7.9 C
New York
01/11/2020
Aktual Ekonomi

Anis Tegaskan UMKM Memberi Kontribusi Besar untuk Ekonomi Nasional


JAKARTA (Pos Sore) —
Anggota komisi XI DPR RI Anis Byarwati, menilai peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia sangat penting. UMKM memiliki kontribusi besar dan krusial bagi perekonomian Indonesia. UMKM terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dengan jumlah UMKM saat ini mencapai 55,2 juta yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi dalam negeri mencapai 60 persen,” katanya, dalam diskusi virtual DE NGaji KULiah Forum (Dengkul Forum) bertajuk “UMKM Forum 2020, Kebangkitan Ekonomi Umat di Tengah Pandemik dengan Membangun Usaha Berjamaah”, Sabtu (5/9/2020). Diskusi ini bersama pengelola dan para pedagang Pusat Kuliner dan Kongkow (PKK).

Pengelola PKK Kalisari adalah anak-anak muda kader PKS Kalisari-Pasar Rebo Jakarta Timur. Mereka adalah anak-anak muda produktif, harapan masa depan bangsa. Diskusi sekaligus soft launching PKK ini. “Jika semua pihak yang terlibat memiliki semangat dan tekun, PKK akan menjadi bagian dari kelompok UMKM yang memberikan kontribusi besar untuk perekonomian nasional,” kata Anis.

Anis menjelaskan, berdasarkan UU no.20 tahun 2008, Usaha mikro adalah usaha dengan aset maksimal Rp 50 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan omzet maksimal Rp 300 juta per tahun. Usaha Kecil adalah usaha dengan aset lebih dari Rp 50 juta – Rp 500 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omzet maksimal lebih dari Rp 300 juta – Rp 2,5 miliar per tahun.


Usaha Menengah adalah usaha dengan aset lebih dari Rp 500 juta – Rp 10 miliar (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omzet lebih dari Rp 2,5 miliar – Rp 50 miliar per tahun. Dan Usaha Besar adalah usaha dengan aset lebih dari Rp 10 miliar (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omzet lebih dari Rp 50 miliar per tahun.

Sementara untuk klasifikasi UMKM, Anis menjelaskan 4 klasifikasi. Pertama, Livelihood Activites, adalah UMKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai informal. Kedua, Micro Enterprise, merupakan UMKM yang memiliki sifat pengrajin terapi belum memiliki sifat kewirausahaan.

Ketiga, Small Dynamic Enterprise, merupakan UMKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor. Dan keempat Fast Moving Enterprise, merupakan UMKM yang memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB).

Berbicara tentang upaya pengembangan UMKM, Anis memberikan 9 poin yang menjadi catatannya. Kesembilan poin tersebut adalah Penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif, Bantuan Permodalan, Perlindungan Usaha, Pengembangan Kemitraan, Pelatihan, Pembentukan Lembaga Khusus, Pemantapan Asosiasi, Pengembangan promosi dan Pengembangan Kerjasama yang Setara. (tety)

Related posts

Tarif JKN Naik, Masyarakat Harus Lihat Manfaat Layanan yang Didapatkan

Tety Polmasari

Optimis Hadapi Pandemi Covid 19, Tunas Ridean Sesuaikan Capex 2020 Sebesar Rp 476 Miliar

Tety Polmasari

Diduga Terlibat Narkoba, Artis Fachri Albar Ditangkap

Tety Polmasari

Leave a Comment