10.1 C
New York
01/12/2020
Aktual Nasional

Lahir di Tahun yang Sama, Sumpah Pemuda dan Kowani Ada Keterikatan Sejarah

JAKARTA (Pos Sore) — Peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 sejatinya memiliki keterikatan sejarah dengan lahirnya Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Lahirnya Sumpah Pemuda sama tuanya dengan Kowani yang terbentuk dua bulan setelah deklarasi Sumpah Pemuda.

Dua bulan setelah peristiwa Sumpah Pemuda, tepatnya pada 22 Desember 1928, para perempuan Indonesia menginisiasi pembentukan Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia yang kemudian disingkat PPPI.

“Peristiwa besar bagi pergerakan perempuan itu kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi kesatuan pergerakan wanita Indonesia,” kata Ketua Umum KOWANI DR. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, MPd pada Webinar Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-92 dan Hari Ibu ke-92 tahun 2020, Rabu (28/10/2020).

Menurut Giwo, semangat yang terkandung dalam peristiwa Sumpah Pemuda yakni bertumpah darah satu yakni Indonesia, berbangsa satu yakni bangsa Indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatuan yakni Bahasa Indonesia juga menjadi semangat dari perjuangan para perempuan yang tergabung dalam PPPI.

Organisasi PPPI inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Kowani pada 1946 dan ditetapkan sebagai Hari Ibu pada tahun 1959. Bagi Giwo sendiri, cita-cita para pejuang perempuan tentang Ibu Bangsa yang dicetuskan sejak 1935 atau 10 tahun sebelum Indonesia merdeka tetap relevan sepanjang zaman.

“Konsep Ibu Bangsa yang menjadi cita-cita besar Kowani, memberikan tugas bagi perempuan Indonesia untuk melahirkan generasi milenial yang kreatif, inovatif dan berdaya saing. Dan ini bukanlah hal yang mudah, sehingga perlu upaya bersama untuk menjalankan mandat tersebut,” katanya.

Untuk mewujudkan perempuan sebagai Ibu Bangsa bukanlah hal yang mudah. Karena itu, perlu gotong royong dalam mewujudkan cita-cita mulia itu.

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Restu Gunawan saat memberikan keynote speaker mewakili Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menyampaikan apresiasinya terhadap Kowani yang secara konsisten memberikan inspirasi kepada perempuan, bagaimana peran ibu-ibu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kowani sudah bergerak bertahun-tahun, memiliki daya dan kekuatan untuk ikut membangun bangsa dan negara dalam situasi seperti apapun termasuk seperti sekarang ini,” kata Restu.

Ia juga mengingatkan Indonesia bukanlah sekedar nama kebudayaan. Indonesia adalah sebuah cita-cita besar yang dibangun secara bersama-sama oleh seluruh rakyat Indonesia. Dan cita-cita tersebut harus terus dinyalakan apinya dengan menumbuhkan semangat nasionalisme terutama bagi generasi muda.

Dalam kesempatan itu, Restu mengajak para perempuan Indonesia untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia pada generasi muda, baik melalui dongeng maupun media lainnya.

“Kita punya kekayaan budaya yang sangat banyak, dunia mengakuinya. Sebut saja Borobudur, berbagai tarian dan lainnya. Termasuk memory of the world, cerita-cerita dengan karakter Indonesia, ada dongeng Panji, ada wayang. Itu semua harus kembali dikenalkan kepada generasi muda kita dan saya berharap peran ibu-ibu untuk memulai gerakan tersebut,” tambah Restu.

Dengan mengenal kebudayaan Indonesia, Restu berharap kecintaan generasi muda terhadap tanah air Indonesia semakin kuat.

Dosen Sejarah Universitas Indonesia Dr Bondan Kanumoyoso, M.Hum, dalam materinya menyampaikan Sumpah Pemuda merupakan sebuah prakarsa hebat dari para pemuda zaman sebelum kemerdekaan. Semangat para pemuda tersebut tentu harus diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara terus menerus.

“Aktualisasi Sumpah Pemuda menjadi penting karena Indonesia memerlukan inisiatif yang besar dalam menghadapi globalisasi. Di mana persaingan ideologi dan politik di masa pergerakan nasional kini telah berubah menjadi persaingan inovasi antar bangsa. Tetapi Sumpah Pemuda tetap relevan untuk dijadikan sebagai sumber inspirasi,” ujar Bondan.

Addie MS, seorang musisi, yang juga tampil sebagai narasumber menyampaikan melalui musik atau lagu juga dapat menumbuhkan semangat kebangsaan dan persatuan bangsa pada generasi muda.

Menumbuhkan jiwa nasionalisme pada anak-anak bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, seperti dengan bernyanyi. Guru dan para orang tua dapat mengenalkan lirik lagu-lagu nasional, kepada anak sejak usia dini dan menjelaskan makna dari setiap lirik. (tety)

Related posts

Kubu Agung Tolak Revisi UU Pilkada

Tety Polmasari

Industri Kopi Terus Bertumbuh Ciptakan Peluang Bisnis

Tety Polmasari

Indonesia Pantas Menjadi Pusat Fashion Dunia

Tety Polmasari

Leave a Comment