Komisi VII DPR RI membidangi Energi, Sumber Daya Mineral dan Lingkungan Hidup (LH), Dr H Mulyanto mempertanyakan kinerja Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahya Purnama alias Ahok selama bergabung di perusahaan minyak negara itu.

Dikatakan wakil rakyat Dapil III Provinsi Banten itu kepada Possore.com, Kamis (27/8), selama Ahok menjabat sebagai komisaris utama, perusahaan plat merah itu, Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara nyaris tidak memiliki prestasi yang layak dibanggakan. Justru sebaliknya banyak keanehan dan kejanggalan yang begitu jelas dilihat masyarakat.

“Pekan lalu kita dengar kabar Pertemina tidak masuk daftar Fortune Global 500. Sekarang yang terbaru Pertamina rugi Rp 11,13 triliun di semester pertama 2020. Kondisi ini jelas harus jadi perhatian Pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jangan terus dibiarkan dan menunggu Pertamina mengalami kondisi yang lebih parah. “Mau sampai kapan membiarkan Pertamina babak belur seperti ini?”

Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bidang Industri dan Pembangunan tersebut mempertanyakan kerja Ahok selama bergabung di Pertamina. Sebagai komisaris utama PT Pertamina, Ahok harusnya mampu melakukan pengawasan agar perusahaan yang dipimpinnya lebih baik.

Dengan kewenangan yang dimiliki dan dukungan politik memadai sebenarnya Ahok punya kesempatan lebih besar membenahi Pertamina. Apalagi menjelang pengangkatan dirinya menjadi komisaris utama, mantan Gubernur DKI itu sesumbar bisa memperbaiki Pertamina. “Waktu itu Ahok bilang, merem saja Pertamina sudah untung. Asal diawasi. Nah, kalau sekarang Pertamina rugi, artinya apa? Apa Ahok tidak mengawasi. Kok nyatanya Pertamina bisa rugi,” kritik Mulyanto.

Secara teori, kata Mulyanto, di semester pertama 2020 ini Pertamina harusnya untung. Bukan rugi seperti sekarang. Sebab di saat harga minyak dunia anjlok ke angka yang paling rendah sepanjang sejarah, Pertamina tidak menurunkan harga BBM sedikitpun.

Termasuk harga BBM non-subsidi yang harganya mengikuti harga minyak dunia. “Secara perhitungan kasar, Pertamina harusnya untung besar,” papar mantan Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.

Karena itu, Mulyanto heran jika dalam laporan semester pertama 2020 ini, Pertamina malah rugi. Dia menduga, ada faktor nonteknis yang menyebabkan Pertamina mengalami rugi yang begitu besar. Untuk itu, Mulyanto minta peran pengawasan Komisaris Utama lebih ditingkatkan.

Menurut dia, Pemerintah jangan sungkan mengevaluasi kerja komisaris utama yang sekarang. Jika memang tidak mampu pecat saja. Ganti dengan figur profesional yang memahami kerja dunia perminyakan. “Pertamina butuh gagasan besar. Bukan omong besar,” tandas Mulyanto. (decha)

Related posts

Perbaikan Museum Radya Pustaka Dikebut

Tety Polmasari

DPP ARBI Syukuran Kemenangan Pilpres

Tety Polmasari

Kreasi pun Kian Bergairah

Tety Polmasari

Leave a Comment