10.1 C
New York
01/12/2020
Aktual Kesra

Catatan di Hari Sumpah Pemuda: Media Bisa Akhiri Kelaparan pada Balita

JAKARTA (Pos Sore) — Tujuh bulan sudah pandemi Covid-19 menghantam Indonesia. Bagaimana nasib anak-anak Indonesia, terutama mereka yang berada dalam garis kemiskinan? Sudah bisa dibayangkan kehidupan mereka kian terpuruk. Jangankan mereka, anak-anak yang kehidupan sebelumnya lebih baik saja, juga merasakan dampaknya.

Dalam satu keluarga, dalam situasi seperti itu, balita adalah kelompok yang paling rentan. Mereka sangat tergantung orang tua untuk pemenuhan gizinya, dan kebutuhan ini seringkali tergeser oleh kebutuhan keluarga yang lain. Seringkali anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari.

Covid-19 yang tiba-tiba menghantam sendi-sendi kehidupan masyarakat membuat kemiskinan kian bertambah, juga meningkatnya angka pengangguran, ditambah tingkat pendidikan yang rendah membuat keluarga tak mampu berbuat banyak. Keluarga dan anak-anak yang jatuh miskin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat akibat kondisi ini.

Rasanya miris, selama 92 tahun Sumpah Pemuda diperingati masih saja kelaparan mewarnai negeri ini. Lihat saja hasil survei Foodbank of Indonesia (FOI) pada Agustus 2020 di 14 kota, sebanyak 27% balita mengalami kelaparan karena tidak makan dari pagi hingga siang hari. Bahkan di daerah padat perkotaan, angkanya bisa mencapai 50%.

Begitu persoalan yang mengemuka dalam diskusi virtual bertajuk “Catatan di Hari Sumpah Pemuda: Media Bisa Akhiri Kelaparan pada Balita” yang diinisiasi FOI, Rabu (28/10/2020). Diskusi ini dibuka oleh Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM).

Diskusi ini menghadirkan Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Lenny N Rosalin, Hendro Utomo selaku founder FOI, wartawan Kompas Andreas Maryoto, artis Shanaz Haque, dan Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia Wida Septarina.

Dalam diskusi tersebut disampaikan jika kelaparan ini terjadi dalam jangka panjang dan tidak teratasi, kemungkinan anak akan mengalami gizi buruk yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

“Melihat kondisi ini, peluang generasi yang hilang dalam situasi pandemi Covid-19 semakin terbuka, seperti yang terjadi pada rentang 1997 dan 1998 saat terjadinya krisis ekonomi,” kata Hendro Utomo.

Selaku founder FOI, kegiatan diskusi ini sebagai upaya FOI agar terus bergerak memerangi kelaparan pada balita untuk mencapai impian Indonesia merdeka. Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap media mengedukasi masyarakat bahwa balita merupakan masa depan Indonesia yang harus dipenuhi nutrisinya melalui pangan lokal.

Dikatakan, media bisa melakukan banyak hal untuk membantu anak-anak balita demi masa depan Indonesia dengan cara membangun kesadaran, mengangkat pentingnya narasi pangan yang baik untuk anak-anak dan mengubah perilaku yang menyebabkan 27% anak-anak balita kita masih menderita kelaparan.

Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Lenny N Rosalin

Sementara itu, Lenny N Rosalin mengungkapkan dalam hal tumbuh
kembang anak, berdasarkan laporan sensus penduduk pada Maret 2020 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), rokok kretek filter ternyata menjadi pengeluaran terbesar kedua di dalam keluarga jauh di atas pemenuhan protein seperti telur ayam dan daging ayam, baik di kota maupun di desa.

Artinya, sebagian besar keluarga di Indonesia lebih mementingkan pengeluaran untuk rokok dibandingkan kebutuhan gizi yang seimbang.

Lenny merinci sebagaimana yang dikutipnya dalam laporan BPS tersebut, pengeluaran rokok kretet filter untuk keluarga di perkotaan mencapai 12,2% sedangkan di desa sekitar 10,9%. Pengeluaran untuk beras di perkotaan sebesar 20,2%, sedangkan di desa sekitar 25,3%.

Pengeluaran untuk protein telur ayam di perkotaan sebesar 4,3% dan 3,7% untuk di desa, sedangkan protein daging ayam sekitar 4,1% untuk keluarga perkotaan dan 2,4% di keluarga desa. Untuk mie instan mengambil porsi pengeluaran sebesar 2,3% di masyarakat kota dan 2,1% untuk masyarakat desa.

Besarnya pengeluaran rokok yang ternyata cukup mendominasi konsumsi di dalam rumah tangga di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan kecukupan gizi belum mendapatkan perhatian di masyarakat. Karenanya, media berperan penting mengedukasi orang tua dan mengangkat isu
pemenuhan hak anak atas pangan.

“Bersinergi memerangi kelaparan balita begitu penting demi kepentingan terbaik bagi 80 juta anak Indonesia, mereka adalah masa depan kita, dan generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Wartawan Kompas, Andreas Maryoto, yang dimintai pandangannya berpendapat media mempunyai peran menjadi motor untuk mengajak masyarakat memerangi kelaparan pada balita. Media mempunyai peran penting dalam masyarakat, sebagai fungsi pendidikan, media harus secara aktif melakukan edukasi untuk mewujudkan Indonesia Merdeka dari rasa lapar.

Sesuai dengan Pasal 72 ayat (5) Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, peran media dalam perlindungan anak dilakukan melalui penyebarluasan informasi dan materi edukasi yang bermanfaat dari aspek sosial, budaya, pendidikan, agama, kesehatan anak dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

Dalam pemaparannya Wida, yang juga dosen komunikasi Universitas Indonesia, menyampaikan, sebelum pandemi Covid-19 saja Indonesia memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak (Riskesdas 2018).

Kurangnya perhatian keluarga terhadap kecukupan gizi ini menjadi salah satu penyebabnya. FOI pun berkomitmen untuk bergerak bersama membantu masyarakat dalam mencari solusi untuk penanganan permasalahan pangan dan gizi, khususnya bagi balita Indonesia.

Saat ini, terdapat 5.800 bunda yang bergerak bersama FOI membuka akses pangan bagi 52 ribu anak bersama memerangi kelaparan pada balita dan mencapai cita-cita bangsa untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Perilaku para orang tua yang merasa sudah cukup dengan memberikan uang saku juga menjadi sorotan dalam diskusi ini. Karena ketika anak jajan dengan uang saku tersebut, belum tentu makanan yang dibeli memiliki nutrisi atau kandungan gizi baik. Asupan gizi paling baik tetap sarapan di rumah. Gizi adalah hak anak sehingga orang tua tidak cukup hanya memberikan uang saku saja. (tety)

https://www.kompasiana.com/nengsari/5f9976cc8ede486268766192/catatan-di-hari-sumpah-pemuda-masih-ada-balita-yang-kelaparan

Related posts

SID Dukung Pembangunan Desa dan Kawasan Perdesaan

Tety Polmasari

BC Kalbar Gagalkan Penyelundupan Rotan Ilegal 90 Ton

Tety Polmasari

Usai Raker, Nevi Minta Menperin Relokasi Anggaran Diutamakan Pemulihan Usaha Mikro

Akhir Tanjung

Leave a Comment