9.1 C
New York
30/10/2020
Aktual Ekonomi Nasional

Pembangunan Sektor Pertanian Harus Manfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

JAKARTA (Pos Sore) — Aliansi Kebangsaan, Forum Rektor Indonesia, dan Harian Kompas kembali menyelenggarakan Focus Group Discussin secara virtual. Diskusi yang mengangkat topik ‘Gerakan Transformasi Menuju Ekonomi Pengetahuan (Knowledge Base Economy) ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia
ke-40.

Diskusi ini menghadirkan Ketua Forum Rektor Indonesia Prof. Arif Satria, Ketua Umum Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, dan Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Mardani H. Maming.

Adapun para nara sumber dalam diskusi yang dimoderatori Mayjen (Pur) I Dewa Putu Rai ini, yaitu Prof. Ahmad Erani Yustika, Ir. Bambang Prijambodo, Dr. Aiyen Tjoa, dan Sdr. Robert Muda Hartawan.

Dalam pengantarnya, Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, menyampaikan,
membangun ketahanan pangan nasional harus terus diupayakan utamanya melalui pembangunan sektor pertanian dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Seperti sudah dipahami bersama, ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyebabkan terjadinya pergeseran paradigma perekonomian dunia. Yang semula berbasiskan pada sumberdaya (Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan (Knowledge Based Economy).

“Pengetahuan dan teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam pertumbuhan dan kemandirian ekonomi. Kekuatan suatu bangsa diukur dari kemampuan Iptek sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing,” katanya, Jumat (16/10/2020)

Karenanya, lanjut Ketua FKPPI, ini peningkatan kapasitas iptek adalah kunci sukses meraih dayasaing yang sangat menentukan kemandirian ekonomi suatu
bangsa. Model ekonomi berbasis pengetahuan, dapat menstimulasi kreativitas dalam penerapan pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan dan lingkungan alam
dapat didayagunakan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup suatu
bangsa.

“Harus kita sadari bersama transformasi perekonomian dunia menuju ekonomi pengetahuan pasti akan terus berlanjut, sejalan dengan kemajuan teknologi. Apakah bangsa ini akan berdiam diri hanya menjadi penonton dari transformasi tersebut sehingga terus menerus menjadi konsumen teknologi atau kita juga menjadi pemain aktif di dalamya? Tentu pilihannya terpulang dari bangsa ini,” katanya.

Menurut Pontjo, seharusnya bangsa ini terus berusaha mengejar ketertinggalan
teknologi, apalagi kita sudah bertekad menjadi Negara maju pada 2045. Tanpa
penguasaan teknologi, mustahil Indonesia akan mampu membangun kemandirian
ekonomi dan bersaing di tingkat global.

Namun yang harus tetap kita jaga,
transformasi ekonomi ini tidak boleh bergerak liar namun harus tetap dalam tuntunan nilai-nilai Pancasila demi kemakmuran inklusif dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Negara-negara dengan kekayaan alam yang berlimpah sekalipun sudah menyadari bahwa suatu saat kekayaan alamnya akan habis. Sementara kekayaan intelektual manusia, apabila dikelola dengan baik, akan berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kualitas hidup suatu bangsa.

Bagaimana transformasi perekonomian pengetahuan itu berperan dalam
meningkatkan kemakmuran, barangkali kita bisa belajar dari pengalaman negara-negara lain terutama pada sektor pertanian dan pangan sebagai sektor unggulan Indonesia.

Salah satu negara yang berhasil menerapkan teknologi dalam pertaniannya adalah Ethiopia yang dulu merupakan negara miskin dan sering menanggung kelaparan. Kini, dengan bantuan Israel dan teknologinya telah menjadi surga pertanian. Bahkan, negara ini pada 2017 telah menduduki peringkat ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Global Food Security Index (GFSI)

Thailand juga bisa menjadi contoh keberhasilan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sektor pertanian dan agribisnis. Keberhasilan ini dimungkinkan karena seluruh stakeholders pertanian termasuk pemerintah dan rajanya mempunyai komitmen kuat untuk memajukan pertaniannya.

Saat ini, Thailand telah mengembangkan pertanian 4.0. yang berfokus pada penerapan teknologi tinggi terhadap komoditas-komoditas utama dan komoditas-komoditas yang mempunyai nilai terpadu seperti beberapa jenis sayuran dan buah-buahan.

Visi Thailand yang telah ditetapkan yaitu “Thailand kitchen of the world!”, bukan hanya sekedar jargon melainkan sudah menjadi gerakan masyarakat Thailand. Bahkan untuk menjangkau pasar internasional, setiap petani yang akan mengekspor produknya harus menjalankan dua standar, yaitu GAP (good agricultural practices) dan GMP (good manufacturing practices).

Kalau dicermati lebih jauh, ada perbedaan yang cukup mendasar dari dua contoh keberhasilan yang disebutkannya tadi. Kalau di Ethiopia, seluruh kegiatan pertanian merupakan investasi dan teknologi Israel. Yang terjadi kemudian adalah bukan pembangunan Ethiopia melainkan pembangunan di Ethiopia. Karenanya, kemajuan pertanian tidak sepenuhnya dinikmati oleh rakyat setempat.

Sedangkan di Thailand, pembangunan pertanian sepenuhnya dilaksanakan oleh dan untuk rakyatnya. Sehingga yang terjadi benar-benar adalah pembangunan Thailand bukan sekedar pembangunan di Thailand. Tinggal bangsa ini memilih model yang mana, pembangunan di Indonesia atau pembangunan Indonesia.

“Paradox pembangunan ini perlu saya tekankan, karena kita memang sedang mengundang investasi asing secara besar-besaran,” tandasnya. (tety)

Related posts

Tak Lantik Budi Gunawan, Presiden Melanggar Hukum

Tety Polmasari

Raja Salman: Semoga Kunjungan Ini Tingkatkan Hubungan RI – Saudi

Tety Polmasari

Kemenkop UKM Ajak Generasi Milineal Ikuti Program Wirausaha Pemula

Tety Polmasari

Leave a Comment