9.1 C
New York
30/10/2020
Aktual Kesra Nasional

Pontjo Sutowo: Kolaborasi Mafia Kendalikan Industri Farmasi Tanah Air

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, menyampaikan, industri nasional di sektor kesehatan dan farmasi belum bisa tumbuh maksimal. Ia menduga disebabkan adanya praktik “mafia” dalam negeri yang berkolaborasi dengan industri raksasa medis di luar negeri untuk mengendalikan industri farmasi di tanah air.

Pontjo menyakini dominasi mafia medis ini sudah berlangsung cukup lama. Saat ini pun, ketika kita menghadapi pandemi Covid-19, praktik mafia itu diduga masih berlangsung dalam pengadaan alat keseehatan dan obat-obatan, sebagaimana belakangan ini hangat menjadi perbincangan publik.

Dikatakan, kesehatan nasional seringkali hanya berfungsi sebagai “penyalur” dari produsen luar negeri untuk alat kesehatan. Demikian juga dengan industri obat nasional yang bahan bakunya banyak dikendalikan oleh praktik mafia ini.

“Menteri BUMN pun beberapa waktu lalu sudah mensinyalir adanya mafia ini yang membuat Indonesia terus-menerus mengimpor bahan baku obat dan alat kesehatan,” papar Pontjo dalam FGD virtual bertema Teknologi Kesehatan dan Farmasi, Jumat (18/9/2020).

FGD yang dimoderatori Mayjen TNI (Pur) I Dewa Putu Rai, ini diadakan Aliansi Kebangsaan, bersama Aliansi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Forum Rektor Indonesia (FRI), dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Menghadirkan nara sumber pakar Biologi Molekuler Prof. Herawati Sudoyo Supolo, Rektor Universitas YARSI Prof. Fasli Djalal, Staf Khusus Menteri Kesehatan Mayjen TNI (Pur) Dr Daniel Tjen, Ketua Industri Kesehatan BPP HIPMI DR dr I Gusti Nyoman Darmaputra, dan Dewan Pakar Aliansi Kebangsaan Yudi Latif.

Pontjo menambahkan, ada dugaan, praktik mafia ini adalah bagian dari mafia global di bidang medis, dan tidak mustahil adalah bagian dari perang G-IV. Mafia global ini, dikenal dengan sebutan “medical industrial complex” yang diadopsi dari istilah “military-industrial complex” yang dapat berpengaruh pada kedaulatan negeri.

Menurut Ponco, untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang membelit industri alat kesehatan dan obat dalam negeri maka penguasaan inovasi teknologi dalam sektor kesehatan dan farmasi harus menjadi perhatian kita semua secara sungguh-sungguh.

“Tujuannya agar Indonesia mampu meningkatkan ketahanan kesehatan. Untuk itulah, sumbang saran dan solusi para pakar yang didapatkan dalam webinar ini, diharapkan dapat menjadi acuan dalam membenahi industri kesehatan dan farmasi dalam negeri,” tutup Pontjo.

Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Prof Arif Satria

Terkait hal itu, Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Prof Arif Satria, menyampaikan, Indonesia memiliki sumber kekayaan alam, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku farmasi. Ironisnya, Indonesia masih dinilai rendah dalam pengembangan industri kesehatan dan farmasi.

“Padahal Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk mencapai kemandirian dalam bidang obat-obatan dan alat kesehatan. Sebab Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar seperti biodiversity dan produk laut yang sangat penting sebagai bahan baku obat-obatan,” tuturnya.

Selain itu, inovator-inovator alat kesehatan juga cukup banyak baik dari kalangan perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga riset. Sebagai contoh, pada pandemi Covid-19 ini terjadi lompatan inovasi yang sangat membanggakan karena lebih dari 50 inovator muncul dengan inovasi yang relevan.

“Dengan potensi yang kita miliki tersebut, seharusnya soal kemandirian obat kita nomor satu. Namun sayangnya itu belum terjadi pada industri kesehatan dan farmasi Nasional,” tandasnya.

Rektor Universitas YARSI, Prof Fasli Djalal, saat memaparkan kondisi industri farmasi Indonesia

Rektor Universitas YARSI, Prof Fasli Djalal, mengatakan, berbagai program dan kebijakan juga roadmap untuk mencapai kemandirian tersebut sudah dirancang pemerintah. Namun, hingga kini kemandirian obat dan alat kesehatan masih jauh dari harapan.

Fasli menegaskan, kemandirian alat kesehatan dan obat-obatan menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Mengingat belanja produk alat kesehatan dan obat-obatan kita semakin hari semakin meningkat.

“Adalah pelajaran berharga saat terjadi pandemi COVID-19, di mana kran impor tersendat, bagaimana kalang kabutnya industri farmasi dalam negeri untuk memperoleh bahan bakunya,” ucap Fasli dalam FGD yang juga dihadiri Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Ketua Umum AIPI, dan Sari W Pramono, Ketua Bidang IX BPP HIPMI. (tety)

Related posts

Upacara HUT Bhayangkara Polri Disuguhkan Atraksi

Tety Polmasari

Susah Ngomong? Curahkan Saja Lewat Surat

Tety Polmasari

Nasib Tenaga Honorer Kian Tak Jelas

Tety Polmasari

Leave a Comment