9.1 C
New York
30/10/2020
Aktual Kesra

FOI Ajak Semua Pihak Cegah Kelaparan Balita di Negeri Bahari

JAKARTA (Pos Sore) — Wakil Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D, menyampaikan universitas, khususnya UGM, perlu bergerak bersama dalam hal pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk masa depan anak Indonesia yang lebih baik.

“Universitas perlu memetakan kembali peran dan bersama melibatkan masyarakat, industri, pemerintah, relawan yg peduli pada masa depan bangsa,” ujarnya mewakili Rektor UGM dalam acara Rembuk Pangan Indonesia 4.0 secara virtual bertema ‘Cegah Kelaparan di Negeri Bahari’ yang diadakan Foodbank of Indonesia (FOI) bekerjasama dengan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Kamis (15/10/2020).

Kegiatan ini sendiri diadakan dalam rangka menyambut Hari Pangan Dunia 2020 dan rangkaian dari “Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia”. Diadakannya kegiatan ini agar semua pihak perlu bergerak bersama dan berkolaborasi membantu anak-anak yang kelaparan melakukan aksi nyata menyelamatkan generasi Indonesia di masa depan.

Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia Wida Septarina

Dalam pembukaannya, Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia Wida Septarina, menyampaikan sebagai negara dengan megabiodiversitas di dunia, ternyata masih ada anak-anak Indonesia yang mengalami kelaparan. Berdasarkan Indeks Kelaparan Global 2019 (GHI Index), Indonesia masih menghadapi masalah kelaparan yang serius.

Sementara itu, pada sebuah keluarga, anak adalah kelompok yang paling rentan dalam hal distribusi makanan. Anak tergantung orang tua untuk pemenuhan gizinya, dan kebutuhan ini seringkali tergeser oleh kebutuhan keluarga yang lain.

“Menurut penelitian FOI, ada sekitar 28% persen anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari. Sementara di beberapa tempat padat penduduk, angkanya bisa mencapai 40-50% bahkan lebih,” kata Wida yang juga Founder Food of Indonesia atau Yayasan Lumbung Pangan Indonesia.

Kelaparan yang dimaksud di sini adalah kondisi perut anak yang kosong atau mempunyai sedikit uang untuk membeli jajanan sehingga dalam waktu lama akan menimbulkan masalah gizi kurang.

Dua faktor utama penyebab kelaparan pada balita adalah kemiskinan dan kurangnya
pengetahuan tentang pangan pada orang tua atau pengasuh anak. Ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 yang mengakibatkan peningkatan kelaparan pada
balita di seluruh dunia.

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), krisis sosial dan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus corona berpotensi menyebabkan hampir tujuh juta anak di dunia mengalami stunting akibat kekurangan gizi. Sementara di Indonesia banyak keluarga yang kehilangan penghasilan membuat kondisi pangan balita lebih rentan dari masa sebelumnya.

Ironisnya, ini terjadi di negeri Indonesia, negeri bahari dengan potensi kekayaan sumberdaya laut yang luar biasa. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahkan mencatat perkiraan kasar potensi laut Indonesia hingga Maret 2019 senilai Rp1.772 triliun. Angka ini sama dengan 93 persen total pendapatan dalam APBN 2018.

Founder FOI, Hendro Utomo, saat memaparkan kondisi kelaparan anak balita di Indonesia.

Untuk memperingati Hari Pangan 2020, FOI sebagaimana disampaikan Founder FOI Hendro Utomo, mengajak masyarakat untuk bergerak dalam “Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia” memerdekakan balita dari kelaparan. Saat ini, terdapat 5.800 Bunda yang bergerak bersama FOI membuka akses pangan bagi 52.000 anak bersama memerangi kelaparan pada balita dan mencapai cita-cita bangsa untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Menurut Founder FOI, Hendro Utomo, kegiatan ini dilakukan sebagai upaya FOI memerangi kelaparan pada balita untuk mencapai impian Indonesia merdeka. Ia berharap kampanye dan aksi ini dapat menginspirasi semua pihak untuk turut berkolaborasi sesuai dengan bidangnya masing-masing demi mendukung balita yang merupakan masa depan Indonesia.

Ia mengatakan, pandemi virus corona dikhawatirkan membuat anak-anak terdampak dari sisi pangan dan gizinya. Kondisi tersebut bisa terjadi karena kesulitan orang tua dalam memenuhi kebutuhan makanan imbas dari Covid-19. Keadaan ini membuat anak-anak terancam masa depannya.

“Semoga kerjasama semua pihak dapat menghantarkan Indonesia mencapai impian merdeka, Merdeka 100%”, tandas Hendro seraya berharap pemerintah dan semua pihak terkait bisa mencarikan solusi terbaik sehingga ancaman gizi atau pangan yang kurang maksimal kepada anak-anak bisa diatasi.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc, yang menjadi narasumber, menyatakan komitmen FTP UGM untuk membuka akses pangan bagi kelompok rentan khususnya balita tidak hanya dari edukasi tetapi juga melalui aksi nyata gerakan makan ikan untuk 20.000 balita bekerjasama dengan BeeJay Seafood dan FOI.

“Balita merupakan masa depan bangsa sehingga kita harus bersinergi bersama memerangi kelaparan pada balita apalagi
ditengah pandemi, khususnya dengan potensi bahari Indonesia sebagai negara
megabiodiversitas,” kata Eni.

Sementara itu, dalam kesempatan yang Direktur Jenderal PDSPKP Kementerian dan Kelautan Artati Widiarti, menuturkan
upaya KKP menjadikan ikan sebagai alternatif pangan masyarakat yang sangat tepat untuk mendukung program perbaikan gizi masyarakat dan penanganan stunting.

“Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) akan mendukung percepatan penurunan stunting sebesar 14% pada tahun 2024, Gemarikan memiliki posisi strategis dalam menjawab permasalahan nasional seperti masalah pangan, kesehatan dan kecerdasan,” ujar Artati.

Pada akhir sesi dilakukan pula demo masak mengolah bahan dasar hasil laut yang dilakukan Chef Jo dari BeeJay Chef. (tety)

Related posts

Gareth Bale: “Terima Kasih Indonesia”

Tety Polmasari

KSP Jaya Bersama Bulungan Kaltara Ditawari Rp 5 Miliar Dana Bergulir LBDB KUMKM

Tety Polmasari

Hadiri Pembukaan Maratua Jazz, Hetifah Janji Bantu Promosikan Wisata Berau

Tety Polmasari

Leave a Comment