9.1 C
New York
30/10/2020
Aktual Ekonomi

BPH Migas Kaji Ulang Proyek Pipa Transmisi Gas Ruas “Cisem”

JAKARTA (Pos Sore) — Setelah PT Rekayasa Industri (Rekin) yang memenangkan lelang 14 tahun lalu, mundur dari proyek pipa transmisi gas ruas Cirebon-Semarang, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pun mengkaji ulang proyek tersebut.

Kepala BPH Migas, M. Fanshurullah Asa menyampaikan, mengacu pada hasil rapat komite atas keputusan keputusan tersebut, pihaknya sepakat menugaskan direktur gas bumi untuk melaksanakan kajian, dalam waktu maksimal 1 bulan sejak 12 Oktober. Setelah satu bulan itu, ada keputusan bersama yang bisa diterima untuk dikoordinasikan terutama kepada Kementerian ESDM.

“Kalau mengacu peraturan BPH Migas, ini mestinya ditawarkan kepada pemenang kedua dan ketiga, pada tahun 2006, kita sudah melihat peluang dengan capex yang sama dan toll fee itu juga impossible,” terangnya, saat konferensi pers Proyek Pipa Transmisi Ruas Cirebon-Semarang di Kantor BPH Migas, Jakarta, Rabu (14/10/2020).

Pilihan lainnya yaitu BPH Migas melakukan lelang dengan batasan tertentu dengan panitia lelang melibatkan banyak pihak. Mulai dari tim BPH Migas, Kementerian ESDM, hingga bisa juga melibatkan Kementerian Keuangan. “Jadi betul-betul panitia bersama, bukan hanya BPH Migas. Ini bisa membentuk body contest, kepada seluruh badan usaha,” jelasnya.

Kepala BPH Migas, M. Fanshurullah Asa saat jumpa pers Proyek Pipa Transmisi Ruas Cirebon-Semarang, Rabu (14/10/2020)

Kepala BPH Migas mengakui ada kelemahan saat lelang proyek Pipa Transmisi Ruas Cirebon-Semarang pada 14 tahun silam itu. Batasan kelemahannya, saat lelang tidak ada batas terminasi. “Masa 14 tahun masih dibiarkan. Mestinya ke depan melalui kajian, mesti ada batasan waktu. siapa pemenang lelang mesti dibatasi,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Gas Bumi Sentot Harijady mengatakan akan dilakukan kajian supply and demand, berdasarkan tekno ekonomi. Nantinya kajian akan melibatkan stakeholder terkait kementerian ESDM, Dirjen Migas, Bappenas dan semua yang berkaitan dengan proyek ini.

“Jika hasil putusan kajian memutuskan apakah dilakukan lelang, atau dikembalikan kepada pemerintah, itu nanti kita lihat hasilnya yang akan datang. Kami mengharapkan bantuan dari stakeholder terkait untuk support apa yang jadi upaya BPH MIgas terutama percepatan pembangunan ruas Cirebon-Semarang,” ujarnya.

Sebelumnya, PT Rekayasa Industri akhirnya memutuskan mundur dari proyek pipa transmisi gas ruas Cirebon-Semarang setelah memenangkan lelang sejak 14 tahun lalu, yakni pada 2006. Perusahaan memutuskan mundur karena nilai keekonomian proyek sudah tak sesuai lagi dengan kondisi saat ini.

SVP Corporate Secretary & Legal Rekind Edy Sutrisman mengatakan biaya angkut (toll fee) yang ditetapkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sebesar US$ 0,36 per MMBTU pada 2006 silam dinilai sudah tidak layak (feasible) untuk dijalankan saat ini.

“Karena keekonomiannya sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini. Harga toll fee US$ 0,36 per MMBTU yang kami tawarkan di tahun 2006, 14 tahun lalu, sudah sangat tidak feasible untuk dijalankan,” ujarnya.

Berdasarkan Rencana Induk tahun 2006 BPH Migas telah melelang ruas transmisi yang salah satunya adalah ruas Cirebon – Semarang. PT Rekayasa Industri (Rekind) ditetapkan sebagai pemenang lelang berdasarkan SK Kepala BPH Migas nomor 035/Kpts/PL/BPH Migas/Kom/III/2006 tanggal 21 Maret 2006 dengan spesifikasi penawaran lelang adalah diameter 28, panjang 255 km, kapasitas desain 350-500 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Ground breaking pun telah dilakukan pada 7 Februari 2020 lalu. Tapi sayangnya sejak ground breaking hingga saat ini tidak ada kemajuan sama sekali. (tety)

Related posts

Herbalife Bali International Triathlon 2016 Diikuti Model Internasional

Tety Polmasari

Fraksi Golkar DPR Gelar Seminar ‘Implementasi Visi Negara Kesejahteraan 2045 ‘

Tety Polmasari

Tertibkan Koperasi Pandawa, Kemenkop Lakukan Pembinaan

Tety Polmasari

Leave a Comment