9.1 C
New York
30/10/2020
Kesra

APTISI Gandeng InfraDigital Digitalisasi Kampus di Masa Pandemi

JAKARTA (Pos Sore) — Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menggandeng InfraDigital Nusantara, startup fintech untuk digitalisasi layanan pembayaran biaya pendidikan. Kerjasama ini dilatarbelakangi dari masalah yang dihadapi perguruan tinggi di masa penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Ketua Umum APTISI Budi Djatmiko, menyampaikan, saat ini belum ada regulasi yang jelas mengenai PJJ. Banyak hal yang belum dipersiapkan untuk implementasi PJJ bagi perguruan tinggi. Mulai dari mempersiapkan infrastruktur, media/aplikasi PJJ, menetapkan strategi jangka pendek dan panjang serta memaksimalkan penggunaan berbagai media komunikasi. 

Karenanya, APTISI dan InfraDigital Nusantara bekerja sama dalam program “Digitalisasi Kampus Bersama Jaringan IDN”. Digitalisasi kampus dapat diimplementasikan untuk seluruh kampus dari berbagai latar belakang kondisi dan daerah. Kampus yang tidak memiliki sumberdaya dan berada di daerah tidak perlu lagi bingung dan khawatir.

“Digitalisasi kampus untuk semua kalangan dan siap menerapkan PJJ di masa pandemi maupun new normal nanti” terang Budi Djatmiko dalam Webinar Internasional bertema Perspektif Blended Learning untuk Keberlanjutan Proses Belajar Mengajar Perguruan Tinggi di New Era, di Jakarta, Kamis.

Menurut Ian McKenna, selaku CEO InfraDigital Nusantara, perbedaan antara perguruan tinggi yang terimbas paling besar secara operasional oleh pandemi Covid-19 dan yang paling sedikit terkena imbas adalah seberapa siap mereka untuk beralih ke digital.

“Membangun bereputasi seperti ini mempunyai beberapa langkah, salah satunya yakni dimulai dengan membangun infrastruktur digital untuk semua stakeholder kampus,” tutur Ian Mc Kenna, yang menyebut ada 4 tahap yang perlu dilakukan untuk menerapkan kampus digital yang siap menerapkan PJJ, yaitu infrastruktur digital, infrastruktur data, kapabilitas SDM, dan aplikasi yang cocok. 

Dalam mendukung perguruan tinggi memenuhi tahap tersebut, Prof. Aris Junaidi selaku Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Dikti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan pemerintah sudah menerapkan beberapa kebijakan penting terkait PJJ.

Mulai dari penyediaan platform pembelajaran daring, bekerjasama dengan provider telekomunikasi untuk penyediaan pulsa dan paket internet mahasiswa beserta dosen, program pengakuan kredit universitas melalui pembelajaran daring, serta pelatihan 110 ribu dosen untuk implementasi PJJ.

“Implementasi ini juga akan senantiasa disupervisi serta dievaluasi agar senantiasa berjalan maksimal. Namun tentunya inisiatif ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, berbagai stakeholder seperti asosiasi, perusahaan teknologi edukasi, dan pihak perguruan tinggi sendiri harus ikut mendorong digitalisasi kampus dan kesiapan PJJ karena pemerintah telah menegaskan bahwa PJJ akan menjadi kebiasaan baru di masa depan,” ujarnya.

Acara yang juga dihadiri sekitar 700 peserta dari perwakilan Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia, itu juga diisi Suria Binti Baba selaku Director Center for Academic Excellence and Development (CAED) University Malaysia Kelantan, Martin Jacobson selaku CEO Supertext Sweden. (tety)

Related posts

Kuliah Online Holland Alumni Lecture Angkat Pentingnya Tata Kelola Air

Tety Polmasari

Menteri Pendidikan Kerajaan Belanda Resmikan Erasmus Training Centre

Tety Polmasari

Pendidikan Politik bagi kaum muda “Milenial”

Tety Polmasari

Leave a Comment